Selengkapnya Tentang Right Issue BBRI

Dwi Rahma Kurnianto

Kala itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di tengah riuhnya gelombang protes akibat dwifungsi jabatan komisaris dan akademis, membuat BRI tersorot. Namun, satu hal yang mengubah sentimen negatif tersebut lahir pada hari itu, 22 Juli 2021, BRI secara resmi mengumumkan aksi korporasi right issue dengan mekanisme Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD).

Berdasarkan ringkasan RUPSLB, sebanyak 104,22 miliar suara atau mewakili 95,98% dari seluruh saham telah menyetujui terkait dengan rencana perseroan menerbitkan saham baru dengan jumlah sebanyak-banyaknya 28.677.086.000 saham dengan nilai nominal sebesar Rp 50,00 (lima puluh rupiah) per lembar saham.

Namun, melansir keterbukaan BBRI kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat rencana penerbitan 28.213.191.604 saham baru dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 3.400 per saham dengan rasio 100:23. Artinya, setiap 100 lembar saham yang dimiliki, investor punya right 23 HMETD. Harga ini jauh lebih murah dari penutupan pasar pada perdagangan sesi II kemarin (8/9) senilai Rp 3.730 per saham.

Total dana yang akan diperoleh BBRI direncanakan sebesar Rp 95,9 triliun dan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah. Right issue juga akan mengerek aset BBRI. Hingga kuartal I-2021 aset BBRI tercatat sebesar Rp 1.411 triliun. Setelah melakukan right issue diprediksi aset BBRI diperkirakan akan melonjak ke angka Rp 1.515 triliun atau kenaikan sebesar 7,37%.

Cumdate penawaran di pasar reguler dan pasar negosiasi telah dimulai pada 7 September 2021. Sebagai informasi, tanggal terakhir perdagangan saham dengan HMETD di pasar tunai pada 9 September 2021. Kemudian Tanggal distribusi HMETD adalah 10 September 2021 dan pra-pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 13 September 2021. Periode perdagangan HMETD yakni 13-22 September 2021.

Nantinya, dana yang telah dikumpulkan juga akan diperuntukan perusahaan untuk menambah modal pembentukan Holding BUMN Ultra Mikro bersama 2 BUMN lain, yakni Pegadaian dan PNM (Permodalan Nasional Madani).

Lalu bagaimana prospeknya?

Sejauh ini, BBRI hingga kuartal II 2021, (BBRI) melaporkan laba bersih sebesar Rp 12,5 triliun atau naik jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp10,2 triliun. 

Akan tetapi, jika menilik saat pra pandemi, BBRI mencatatkan laba Rp 16,2 triliun, yang artinya secara agregat kinerja BBRI masih belum maksimal, mesti menunjukan perbaikan. Usut punya usut, kinerja buruk BBRI juga dialami oleh perbankan lain, salah duanya adalah tekanan pada rasio kredit macet dan kondisi ekonomi yang belum pulih. 

Hal ini terlihat saat BBRI tipisnya kenaikan kinerja kredit secara konsolidasi, dari 922,97 triliun menjadi sebesar Rp 929,40 triliun pada semester pertama tahun ini. Meski begitu, pada laporan tahun ini semester pertama 2021 mampu membukukan laba Rp 12,54 triliun atau tumbuh sekitar 22,93% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Di samping itu, ada himbauan untuk menjaga performa non performing loan (NPL) yang sekarang berada pada kisaran 3,30% dengan coverage 254,84%. Meski memiliki fundamental yang konsisten dan menjadi bank dengan market cap terbesar di bursa, BBRI tetap harus hati-hati mengingat pandemi belum usai

 

------------------------------

Tulisan ini pertama kali tayang di nawala Big Alpha. Jika kamu ingin berlangganan nawala kami, silahkan daftar di sini

Semua orang berhak mendapatkan akses informasi keuangan. Kami bertujuan untuk terus menyampaikan informasi tanpa adanya potensi konflik kepentingan. Menganalisa sebuah isu agar mudah dipahami dan mengapa hal tersebut penting. Kontribusi dari kamu memastikan kami untuk tetap independen serta terus memproduksi konten secara inklusif. Jika kamu suka dengan tulisan ini, kamu bisa traktir kami satu gelas kopi yang biasa kamu beli.

Investasi