Sejarah Garuda Indonesia, Maskapai Kebanggaan yang Terjerat Utang Jumbo

Dika Aksara

Garuda Indonesia, kalau dengar nama ini pasti yang terbayang adalah maskapai penerbangan mahal yang nggak semua masyarakat bisa menaikinya. Ya wajar sih, dengan pelayanan yang terbaik di antara maskapai lokal lain, tak heran kalau harga tiket Garuda Indonesia juga lebih mahal. 

Garuda Indonesia pun sempat 5 tahun berturut-turut menyandang predikat World's Best Cabin Crew. Para awak kabin yang murah senyum dengan servis terbaik pasti kita temui kalau terbang dengan Garuda Indonesia. 

Berbagai prestasi maskapai ini, sayangnya, mulai redup dalam beberapa tahun terakhir. Pandemi Covid-19 hanyalah katalisator perburukan kondisi keuangan perusahaan. Utang yang memang sudah terlanjur menumpuk, angkanya semakin melejit begitu pandemi menerjang. 

Pemerintah pun sedang menyusun sejumlah strategi untuk menyelamatkan maskapai kebanggaan Indonesia ini. Big Alpha sempat mengulasnya di artikel lain. Nah di artikel ini, kita akan membahas tentang sejarah dan perjalanan panjang dari Garuda Indonesia. Seperti apa? Yuk kita simak. 

1. Penerbangan Komersial Pertama Indonesia

Dikutip dari laman resmi Garuda Indonesia, penerbangan sipil Indonesia pertama kali diinisiasi oleh Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). 

Saat itu AURI menyewakan pesawat bernama 'Indonesian Airways' kepada pemerintah Burma pada 26 Januari 1949. Peran 'Indonesian Airways' pun berakhir setelah disepakatinya Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949. 

Seluruh awak dan pesawatnya pun baru bisa kembali ke Indonesia pada 1950. Setibanya di Indonesia, semua pesawat dan fungsinya dikembalikan kepada AURI ke dalam formasi Dinas Angkutan Udara Militer.

2. Muncul Maskapai Nasional Indonesia

Dengan ditandatanganinya perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949 maka Belanda wajib menyerahkan seluruh kekayaan pemerintah Hindia Belanda kepada pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) termasuk maskapai KLM-IIB (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij- Interinsulair Bedrijf). 

KLM-IIB merupakan anak perusahaan KLM setelah mengambil alih maskapai swasta K.N.I.L.M (Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtvaart Maatschappij) yang sudah eksis sejak 1928 di area Hindia Belanda.

3. Lahirnya Garuda Indonesian Airways (GIA)

Pada 21 Desember 1949 dilaksanakan perundingan lanjutan dari hasil KMB antara pemerintah Indonesia dengan maskapai KLM mengenai berdirinya sebuah maskapai nasional. Presiden Soekarno memilih dan memutuskan 'Garuda Indonesian Airways' (GIA) sebagai nama maskapai ini.

Dalam mempersiapkan kemampuan staf udara Indonesia, maka KLM bersedia menempatkan sementara stafnya untuk tetap bertugas sekaligus melatih para staf udara Indonesia. 

Karena itulah pada masa peralihan ini Direktur Utama pertama GIA merupakan orang Belanda, Dr. E. Konijnenberg. Armada pertama GIA pertama pun merupakan peninggalan KLM-IIB.

4. Penerbangan perdana Garuda Indonesia Airways (GIA)

Sehari setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia (RI) oleh Belanda, yaitu tanggal 28 Desember 1949, dua buah pesawat Dakota (DC-3) berangkat dari bandar udara Kemayoran, Jakarta menuju Yogyakarta untuk menjemput Soekarno dibawa kembali ke Jakarta yang sekaligus menandai perpindahan kembali Ibukota RI ke Jakarta. 

Sejak saat itulah GIA terus berkembang hingga dikenal sekarang sebagai Garuda Indonesia.

Setahun kemudian, di tahun 1950, Garuda Indonesia menjadi perusahaan negara. Pada periode tersebut, Garuda Indonesia mengoperasikan armada dengan jumlah pesawat sebanyak 38 buah yang terdiri dari 22 DC-3, 8 Catalina kapal terbang, and 8 Convair 240. 

Armada Garuda Indonesia terus bertambah dan akhirnya berhasil melaksanakan penerbangan pertama kali ke Mekah membawa jemaah haji dari Indonesia pada tahun 1956. 

Tahun 1965, penerbangan pertama kali ke negara-negara di Eropa dilakukan dengan Amsterdam sebagai tujuan terakhir

5. Luncurkan logo baru

Pada 1985, Garuda Indonesia meluncurkan logo baru berupa burung modern yang terbang. Logo ini masih bertahan hingga kini. 

6. Garuda Indonesia berkembang ke masa kini

Garuda Indonesia saat ini melayani lebih dari 60 destinasi di seluruh dunia dan berbagai lokasi di Indonesia.

Garuda Indonesia Group mengoperasikan 210 armada pesawat sebagai jumlah keseluruhan dengan rata-rata usia armada dibawah lima tahun. Adapun Garuda Indonesia sebagai mainbrand saat ini mengoperasikan sebanyak 142 pesawat, sedangkan Citilink mengoperasikan sebanyak 68 armada.


 

Bisnis