Duduk Perkara Penurunan Harga Telur yang Mencekik Peternak

Fauzan Ahmad

[Waktu baca: 7 menit]

Awalnya tahun 2021 disambut para peternak ayam petelur dengan gegap gempita. Harga telur ayam yang merangkak naik hingga kisaran Rp30.000 per kilogram pada Desember 2020 bikin mereka melakukan ancang-ancang matang. Produksi terus digenjot, dengan harapan pada 2021 berkah lonjakan harga tersebut akan konsisten. 

Namun, hanya dalam kurun tak sampai sebulan, asa besar tersebut dibanting takdir sejadi-jadinya. Alih-alih naik, harga telur justru terpantau merosot habis-habisan sejak awal Januari 2021.

Seturut data Asosiasi Peternak Layer Nasional, dalam beberapa pekan terakhir rata-rata harga jual telur mentok di Rp17-18 ribu per kilogram, merosot hampir separuhnya dibanding akhir tahun lalu. Di daerah-daerah sentra produksi seperti Blitar, Jawa Timur, harga bahkan bisa jatuh sampai level Rp16.000 per kilogram. 

Itu jelas sebuah kerugian besar bila mengacu Peraturan Kementerian Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020, yang menetapkan harga jual minimum telur pada posisi Rp19-21 ribu.

Dengan asumsi kasar peternak mengalami penurunan pendapatan Rp3.000 per kilogram, dan ditarik ke data produksi rata-rata telur harian yang ada di angka 12.800 ton per hari, maka penurunan omzet yang dialami peternak telur di seluruh Indonesia ada pada rentang Rp38,4 miliar per hari.

Itu belum mencakup gambaran yang lebih utuh. Sebab, Kementerian Pertanian belakangan memproyeksi harga telur belum akan banyak bergerak setidaknya sampai pengujung Februari.

Apes-apesnya tekanan dialami peternak selama 2 bulan utuh, artinya total kerugian yang dialami para peternak telur bisa mencapai Rp2,3 triliun.

Karena itulah, dapat dimengerti bila Suparni alias Pitut sampai frustrasi. Pitut adalah salah satu peternak telur asal Magetan yang belakangan viral di media sosial lantaran membuang telur-telur ayamnya ke sawah. Video adegan tersebut ramai beredar di media sosial sejak awal pekan kemarin.

Pitut bingung, karena bahkan dengan harga yang rendah telur-telur dari peternakan ayam yang dipeliharanya tidak bisa terserap dengan lancar. Stok terlampau menumpuk, padahal di saat bersamaan daya tahan telur relatif terbatas.

Dengan suhu kamar, telur ayam hanya mampu bertahan dalam kondisi layak konsumsi selama rata-rata 10 hari. Nestapa yang dialami Pitut sera kolega-koleganya sesama pengusaha telur ayam di seluruh Indonesia bukannya tanpa pemicu.

Dari sisi hilir, tekanan terhadap harga telur muncul seiring adanya pelemahan permintaan di Jabodetabek dan Bandung. Pandemi yang semakin melumpuhkan aktivitas UMKM bikin kebutuhan produk pangan yang menggunakan telur ayam menurun.

Padahal, menurut data Asosiasi Peternak Layer Nasional, dua kawasan itu saja berkontribusi terhadap sekitar 60% permintaan telur ayam nasional. 

Di saat bersamaan, pada sisi hilir, produksi kian masif.

Peternak sebenarnya tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga. Bagaimanapun, produksi yang meningkat tidak bisa dilepaskan dari pengumuman Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian. Sejak akhir tahun lalu BKP gencar menggembar-gemborkan bahwa kebutuhan telur akan terus naik dan potensi kenaikan harga tak terelakkan.

Dalam sebuah wawancara dengan media, Kepala Bidang Harga Pangan BKP Kementan Inti Pertiwi bahkan sempat berujar jika di Jabodetabek harga telur berpotensi bertahan di kisaran Rp30.000 per kilogram. Wajar bila peternak lantas berbondong-bondong menyambut proyeksi tersebut.

Penyataan tersebut jelas patut disayangkan karena bila mau melihat konteks, semestinya BKP lebih berhati-hati lagi dalam menyatakan proyeksi. Apalagi fenomena lonjakan produksi telur sebenarnya sudah rutin dalam 10 hingga 11 tahun terakhir, mitigasi risiko mestinya juga ditingkatkan.

Pada 2019 misalnya, Badan Pusat Statistik mencatat produksi telur mencapai 4,75 juta ton. Angka ini setara 4 kali lipat lebih dibandingkan produksi pada 10 tahun sebelumnya, yang mentok di angka 909,51 ribu ton.

Laju Pertumbuhan Produksi Telur 2009-2019 (dalam ton)

Tahun

Produksi
2009 909.519,31
2010 945.635,11
2011 1.027.846,00
2012 1.139.949,00
2013 1.224.402,00
2014 1.224.311,00
2015 1.372.829,00
2016 1.485.687,93
2017 4.632.834,10
2018 4.688.120,66
2019 4.753.382,00

(sumber: Badan Pusat Statistik)

Namun nasi sudah kadung jadi bubur. Tak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Kini yang semestinya menjadi perhatian bersama, agar fenomena harga anjlok tidak terjadi lagi di masa depan, adalah berbenah.

Salah satu pembenahan itu barangkali bisa dilakukan dengan cara menguatkan sinergi antara pemerintah dan peternak guna menciptakan metode penggudangan yang memungkinkan telur bisa tersimpan lebih lama.
Tekanan akibat over-produksi semestinya tak akan sekuat sekarang Andai sektor peternakan ayam petelur di Indonesia juga dilengkapi fasilitas penggudangan yang lebih modern.

Bila disimpan di dalam kulkas atau mesin pendingin standar, telur sebenarnya bisa bertahan dalam keadaan bagus sampai 2-3 pekan.

Menurut The American Egg Board, lembaga riset dan advokasi yang berfokus membantu para peternak hewan petelur di AS, telur ayam yang disimpan dalam sebuah mesin pendingin khusus dengan suhu di bawah 0 derajat bahkan bisa bertahan sampai berbulan-bulan atau sampai setahun. 

Yang kemudian jadi kendala, fasilitas semacam ini belum ada banyak di Indonesia.

Jangankan pendingin khusus, mesin pendingin standar saja masih relatif jarang dimiliki oleh para peternak ayam petelur. Padahal, bila mampu menyimpan telur dalam keadaan baik dengan durasi lebih lama, faktor penurunan serapan tentu akan lebih bisa dimitigasi sehingga efeknya terhadap harga telur secara keseluruhan juga bisa diredam.

Namun lagi-lagi peternak juga tak bisa sepenuhnya disalahkan. Anggapan bahwa fasilitas modern bukan hal penting adalah hal yang bisa dipahami, mengingat biaya perawatan dan listrik juga akan jadi kendala.

Pada titik inilah pemerintah perlu lebih agresif menjembatani dan memberikan pemahaman baru.

Bukan berarti belum ada niatan positif sama sekali. Kementan sebelumnya memang pernah beberapa kali mengkampanyekan edukasi untuk memperkuat infrastruktur penaganan telur pascapanen di kalangan peternak ayam petelur. Kampanye semacam ini biasanya dilakukan oleh Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB-Pascapanen) Kementan. 

Namun, dengan adanya preseden buruk anjloknya harga telur dalam hampir sebulan belakangan, jelas upaya-upaya semacam itu perlu dilakukan dengan lebih intensif lagi.
 
 

Bisnis