Sampoerna (HMSP) Menutup Pabriknya, Sahamnya Bagaimana?

Tirta Prayudha

Salah satu emiten rokok terbesar di Indonesia, HM Sampoerna (HMSP), menutup pabriknya untuk sementara setelah dua pegawainya terkonfirmasi mengidap virus covid-19. Kedua karyawan tersebut meninggal dunia di rumah sakit dan membuat Sampoerna mengambil langkah tegas untuk mengkarantina ratusan karyawan lainnya.

Penutupan ini berlangsung sejak 27 April 2020, hingga masa waktu yang belum ditentukan. Lokasi pabrik Sampoerna itu sendiri berlokasi di kawasan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur. Isu penutupan pabrik ini menjadi isu kesekian yang menghantam emiten rokok unggulan yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Lalu bagaimana dengan kinerja sahamnya? Apakah ini akan berpengaruh signifikan terhadap performa perusahaan?

Untuk menjawab hal itu, kita harus membedah lebih dalam produk rokok yang dijual oleh Sampoerna. Pendapatan Sampoerna dari penjualan rokok domestik berasal dari tiga kategori, yakni Sigaret Kretek Mesin (SKM), Sigaret Kretek Tangan (SKT), dan Sigaret Putih Mesin (SPM).

Tiga jenis rokok ini diproduksi di lokasi yang berbeda-beda yang dimiliki oleh HMSP:

Fasilitas produksi Sampoerna sendiri terbagi menjadi enam lokasi.

  1. Fasilitas Produksi Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang berlokasi di Pasuruan dan Karawang Barat
  2. Fasilitas Produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) di empat lokasi, Rungkut I, Rungkut II, Kraksaan Probolinggo, dan Malang.

Jadi penghentian operasi di pabrik Rungkut hanya mencerminkan sebagian dari produksi total Sampoerna secara keseluruhan. Tidak berarti, semua pabrik Sampoerna ditutup dan berhenti beroperasi.

Dilihat dari hasil kinerja 2019 mereka, kontribusi SKT (jenis produk yang diproduksi di Rungkut) hanya berkontribusi sekitar 18% dari total penjualan Sampoerna tahun lalu. Selama tahun 2019, Sampoerna berhasil menjual 98.5 miliar batang rokok, yang mencerminkan 32.2% pangsa pasar rokok di Indonesia.

Dari 98.5 miliar batang rokok itu, penjualan SKT hanya sekitar 18.4 miliar batang. Volume penjualan SKT sendiri dalam menurun 7,9% dari 20,0 miliar batang di tahun 2018 menjadi 18,4 miliar batang pada 2019, mencerminkan penurunan pada segmen SKT secara keseluruhan.

Kinerja HMSP pun sejauh ini masih stabil. Dari hasil laporan keuangan 2019 mereka, laba bersih HMSP pada tahun 2019 mencapai Rp13,7 triliun, tumbuh 1,4% dari Rp13,5 triliun pada tahun 2018. 

Rasio-rasio keuangan HSMP masih berada di angka yang solid:

Ini juga yang menyebabkan HMSP masih masuk sebagai penghuni e-book Q4 Big Alpha karena kinerjanya masih solid. HMSP tetap konsisten mencetak laba meskipun dihantam isu kenaikan cukai rokok dan perubahan mekanisme free float yang terjadi tahun lalu.

Apalagi harga sahamnya saat ini sudah dijual jauh dari harga puncak tertingginya, akibat koreksi besar-besaran yang terjadi di bursa. Untuk yang tertarik membaca HMSP lebih jauh, kami sudah membahas emiten ini secara komprehensif di e-book tersebut, mulai dari histori perusahaan, karakteristik yang membuat emiten ini spesial, hingga tinjauan kinerja masa lalu.

Kesimpulannya, penutupan pabrik Rungkut ini merupakan tindakan preventif yang patut diacungi jempol yang menandakan Sampoerna merupakan perusahaan yang memiliki tata kelola yang baik di tengah pandemic seperti ini.

Menurut analisa kami, dampak penutupan pabrik Rungkut ini memiliki efek terbatas karena produk yang dihasilkan merupakan Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang berkontribusi minim terhadap total penjualan perusahaan secara keseluruhan.

Daripada berspekulasi, hasil sebenarnya bisa kita lihat dari laporan keuangan kuartal I yang nanti akan dikeluarkan oleh perusahaan.

Jika kinerjanya masih stabil, dan harganya makin turun akibat dihantam isu penutupan pabrik ini, bisa jadi emiten ini akan kembali kami bahas di e-book kuartalan selanjutnya.

Proses PO e-book ini sendiri sudah dibuka, anda bisa mendapatkannya di sini.
 

Investasi