Relasi dan Kompetisi Dompet Digital di Indonesia

Fauzan Ahmad

[Waktu baca: 5 menit]

Bergabungnya PT Aplikasi Karya Anak Bangsa alias Gojek dengan Tokopedia, yang melahirkan entitas campuran bernama GoTo Financials mengubah peta persaingan dompet digital di Indonesia.

Gojek, yang deretan investornya memegang sekitar 58 persen saham GoTo tercatat mengelola layanan dompet digital bernama PT Dompet Anak Bangsa alias GoPay. Status GoJek saat ini adalah entitas pengendali GoPay.  

Sementara Tokopedia yang investor-investornya memegang sekitar 42 persen saham GoTo, merupakan salah satu pemegang saham besar (meski bukan mayoritas) di PT Bumi Cakrawala Perkasa (BCP). BCP merupakan entitas induk perusahaan dompet digital lain yang juga berstatus lawan sengit GoPay, yakni PT Visionet Internasional alias OVO.

Per akhir 2020, total saham induk OVO yang dimiliki Tokopedia secara langsung berkisar 36,1 persen. Saham mayoritas induk OVO tercatat masih dimiliki Grab Holdings, kompetitor langsung GoJek dengan porsi 39,2 persen.

Adanya polarisasi antara Gojek-Tokopedia dengan Grab-OVO semula diprediksi berbagai kalangan bakal membuat Tokopedia punya kans besar angkat kaki dan menjual sahamnya di OVO. Rumor semacam ini sudah berembus sejak awal tahun.

Namun, menariknya, pemberitaan terakhir Deal Street Asia justru mengungkap potensi sebaliknya.

Tokopedia, seperti diwartakan media asal Singapura tersebut pada awal Februari, kemungkinan akan membuka lebar-lebar peluang untuk tetap mempertahankan kepemilikan terhadap sebagian sahamnya di induk OVO. 

Dua petinggi OVO yang tak disebut namanya oleh Deal Street Asia bahkan berkata opsi itu lebih mungkin terwujud. OVO, kata sumber yang sama, siap bersaing sekaligus memiliki semacam hubungan darah dengan GoPay.

“OVO selalu siap dan terbuka dengan kolaborasi untuk meningkatkan inklusi keuangan [di Indonesia],” kata sumber tersebut.

GoTo sebenarnya bukan penyambung pertama OVO dan GoPay. Sebelum resmi terbentuknya entitas tersebut, kedua dompet digital sudah punya persinggungan di PT Fintek Karya Nusantara alias Finarya, yang merupakan perusahaan pengelola platform dompet digital LinkAja.

Relasi antara OVO dan LinkAja pertama kali terjalin pada 10 November 2020. Saat itu Grab Holdings, pemegang saham mayoritas induk OVO, hadir sebagai salah satu pendana atau investor LinkAja lewat pendanaan Seri B senilai US$100 juta alias Rp 1,4 triliun lebih. Grab berstatus lead investor pada pendanaan tersebut, didampingi oleh Telkomsel, BRI Ventura Investama dan Mandiri Capital Indonesia.

Kondisi serupa pula yang kemudian memunculkan relasi antara GoPay dan LinkAja. Baru pada Maret 2021 kemarin, induk GoPay yakni GoJek masuk sebagai investor baru LinkAja juga lewat sebuah pendanaan Seri B senilai US$100 juta.

Lantas, dari timbulnya relasi yang semakin kuat antara ketiga platform dompet digital tersebut, siapa yang paling diuntungkan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut tentunya masih terlalu awal untuk disimpulkan sekarang. Per hari ini, masih belum ada manuver besar yang dimaksimalkan masing-masing pihak atas momentum yang ada.

Tetapi, bila bicara soal gambaran kasar, agaknya LinkAja adalah perusahaan yang punya prospek pertumbuhan lebih meyakinkan.

Sebagai informasi, sejak adanya persinggungan antara ketiga pihak, LinkAja telah mendapat keuntungan langsung berupa izin akses layanan mereka sebagai alat pembayaran di platform GoJek dan GoPay.

Adanya akses ke kedua platform transportasi daring bakal sangat menguntungkan startup yang sebagian besar sahamnya masih terafiliasi dengan BUMN tersebut. Betapa tidak, setidaknya per statistik akhir tahun lalu Gojek tercatat masih memiliki pengguna aktif bulanan di kisaran 38 juta orang.  

Grab, di sisi lain, jarang melaporkan pengguna aktif bulanan mereka. Namun, bila menggunakan perkiraan kasar, kemungkinan angkanya tak beda jauh dengan GoJek. Pasalnya, pada 2019 saja, perusahaan ini juga mampu mencatatkan pengguna aktif bulanan sebanyak 18 juta ketika di saat bersamaan Gojek membukukan angka 22 juta. 

Adanya prospek tambahan pengguna bejibun dari ekosistem kedua platform transportasi daring bakal menjadi modal penting bagi LinkAja untuk bersaing. Apalagi, saat ini penetrasi platform tersebut masih cenderung minim.

Sebagai informasi, menurut laporan Harian Kontan edisi Rabu (19/5/2021), statistik terkini pengguna LinkAja masih jauh tertinggal dari kompetitornya. Menempati urutan kelima, total pengguna LinkAja baru berkisar 6 juta orang. Angka tersebut kalah telak dari OVO maupun GoPay yang telah memiliki pengguna di atas 100 juta orang.

Pengguna Dompet Digital di Indonesia

 GoPay, di sisi lain, memang punya prospek penguatan posisi tidak kalah menjanjikan. Bagaimanapun jika merger Gojek-Tokopedia kelak membuka peluang penggunaan platform tersebut sebagai opsi pembayaran di Tokopedia, perusahaan bakal diuntungkan.

Hanya saja, terkait peningkatan jumlah pengguna apalagi pengguna aktif, masih terlalu awal untuk memprediksi jika perusahaan tersebut bakal menjatuhkan OVO.

Selama Tokopedia masih memegang kepemilikan sebagian saham OVO, agaknya mereka tidak akan menendang OVO sebagai opsi pembayaran di platformnya. Alih-alih, justru besar kemungkinan OVO dan GoPay kelak terlibat persaingan langsung berebut jumlah pengguna di dalam platform Tokopedia, dan kejar mengejar agaknya bakal terus terjadi.

Dibanding menebak-nebak siapa yang bisa saling mengalahkan, saat ini justru hal paling menarik adalah menanti seberapa mampu merger GoTo mengangkat OVO maupun GoPay untuk mengalahkan pamor ShopeePay.

Bukan saja menyandang gelar dompet digital dengan jumlah pengguna terbanyak, belakangan ShopeePay juga membukukan angka penetrasi pengguna baru secara signifikan.

Data Snapchart yang merekam pergerakan 5 dompet digital terbesar di Indonesia sepanjang pada tahun lalu menempatkan ShopeePay dengan tingkat penetrasi 48 persen.

Terkait volume transaksi, keunggulan Shopee atas para rival juga relatif jauh. Dengan pangsa pasar berdasarkan volume transaksi mencapai 50 persen, ShopeePay unggul telak atas OVO (23 persen), GoPay (12 persen), DANA (12 persen) juga LinkAja (3 persen).

Penetrasi dan Jumlah Transaksi Dompet Digital di Indonesia (Per Desember 2020)

(Sumber: Snapcart)

Dilematisnya, ShopeePay pun tak tinggal diam dan merelakan begitu saja predikat mereka sebagai kampiun diusik oleh para kompetitor. Layanan dompet digital yang masih terafiliasi dengan e-commerce besutan Sea Group, Shopee tersebut melakukan berbagai pendekatan untuk terus meningkatkan penetrasi mereka.

Pelan tapi pasti mereka berupaya lepas dari ketergantungan pada pasang surut jumlah transaksi di Shopee.

Mulanya ShopeePay memang murni dimaksudkan sebagai opsi pembayaran digital untuk transaksi di ecommerce Shopee. Namun kini layanan tersebut juga bisa digunakan di berbagai merchant seperti Hypermart, Yves Rocher, Flomar, Moji Indonesia hingga Papyrus Photo.

Langkah tidak diam Shopee yang terus melakukan diversifikasi bisnis juga turut membuat ShopeePay terpacu bertumbuh. Terakhir, e-commerce tersebut meluncurkan layanan pesan antar makanan ShopeePay yang juga memungkinkan transaksi dilakukan secara cashless via ShopeePay.

Seiring dibukanya tirai pengumuman merger GoTo, peta telah berubah. Namun, tetap saja kejar mengejar belum usai. Menarik untuk menanti bagaimana perubahan yang ada akan berpengaruh terhadap masa depan masing-masing perusahaan.

Tags:

Bisnis