Profil Lo Kheng Hong, Investor Saham Senior di Indonesia

Dika Aksara

[Waktu baca: 4 menit]

Kebayang nggak sih kalau kekayaan terus bertumbuh “hanya” dengan duduk manis tanpa “bekerja” layaknya karyawan kantoran? Imajinasi seperti itu barangkali bisa kita temukan dari sosok Lo Kheng Hong, pria kelahiran 1959 asal Indonesia yang selama ini tekun berinvestasi di pasar modal. 

Ia menjadi seorang investor saham penuh waktu sejak pertengahan 1990-an sampai saat ini. Sebagai seorang investor, Lo Kheng Hong kerap membanggakan dirinya bahwa ia tidak punya atasan ataupun bawahan, apalagi kantor. 

Dengan gaya investasi yang dikenal sebagai aliran value investing, Lo Kheng Hong kerap disamakan dengan Warren Buffett. Kebetulan Lo Kheng Hong juga merupakan penggemar Warren Buffet, salah satu orang terkaya di dunia yang mengelola perusahaan investasi Berkshire Hathaway.

Publik tidak mengetahui secara pasti berapa besar kekayaan yang dimiliki oleh Lo Kheng Hong. Namun, berbagai spekulasi memperkirakan asetnya mencapai lebih dari Rp2 triliun dimana sebagian besar berupa saham.

Aset sebanyak itu tidak dikumpulkannya dalam semalam. Pak Lo, begitu dia biasa disapa, menjalani hidup yang tidak mudah sejak kecil. Dia juga pekerja kantoran biasa di masa mudanya. Namun, hidupnya berubah setelah berkenalan dengan bursa saham.

Simak cerita perjalanan hidup Pak Lo dalam artikel berikut ini!

Lahir dari Keluarga Miskin

Kendati kini dikenal sebagai salah satu investor saham legendaris Indonesia, Lo Kheng Hong tidak lahir di tengah keluarga berada. Nasibnya sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan Warren Buffet yang lahir dari keluarga pejabat penting di Amerika Serikat. 

Lo Kheng Hong lahir pada 20 Februari 1959 di sebuah daerah kecil di Pontianak, Kalimantan Barat. Saat kecil, Lo Kheng Hong sudah merantau ke Jakarta mengikuti kedua orang tuanya yang pernah bekerja menjadi pemecah kelapa.  

Dalam berbagai ceramahnya, Lo Kheng Hong bercerita bahwa ukuran rumah yang ditempati bersama keluarganya dulu sangat kecil sekali yaitu 4x 10 meter. Rumah itu disebutnya sering terkena banjir. 

Lulus SMA, Lo Kheng Hong tak bisa langsung melanjutkan ke bangku perguruan tinggi karena keterbatasan biaya. Dia lalu bekerja untuk mengumpulkan biaya kuliah itu. Dia bekerja sebagai pegawai tata usaha di salah satu bank swasta yaitu Overseas Express Bank (OEB).

Pada suatu ketika, Lo Kheng Hong akhirnya bisa berkuliah di jurusan Sastra Inggris Universitas Nasional Jakarta yang saat itu disebutnya “tidak memiliki gedung sendiri”. 

Menjajal Investasi Saham

Seiring dengan pemahamannya di dunia ekonomi, Lo Kheng Hong mulai menekuni investasi saham di usia 30 tahun. Hal ini tentu berbeda dengan Warren Buffet yang sudah mengenal investasi saham sejak usia 11 tahun. 

Saham pertama yang dibeli Lo Kheng Hong adalah PT Gajah Surya Finance Tbk saat melakukan penawaran saham perdana ke publik (IPO) pada 1989 silam. Namanya masih belajar dan coba-coba, saham yang dibelinya justru ambrol harganya. Lo Kheng Hong terpaksa menjual sahamnya di harga yang lebih rendah. 

Namun hal itu tidak membuat Lo Khong Hong patah arang. Ia justru semakin semangat mempelajari pasar modal dan mencari tahu bagaimana berinvestasi saham yang benar. Dia kerap membaca buku mengenai Warren Buffet sebagai bagian dari upayanya belajar saham.
Berhenti Kerja Demi Fokus Investasi Saham

Setelah bekerja selama 10 tahun di OEB, Lo Kheng Hong mendapatkan tawaran untuk bekerja di bank lain yaitu Bank Ekonomi. Di bank ini, Lo Kheng Hong sempat menjabat sebagai kepala cabang. Gajinya naik dan sebagian gajinya diinvestasikan di saham.

Bekerja di Bank Ekonomi selama enam tahun sampai 1996, Lo Kheng Hong mengambil sebuah keputusan penting dalam hidupnya: resign atau berhenti dari pekerjaannya lalu memutuskan menjadi investor saham penuh waktu.

Pada tahun tersebut, Lo Kheng Hong memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk bisa fokus berinvestasi saham. Waktu yang lebih luang membuat Lo Kheng Hong bisa fokus memantau pergerakan pasar modal. 
Saham UNTR dan MBAI Melejitkan Kekayaan Lo Kheng Hong

Dari seluruh saham yang dimilikinya, setidaknya ada dua saham yang mempunyai cerita tersendiri bagi Lo Kheng Hong. Keduanya adalah saham United Tractor Tbk (UNTR) dan Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI). 

Saham UNTR dibelinya pertama kali pada 1998. Kalau diingat-ingat, tahun 1998 terjadi krisis moneter yang membuat banyak perusahaan terdampak keuangannya. Harga saham pun banyak berjatuhan. Hal ini membuat Lo Kheng Hong membeli saham UNTR dengan seluruh modal yang dimilikinya. 

Saat itu, harga UNTR tercatat Rp 250 per lembar. Lo Kheng Hong membeli saham UNTR hingga 6 juta lembar saham. Jika ditotal, maka Lo Kheng Hong mengeluarkan modal Rp1,5 miliar untuk membeli saham UNTR. 

Selang 6 tahun kemudian, harga saham UNTR kembali bangkit. Lo Kheng Hong diketahui menjual sahamnya di harga Rp 15.000 per lembar. Artinya, Lo Kheng Hong memperoleh hasil penjualan hingga Rp 90 miliar dengan keuntungan hingga 5.900 persen!

Saham kedua yang berkontribusi besar terhadap kekayaan Lo Kheng Hong adalah MBAI. Ia membeli saham MBAI pada 2005 dengan harga Rp 250 per lembarnya. Lo Kheng Hong merogoh kocek sampai Rp 1,55 miliar demi membeli 6,2 juta saham MBAI. 

Enam tahun berselang, yakni pada 2011, Lo Kheng Hong menjual kembali saham MBAI di harga Rp 31.500 per lembar. Ia mengantongi Rp 195,8 miliar dari penjualan saham MBAI ini, dengan keuntungan mencapai 12.500 persen. Dahsyat!

Memilih Investasi Bukan Trading

Dari kisah pembelian saham UNTR dan MBAI di atas kita bisa memahami bahwa Lo Kheng Hong lebih memilih berinvestasi saham alih-alih trading dengan keuntungan jangka pendek. Lo Kheng Hong sempat  bilang bahwa menjadi trader cenderung membuat stres karena perlu memantau pergerakan saham secara harian atau bahkan jam. 

Tak hanya itu, trading saham juga harus  sensitif dengan segala bentuk sentimen pasar, termasuk berbagai gosip atau pemberitaan yang menyangkut emiten saham. Sebagai value investor, Lo Kheng Hong cenderung lebih banyak memperhatikan aspek fundamental.

Dari kisah Lo Kheng Hong ini kita bisa melihat bagaimana ketekunan dan kegigihannya dalam berinvestasi saham. Ia pun tidak sembarang melakukan investasi, namun dengan analisis yang mendalam. Keberhasilan Lo Kheng Hong juga dibangun dengan jalan yang cukup  panjang, tidak instan.

Sampai artikel ini ditulis, Lo Kheng Hong masih aktif berinvestasi saham. Saham apa saja yang dibeli oleh Lo Kheng Hong? Kami mengupas sejumlah saham yang pernah dikoleksinya dalam artikel berikut ini: Membedah 5 Saham (GJTL, PTRO, MBSS, PNLF, BMTR) Pilihan Lo Kheng Hong


 

Tags:

Investasi