Padamnya Gairah Emisi Surat Utang Sektor Multifinance

Berkah Rio

Dari tahun ke tahun, kelompok perusahaan sektor pembiayaan atau multifinance selalu menjadi sektor korporasi yang menerbitkan paling banyak surat utang. Bahkan, selama masa pandemi pun, sektor ini masih unggul dalam hal emisi surat utang baru.

Meskipun demikian, kondisi pandemi telah memukul bisnis sektor ini dengan cukup dalam, sehingga realisasi emisi surat utangnya pun tidak lagi setinggi sebelumnya. 

Sepinya permintaan terhadap jasa pembiayaan akibat penurunan daya beli dan lesunya permintaan terhadap barang konsumsi bernilai tinggi seperti kendaraan bermotor dan alat-alat elektronik menyebabkan perputaran likuiditas di multifinance pun terbatas.

Alhasil, kelompok korporasi ini tidak membutuhan tambahan likuiditas dari penerbitan surat utang untuk menopang bisnisnya. Beberapa korporasi memutuskan untuk melunasi surat utangnya yang jatuh tempo selama periode pandemi, padahal biasanya mereka melakukan pembiayaan kembali atau refinancing.

Langkah itu ditempuh guna mengurangi beban keuangan yang harus ditanggung perusahaan selama periode resesi. Dengan melunasi sebagian surat utang, setidaknya beban pembayaran kupon secara rutin menjadi berkurang.

Di tengah lesunya pendapatan dari bisnis pembiayaan, langkah efisiensi tentu menjadi keharusan jika perusahaan tidak ingin buru-buru gulung tikar.

Pada awal tahun ini, sektor multifinance sejatinya sempat bangkit seiring dengan proyeksi bahwa ekonomi tahun ini bakal pulih. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan vaksinasi di seluruh dunia dan di Indonesia. Pembatasan mobilitas juga perlahan dilonggarkan.

Namun, memasuki paruh kedua tahun ini, kondisi mendadak berubah dan memupus sebagian besar optimisme pelaku usaha. Perkembangan kondisi ini pun menciptakan tanda tanya baru terkait perkembangan emisi surat utang korporasi sektor multifinance ini.

 

Pemasok Setia Surat Utang

Pasar surat utang korporasi tentu memiliki kelompok investor yang menjadi peminatnya sendiri. Karakter instrumen ini lebih berisiko dibandingkan dengan surat utang negara, tetapi tingkat imbal hasilnya pun lebih tinggi. Selain itu, obligasi juga membayarkan bunga rutin sepanjang tahun.

Dengan berinvestasi di obligasi korporasi, investor dapat menikmati return yang lebih tinggi dan lebih pasti. Para manajer investasi juga banyak yang mengincar instrumen ini guna meracik instrumen reksa dana yang dapat memberikan keuntungan optimal bagi para investor mereka.

Oleh karena itu, ketersediaan instrumen ini di pasar tentu sangat dibutuhkan. Namun, tidak banyak korporasi yang cukup mampu untuk menerbitkan instrumen ini.

Sebab, sama halnya dengan melakukan initial public offering (IPO) di pasar saham, menerbitkan surat utang pun menuntut keterbukaan informasi dari korporasi dan penerapan good corporate governance (GCG) yang tinggi.

Nah, di antara sektor-sektor korporasi yang ada di Indonesia, sektor finansial menjadi sektor bisnis yang secara model bisnisnya sangat membutuhkan dukungan dana eksternal yang likuid. Di antara sektor finansial ini, yang paling getol menerbitkan surat utang adalah bank dan multifinance.

Dengan demikian, kesinambungan penerbitan surat utang oleh perusahaan-perusahaan finansial ini sebenarnya saling menguntungkan, baik bagi perusahaan tersebut selaku emiten, maupun bagi investor selaku pembeli surat utang.

Ketika terjadi keterbatasan pasokan surat utang di pasar akibat lesunya kinerja bisnis sektor ini, tentu investor pun mengalami keterbatasan instrumen yang dapat diinvestasikan untuk mengoptimalkan keuntungan mereka.

Berdasarkan data PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo, emisi surat utang korporasi oleh multifinance dari tahun ke tahun selalu konsisten di atas Rp20 triliun, setidaknya dalam 4 tahun terakhir sebelum pandemi. Namun, tahun lalu emisi sektor ini tinggal Rp14,3 triliun.

Sementara itu, di sektor perbankan tren penurunan bahkan lebih dalam lagi. Setelah sempat menembus emisi di atas Rp50 triliun pada 2017, pada tahun-tahun selanjutnya emisi perbankan tinggal kurang dari Rp30 triliun. Bahkan, pada 2020 lalu hanya Rp7,89 triliun.

Berikut ini perkembangan emisi surat utang korporasi dalam beberapa tahun terakhir berdasarkan sektornya:

Jika mengacu pada data tersebut, terlihat bahwa meskipun tidak selalu menjadi sektor dengan tingkat emisi tertinggi, tetapi multifinance selalu konsisten menerbitkan surat utang dengan nilai tinggi setiap tahun.

Puncak emisi surat utang korporasi terjadi pada 2017 lalu dengan total nilai emisi baru dalam setahun mencapai Rp185 triliun.

Pada 2020, nilai emisi surat utang korporasi hanya mencapai separuh dari capaian 2017 tersebut. Sementara itu, pada paruh pertama 2021, nilai emisi baru pun belum seberapa dan belum mencapai separuh dari capaian 2020 lalu.

Tahun lalu, saat banyak sektor mengalami penurunan emisi. Sementara itu, sektor multifinance pun tampil menjadi juara. Pada paruh pertama tahun ini, tren yang sama pun masih berlanjut.

Selain itu, dari sisi jumlah perusahaan penerbit surat utang atau emiten pun, sektor multifinance menjadi salah satu yang tertinggi, tepatnya di urutan kedua setelah perbankan.

Pada 2020 lalu, total ada 33 bank yang menjadi penerbit surat utang, sedangkan multifinance 19 perusahaan. Pada paruh pertama tahun ini, sebagian dari perusahaan-perusahaan di kedua sektor ini melunasi surat utangnya dan tidak lagi menerbitkan surat utang baru.

Alhasil, kini jumlah bank yang masih menerbitkan surat utang mencapai 30 emiten, sedangkan multifinance 18 emiten. Adapun, total korporasi yang menerbitkan surat utang di Indonesia saat ini hanya 141 perusahaan.

Kondisi pandemi yang berlarut-larut saat ini telah membatasi laju penerbitan surat utang korporasi. Bagi para investor, di satu sisi hal ini menyebabkan pilihan mereka menjadi terbatas. Namun, di sisi lain kondisi ini mencegah mereka dari kemungkinan salah mengambil posisi.

Kondisi krisis saat ini menyebabkan banyak korporasi berada di jurang bahaya. Oleh karena itu, banyak juga surat utang yang terancam gagal bayar. Dalam kondisi ini, kebanyakan investor cenderung lebih menghindari membeli surat utang korporasi.

Lagi pula, pada saat yang sama, pemerintah sedang menerbitkan surat utang negara secara besar-besaran untuk menambal defisit anggaran. Instrumen surat utang negara ini jauh lebih aman, sehingga cenderung lebih dipilih oleh investor dalam kondisi saat ini.

Artinya, minimnya emisi surat utang korporasi pada tahun lalu dan awal tahun ini pun sejatinya mencerminkan keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar.

Bagi investor, pasokan surat utang baru masih berlimpah dari negara sehingga mereka tidak sepenuhnya kekurangan instrumen sebagai sasaran investasi. Meskipun tentu kuponnya tidak setinggi surat utang korporasi, instrumen tersebut jauh lebih aman.

Namun, bagaimana dengan sisa tahun ini?

 

Layu Sebelum Berkembang?

Sebelum Juni 2021, banyak pihak optimistis terhadap prospek pemulihan ekonomi tahun ini. Namun, selepas Lebaran, peningkatan kasus baru Covid-19, terutama yang dipicu oleh varian Delta telah meruntuhkan optimisme tersebut. Apalagi, pemerintah kini kembali membatasi mobilitas masyarakat.

Sebenarnya, sudah cukup banyak korporasi yang sudah memiliki rencana untuk menerbitkan surat utang baru pada paruh kedua tahun ini.

Setelah menahan diri tahun lalu akibat resesi ekonomi, para pelaku usaha memandang tahun ini menjadi kesempatan yang baik untuk memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi dengan bersiap menggalang modal dari emisi surat utang.

Peningkatan gairah korporasi ini setidaknya dapat diamati dari tingginya mandat pemeringkatan yang disampaikan korporasi kepada Pefindo. Adapun, setiap korporasi yang ingin menerbitkan surat utang, wajib melewati proses penilaian dari perusahaan pemeringkat seperti Pefindo.

Dari proses itu, setiap korporasi akan mendapatkan peringkat, baik bagi korporasi sebagai badan usaha, maupun bagi surat utangnya. Dengan demikian, adanya mandat pemeringkatan mencerminkan adanya rencana emisi surat utang dari korporasi.

Berdasarkan data Pefindo, per 30 Juni 2021, mandat pemeringkatan surat utang korporasi baru mencapai Rp75,6 triliun dari 42 perusahaan. Ini jelas sangat tinggi dan jika semuanya terealisasi, tentu bakal melampaui total nilai emisi tahun lalu.

Berikut ini data mandat pemeringkatan per sektor korporasi:

Dari data tersebut, lagi-lagi terlihat bahwa sektor multifinance pun kembali menjadi sektor korporasi dengan tingkat rencana emisi di atas rata-rata, yakni Rp9,3 triliun. Sementara itu, sektor perbankan yang biasanya menjadi saingan terdekat multifinance hanya akan menerbitkan Rp3,2 triliun.

Tentu saja, data ini masih bersifat sementara. Selain itu, mayoritas mandat diberikan pada saat kondisi pandemi belum separah sekarang. Kemungkinan besar, beberapa korporasi akan membatalkan rencana emisinya atau menundanya lebih lama dari rencana semula.

Meskipun demikian, tentu tetap terbuka pula kemungkinan akan adanya korporasi baru lain yang akan tetap menyampaikan mandat baru untuk pemeringkatan dan tetap akan melanjutkan emisi surat utang. Tujuannya bisa saja untuk refinancing ataupun ekspansi, tergantung analisa ekonomi masing-masing korporasi.

 

Menakar Potensi Kebangkitan Multifinance

Pandemi jelas memukul kinerja multifinance dengan cukup dalam. Sektor otomotif yang menjadi andalan kebanyakan multifinance sedang sangat tertekan dua tahun terakhir akibat penurunan daya beli dan pembatasan mobilitas.

Pada awal tahun ini, kinerja industri multifinance secara umum masih tertekan. Namun, menariknya kinerja labanya sudah sangat membaik.

Total pendapatan per Mei 2021 tercatat Rp38,77 triliun, turun 17% yoy dari Mei 2020 yang senilai Rp46,72 triliun. Hanya saja, beban operasionalnya juga turun tajam 24,3% yoy menjadi Rp32,1 triliun. Alhasil, laba bersihnya melonjak 95% yoy menjadi Rp5,2 triliun dari Rp2,7 triliun.

Turunnya pendapatan tidak terlepas dari turunnya piutang pembiayaan sebesar 13,7% yoy menjadi Rp362,71 triliun pada Mei 2021. Selain itu, beban restrukturisasi pembiayaan multifinance pun masih tinggi, yakni mencapai Rp203,1 triliun per 7 Juni 2021 dari 5,12 juta kontrak.

Namun, banyaknya insentif yang diberikan pemerintah tahun ini, termasuk di sektor otomotif, sangat membantu pemulihan bisnis multifinance. Sejumlah perusahaan di sektor ini pun mulai gencar melancarkan sejumlah strategi untuk mempertahankan nasabah setianya.

Jika dibandingkan dengan sektor perbankan, kondisi bisnis multifinance cenderung lebih ketat. Bank mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkannya kepada para peminjam, sedangkan multifinance umumnya mengandalkan dana sendiri untuk dipinjamkan.

Sumber dana multifinance biasanya berasal dari modal sendiri, pinjaman bank, atau dari penerbitan surat utang. Saat ini, industri perbankan sedang kelebihan likuiditas akibat lesunya permintaan kredit, sedangkan tabungan masyarakat meningkat. Oleh karena itu, tampaknya bank belum terdesak untuk segera menerbitkan surat utang.

Ini berbeda dengan multifinance. Jika kondisi ekonomi benar-benar membaik dan permintaan pembiayaan kembali tinggi, maka multifinance pun bakal kembali menerbitkan surat utang untuk memenuhi kebutuhan likuiditasnya.

Hanya saja, dengan kondisi pandemi yang kini tampak memburuk, prospek pemulihan bisnis multifinance tampaknya harus bergeser lebih lama lagi. Seiring dengan itu, emisi surat utang dari sektor ini pun masih akan tersendat.

Bisnis