Nestapa Pekerja: PPKM Darurat dan Risiko Terpapar Covid-19

Ahsan Ridhoi

Tak semua orang mampu menikmati kemewahan bekerja dari rumah di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Randy (20), seorang barista, adalah salah satunya. Pekerjaannya tak memungkinkan bekerja dari rumah. Kedai tempatnya bekerja tetap buka untuk melayani pesanan secara daring dan sejumlah ketentuan khusus lainnya, praktik diizinkan oleh pemerintah. 

Senin pagi itu, Randy sudah tiba di Pasar Modern Santa, Jakarta Selatan. Kedai tempatnya bekerja berada di lantai dua pasar. Namanya Kotaci. Ia satu-satunya barista di tempat itu. Usaha kecil dan baru mulai, membuat pemiliknya belum mampu merekrut pegawai lebih banyak. Si Bos pun biasanya ikut menjaga kedai tersebut. 

“Nanti agak siang dia datang. Gue buka dulu,” kata Randy saat saya mampir ke kedainya sekitar pukul 11 siang.

Randy sedang duduk sambil memainkan gawai seorang diri ketika saya datang. Hanya ada musik yang mengalun kencang dari pengeras suara portable. Ia tersenyum ketika melihat kedatangan saya dari pintu kaca yang langsung mengarah ke lorong jalan blok pasar. Kami sudah saling mengenal. Sebelum PPKM Darurat, saat pemerintah masih mengizinkan makan di tempat, beberapa kali saya ke sana untuk ngopi setelah mendapat rekomendasi dari salah.

Sudah tiga jam sejak Randy membuka kedai, tak satupun pesanan masuk. Ia bosan, tapi tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Kalau bisa memilih, ia tentu lebih senang berada di rumah. Dirinya tak khawatir akan terinfeksi Covid-19 dan menjadi pembawa virus untuk keluarga. Ia mengaku iri kepada saya dan orang-orang lain yang bisa bekerja dari rumah. 

“Ya, sudah jalani aja deh. Masih untung punya kerja,” katanya.

Kotaci adalah tempat Randy pertama kali bekerja. Setelah lulus SMA, ia memilih untuk langsung bekerja. Alasan ekonomi membuatnya tak melanjutkan kuliah. Ia berusaha mencari kerja, termasuk ke beberapa kedai kopi lain. Sayangnya, tak banyak yang percaya pada lulusan SMA, terlebih tanpa pengalaman.

Sampai akhirnya, seorang kawannya merekomendasikan Randy untuk bekerja di Kotaci. Ia kemudian bertemu dengan Ami, si pemilik kedai, yang menurutnya sangat ramah dan seperti kakak sendiri. Tak ada syarat macam-macam dari Ami kepadanya, asal jujur dan mau serius bekerja. Tanpa berpikir panjang ia menyanggupi hal itu dan langsung mulai bekerja keesokan harinya.

Tujuh bulan sudah Randy bekerja di Kotaci. Ia pun merasakan betapa sulitnya menjalankan bisnis restoran di tengah pandemi, apalagi berlokasi di dalam pasar. Kondisinya mengenaskan, tak banyak orang yang berani datang ke pasar. Sebagai kedai baru, menurutnya, sulit mengandalkan aplikasi daring.

“Sempat kepikiran, jangan-jangan nanti Kotaci gak bisa lanjut. Terus gue nganggur lagi,” katanya.

Kotaci masih bertahan, meskipun dalam keadaan susah. Hari itu saja, selama lebih kurang dua jam saya berbincang dengan Randy, hanya ada satu pesanan daring yang masuk. Untuk sebotol kopi susu 500 ml seharga Rp 45 ribu. Sementara, listrik tetap menyala dan mesin tetap beroperasi. Dalam hitungan sederhana saja, sudah pasti kedai tersebut merugi. 

Namun, Randy tetap tabah. Ia tetap datang selama lima hari dalam seminggu untuk bekerja, termasuk hari itu, ketika banyak orang sedang berada di rumah untuk menghindari Covid-19. Butuh lebih kurang setengah jam dari rumahnya di Ciledug menggunakan TransJakarta untuk sampai ke Pasar Modern Santa. Masker dobel dan hand sanitizer jadi senjata utamanya menjaga diri dari Covid-19.

“Kadang gue kesel kalau ada yang ambil pesanan tapi lepas masker. Kayak kebal aja,” katanya.

Kegeraman serupa juga disampaikan Lilis (31), bukan nama sebenarnya, seorang penjaga minimarket di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Meskipun sudah terpampang jelas imbauan kepada setiap pengunjung untuk mengenakan masker ketika berbelanja. Menurutnya, masih ada saja yang melanggar. Ia berulang kali mengingatkan dengan baik konsumen macam itu, tapi kerap kali peringatan itu mereka abaikan dengan dalih “maskernya ketinggalan.”

Lilis paham betul risiko paparan Covid-19. Ia pun selalu was-was terinfeksi dan menularkan pada anggota keluarganya di rumah. Ia punya seorang putri yang kini berumur 6 tahun. Suaminya yang berprofesi sebagai supir ojek daring, sudah merelakan mengurangi jam bekerja demi menjaga kesehatan putrinya. Lilis yang praktis dianggap lebih aman lantaran bekerja dalam ruangan, kini menjadi tumpuan keluarga di tengah himpitan ekonomi akibat pandemi.

Pengen rasanya ngomong, ‘beli aja masker kalau ketinggalan, pak’, tapi enggak enak,” kata Lilis saat saya menemuinya Selasa sore itu usai ia menyelesaikan sifnya.

Jam operasional tempatnya bekerja memang dipangkas, tapi pekerjaannya tetap sama. Ia sadar bahwa kondisinya lebih sepi pembeli, tapi tetap saja ada orang hilir mudik datang berbelanja ke gerainya. Setiap orang itu tentu berisiko menularkan Covid-19 pada Lilis. Terlebih, menurutnya, akhir-akhir ini semakin banyak varian baru Covid-19.

Tak seperti Randy, setiap hari Lilis pergi bekerja menggunakan motor pribadi dari rumah kontrakannya di daerah Pondok Labu. Ia bersyukur untuk hal itu, karena setidaknya tak perlu takut terinfeksi Covid-19 saat perjalanan pergi dan pulang kerja. Meskipun kekhawatiran tak pernah reda di dalam dirinya. Toh, menurutnya, mereka yang selalu di rumah saja masih bisa terinfeksi Covid-19.

Saat pemerintah memutuskan memberi bantuan sosial bagi masyarakat, Lilis sempat berharap untuk ambil cuti kerja dan memanfaatkan bantuan tersebut untuk kehidupan sehari-hari. Demi anaknya terhindar dari Covid-19 dan mendampinginya belajar dari rumah. Namun, ternyata nominal tersebut tak sebesar bayangannya. Ia pun mengurungkan niat tersebut.

Pemerintah menganggarkan Rp 148,27 triliun untuk bantuan sosial pada 2021. Salah duanya berupa bantuan sembako dan tunai. Sampai 18 Juni telah terealisasi Rp 64,9 triliun atau setara 43,8 persen dari pagu anggaran. Pada masa PPKM Darurat ini, pemerintah menambah anggaran Rp 6 triliun untuk bantuan tunai kepada 10 juta keluarga penerima manfaat (KPM).  

 “Kalau mau pergi kerja, sedih lihat anak. Aman gak ya dia di rumah,” kata Lilis.

Pada waktu normal, Lilis menitipkan anaknya ke tetangga ketika ia dan suaminya sedang bekerja. Namun, sejak pandemi mereka bergiliran menjaga anaknya di rumah. Suaminya akan pergi mencari penumpang jika Lilis sudah pulang. Untungnya pekerjaan sebagai ojek daring punya waktu yang fleksibel.

Saat saya menyinggung perihal kebijakan tempatnya bekerja selama pandemi terhadap pekerja, Lilis menyebut aman-aman saja. Sempat ada pengurangan gaji, tapi tak lama. Hanya lebih kurang tiga bulan pada tahun lalu.

“Kapan sih Corona ini udahan, biar normal lagi gitu lho. Bosen juga begini terus,” katanya, lalu tersenyum getir.   

Wujud Nyata Tekanan Ganda Covid-19

Kisah Randy dan Lilis adalah secuil gambaran dampak Covid-19 terhadap ekonomi dan kesehatan masyarakat. Mereka adalah yang terhimpit di antara tekanan ganda tersebut. Di satu sisi ingin selamat dari Covid-19, tapi sekaligus terpaksa tetap bekerja keluar rumah demi menyambung hidup meski penuh risiko.

Secara ekonomi, Covid-19 telah membuat Indonesia mengalami resesi. Sejak kuartal II tahun lalu, pertumbuhan ekonomi dalam negeri terus minus meskipun semakin membaik. Pada kuartal I 2020, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi tumbuh minus 0,74 persen secara tahunan (YoY).

Harapan sempat muncul untuk pertumbuhan selama kuartal II-2021 setelah kegiatan ekonomi sempat berangsur pulih dan berkat dorongan belanja pemerintah. Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan ekonomi kuartal II-2021 akan tumbuh 7 persen (YoY).

Namun, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pada Senin (5/7) lalu pesimis pertumbuhan ekonomi kuartal-II 2021 akan mencapai 7 persen (YoY). Tingginya gelombang Covid-19 dalam sebulan ke belakang ditambah penerapan PPKM Darurat, menurutnya, akan membuat ekonomi tumbuh lebih rendah. Ia meramal pertumbuhan di kisaran 6 persen (YoY).

Selama kontraksi ekonomi akibat Covid-19, bisnis makan dan minum termasuk restoran seperti tempat Randy bekerja, adalah salah satu yang terdampak dalam. BPS mencatat pada kuartal-I 2021 lapangan usaha penyedia makan dan minum terkontraksi 4,94% (YoY). Hanya naik sedikit dibandingkan kuartal-IV 2020 yang terkontraksi 5,95 persen.

Tekanan serupa pada bisnis ritel minimarket dan supermarket tempat Lilis bekerja. Merujuk kepada data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), pertumbuhan usaha minimarket kontraksi sampai 4 persen (YoY) pada kuartal-I 2021. Untuk segmen supermarket bahkan terkontraksi 10 persen (YoY) pada periode sama.

Ketua APRINDO Roy N Mandey pada 17 Mei 2021 lalu pun menyatakan terdapat 90 gerai ritel modern tutup sepanjang Januari-Maret tahun ini. Sebanyak dua pertiga di antaranya adalah minimarket.   

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi kinerja negative bisnis makan-minum dan ritel minimarket, adalah perubahan perilaku masyarakat selama pandemi Covid-19. Berdasarkan hasil survey Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang dirilis Januari 2021 lalu, kian banyak masyarakat yang tak membeli bahan pokok ke pasar dan makanan jadi ke warung atau restoran.

Sebanyak 4,84 persen rumah tangga dalam survei tersebut mengaku tak lagi membeli bahan pokok langsung ke pasar, termasuk minimarket. Lalu 53,66 persen lainnya menyatakan lebih jarang. Sementara, 16,79 persen rumah tangga mengaku tak lagi membeli makanan jadi di warung atau restoran dan 64,27 persen mengaku lebih jarang melakukannya.

Saat ini, seperti halnya Randy dan Lilis, kita semua berharap pandemi lekas berlalu. Namun, fakta statistik belum menunjukkan tanda kasus melandai. Berdasarkan data pemerintah, positif Covid-19 bertambah 34.379 per 7 Juli 2021, sehingga total menjadi 2.379.397 kasus sejak 2 Maret 2020.

Sampai nanti pandemi berlalu, dan itu hanya bisa dicapai dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan vaksinasi, orang-orang seperti Randy dan Lilis akan terus terhimpit. Sementara kita, bisa jadi hanya menunggu giliran untuk masuk dalam himpitan tersebut selama pandemi belum teratasi.

Ekonomi