Nasib Buruk IHSG

We have a bad year. At least up until now.

IHSG menunjukkan kinerja terburuk dalam sembilan tahun terakhir. Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, pembukaan tahun tidak menguntungkan untuk bursa saham kita.

Hal ini menjadi anomali karena bulan Januari biasanya memberikan imbal hasil yang cukup baik bagi para investor saham. Selama ini, bulan Januari identik dengan optimisme investor menghadapi tahun yang baru dan juga bersiap dalam menyambut hasil dari laporan keuangan penuh tahun sebelumnya. Fenomena ini sering disebut dengan January Effect.

Tapi tidak dengan tahun ini.

Awal tahun 2020, IHSG malah terkoreksi cukup dalam hampir -3%, dan dilanjutkan dengan pelemahan yang beruntun di bulan Februari. Hingga saat tulisan ini dibuat (28 Februari 2020), index sudah melemah hampir -15%, yang menjadikan bursa Indonesia sebagai salah satu bursa dengan kinerja terburuk di kawasan Asia Pasifik.

Sebenarnya kondisi IHSG yang lemah ini sudah berlangsung selama dua tahun terakhir, di mana bursa kita berada dalam kondisi konsolidasi sejak tahun 2018 yang lalu. Level all time high IHSG di 6.689,29 yang terjadi di tahun Februari 2018 pun belum kembali terlewati hingga sekarang.

Dan jika anda baru memulai investasi saham sejak dua tahun terakhir, portfolio anda pasti tidak dalam kondisi yang memuaskan.

Ok, so what now?

Dengan terpuruknya bursa kita, otomatis kinerja harga saham-saham yang menjadi komponen penyusun di dalamnya juga akan ikut melemah.

Perlu diingat, IHSG merupakan respresentasi dari rata-rata kinerja saham yang listing di bursa. Akan sangat wajar jika saham-saham yang kita pegang saat ini juga mengalami penurunan yang bisa dibilang cukup signifikan.

Ini juga dialami oleh manajer investasi yang profesional sekalipun, yang bisa terlihat dari imbal hasil reksa dana saham yang tersedia di pasar. Hampir semua dari reksa dana tersebut, yang notabene dikelola oleh institusi dan manajer investasi profesional, memberikan imbal hasil yang negatif di awal tahun ini.

Dari tiga ratus merk reksa dana saham yang tersedia, hanya sekitar dua puluh reksa dana yang memiliki kinerja positif lebih dari 10% dalam tiga tahun. (sumber: Bareksa/26/02/2020).

Okay, that’s to calm you down as an individual investor.

Lalu apakah penurunan IHSG ini sudah maksimal?

Jawabannya: Tidak ada yang tau.

Seperti yang sudah kami bahas berulang kali di website, e-book, atau bahkan di media sosial kami, Big Alpha tidak ingin menjadi peramal pasar modal di mana kami melakukan prediksi di masa depan tanpa analisa yang jelas.

We never tried to time the market.

Ada basis-basis asumsi yang harus digunakan dalam menganalisa sebuah instrumen. And along the way, asumsi-asumsi tersebut bisa berubah mengikuti perkembangan ekonomi yang terjadi.

Tapi ada hal yang menarik untuk disimak yang ingin kami beritahukan di sini dan menjadi pertimbangan kita semua. Kondisi perekonomian Amerika Serikat saat ini sudah menimbulkan gejala-gejala memuncak yang sudah di luar batas rasionalitas.

Perlu diketahui, saat ini Amerika Serikat sedang berada dalam kondisi ekonomi terbaik mereka, setidaknya dilihat dari kondisi pasar modal mereka.

The US is in their longest bull market, ever. Kondisi rally ini sudah dimulai dari tahun 2009 dan bertahan hingga sekarang. Hampir sebelas tahun.

Index bursa US, (baik itu Dow Jones, Nasdaq dan S&P) pun terus memecah rekor all time high mereka berkali-kali.

Rekor-rekor itu dibumbui oleh IPO perusahaan-perusahaan teknologi yang secara keuangan belum menunjukkan kinerja yang positif. Mulai dari Uber, Lyft, Slack, Pinterest hingga IPO WeWork yang belakangan harus ditunda.

Alih-alih menjaga agar ekonomi tidak overheating, Bank Sentral US (The Fed) pun tetap menjaga tingkat suku bunga rendah yang memicu orang-orang untuk mengambil risiko lebih besar di equity market.

In fact, some analysts mentioned that the market has went full retard. Harga saham yang melejit tanpa didasari oleh kinerja fundamental keuangannya menandakan bahwa euforia sedang terjadi di pasar. Valuasi gila-gilaan terjadi tanpa sokongan kinerja fundamental perusahaan tersebut.

Tapi di sisi lain, tampaknya beberapa orang yang mulai menyadari kalau US market sudah mulai overpriced dan mulai melikuidasi posisi mereka.

Kondisi-kondisi seperti ini tentu menyisakan pertanyaan: “Ada apa?”

Tidak hanya itu, salah satu indikator lain yang bisa digunakan dalam melihat perilaku para investor adalah dengan melihat pergerakan harga emas dunia.

Emas, dengan statusnya sebagai medium yang baik untuk menyimpan nilai (storage of value), menjadi instrumen yang diburu ketika situasi ekonomi memburuk. Orang-orang yang ingin merealisasikan keuntungannya akan membeli emas ketika situasi di equity market sudah mulai dianggap berisiko.

Sejalan dengan itu, harga emas akan meningkat seiring dengan tingginya permintaan terhadap logam mulia tersebut.

Inilah yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, di mana harga emas terus rally dan memecah ambang batas $1.600 per oz. Di Indonesia sendiri, akibat nilai tukar Rupiah juga yang terus melemah dalam sepuluh tahun terakhir, harga emas sudah menembus harga termahal sepanjang masa dengan melewati Rp700.000 per gram.

Dan ini yang juga terjadi di bond market.

US Treasury Bond (10 Year) yang dianggap sebagai instrumen yang aman, kini menawarkan imbal hasil (yield) paling rendah sepanjang sejarah. Artinya, harga bond tersebut naik akibat tingginya demand terhadap surat utang tersebut. Hal ini mencerminkan banyak orang yang ingin memindahkan uang mereka dari equity market ke dalam bond market karena dianggap lebih aman pada saat ini.

Baca lagi mengenai yield bond di tulisan kami yang ini.

Jadi, akan terjadi krisis sebentar lagi?

Let’s be honest. No one actually knows. Jika bercermin kepada data historis, kondisi euforia di pasar modal bisa berlangsung lama, bahkan hingga bertahun-tahun. Untuk housing bubble yang terjadi di tahun 2008 sendiri, krisisnya baru pecah setelah bullish market yang cukup lama.

Tapi saat ini banyak fenomena yang mengarah ke sana. Jika kita mengharapkan datangnya sebuah badai, awan mendungnya mulai kelihatan. Bisa jadi momentum kekhawatiran atas coronavirus ini menjadi buih pertama yang meletus dari serangkaian event yang akan terjadi.

Dalam tiga hari terakhir, bursa US juga sudah jatuh cukup drastis. Dalam lima hari, Dow Jones sudah turun 11% dari puncaknya.

Pun analisa ini juga bukanlah sesuatu hal yang bersifat absolut.

Hal-hal di atas bisa saja merupakan fenomena-fenomena terpisah yang tidak berkaitan sama sekali. Tapi menarik untuk mengetahui hal tersebut, karena bisa menjadi bukti bagaimana perilaku manusia dalam menghadapi risiko dalam berinvestasi di sebuah kondisi yang sudah tidak lagi rasional.

Efeknya akan sampai ke Indonesia?

Jelas, situasi ekonomi global selalu menjadi faktor penting di pasar modal Indonesia. Ketergantungan pasar modal Indonesia terhadap dana asing masih cukup besar dan menjadikan bursa kita cukup sensitif dalam menghadapi isu-isu global. Hal itu sudah terjadi berulang kali dan akan terjadi lagi di masa depan. Isu-isu seperti quantitative easingtaper tantrum, perang dagang, hingga virus Corona sudah terbukti bisa membuat pasar modal kita bergejolak.

Dan kalau terjadi koreksi di pasar US yang sudah sangat bullish saat ini, Indonesia sudah pasti akan ikut terseret.

So, what I need to do?

Sebagai individual investor, mampu bersikap tenang dan rasional salah satu syarat yang utama yang harus dimiliki. Pahami bahwa koreksi atau krisis yang terjadi di pasar, adalah hal yang lumrah yang akan terus terjadi.

Pelajari sebuah ironi pasar modal di mana: krisis di masa lalu akan dianggap sebagai peluang, tapi krisis di masa depan selalu dipandang sebagai risiko.

Saat ini, ada banyak saham-saham berfundamental bagus yang sedang diobral di pasar modal Indonesia. Dari total 600 lebih saham yang ada di bursa, jumlah saham-saham idaman ini tidak banyak. Dan sekarang, saham-saham itu sedang dibuang oleh investor asing.

Menghadapi fenomena ini, sudah saatnya investor lokal unjuk gigi untuk memunguti saham-saham top di pasar modal negeri kita sendiri.

Selama ekonomi Indonesia terus bertumbuh, kinerja emiten-emiten ini harusnya akan terus terjaga mengingat wilayah operasional mereka yang ada di Indonesia. Sejauh ini, konsumsi dalam negeri adalah motor penggerak utama ekonomi kita yang akan menjadikan ekonomi Indonesia terus bergulir.

Agar kita, rakyat Indonesia sebagai shareholder terbesar negara ini, juga bisa menikmati laba dan keuntungan perusahaan-perusahaan tersebut.

Seperti biasa, Big Alpha menerbitkan e-book kuartalan yang berisikan 15 analisa laporan keuangan dari emiten-emiten yang kami anggap bagus berdasarkan kinerja fundamental mereka. E-book ini bisa menjadi referensi bagi anda untuk mengambil keputusan dalam berinvestasi. Anda bisa mendapatkannya di sini.

Ayo, ikut menjadi pemilik modal di Indonesia!

Related Posts

The Growing Champion: ERAA

Leave a Comment

You need to sign in before leave a comment. Fields marked with an * are required.

Sign in

Subscribe To Big Alpha

Subscribe now and get exclusive news, advisory and more.