MPPA, ARTO, Apa Lagi? Gojek dan Kejutannya di Bursa Saham

Date:

[Waktu baca: 6 menit]

Gojek bukan hanya membuat kejutan demi kejutan di industri teknologi di Indonesia, namun juga bursa saham. Sejumlah keputusannya di bursa saham direspon luar biasa oleh investor.

Keputusan itu antara lain pembelian saham Matahari Putra Prima (MPPA) dan Bank Jago (ARTO) dalam beberapa bulan terakhir. Harga saham MPPA dan harga ARTO melesat seiring rumor dan fakta mengenai pembelian saham tersebut. Aksi korporasi itu sepertinya bukan yang terakhir.

Aksi korporasi yang mungkin bakal ditunggu-tunggu oleh investor adalah penawaran umum perdana saham (IPO) Gojek setelah bergabung dengan perusahaan marketplace raksasa, Tokopedia. GoTo, nama hasil penggabungan Gojek dan Tokopedia, disebut-sebut akan IPO di bursa Indonesia dan bursa Amerika Serikat pada 2021.

Mengapa Gojek menjadi magnet para investor? Apakah IPO GoTo juga layak ditunggu oleh publik? Seberapa besar GoTo setelah bergabung? Mari kita ulas.

Mengapa Gojek Membeli MPPA?

Sepanjang 2020 hingga awal 2021, saham MPPA (Matahari Putra Prima) adalah saham yang lebih sering tertidur daripada terbangun dan berjingkrak-jingkrak. Bahkan sejak 2019, saham ini bergerak di level Rp100an.

Pada 2015, harga saham MPPA sebenarnya pernah mencapai masa keemasannya dengan bergerak hingga level Rp4.000an. Namun, seiring perkembangan industri ritel yang terdesak oleh industri e-commerce, harga MPPA terus merosot hingga level Rp80an di akhir Januari 2021.

Seperti diketahui, MPPA mengelola sejumlah gerai ritel seperti Hypermart, Foodmart Supermarket, Hyfresh Supermarket, Primo Supermarket, Boston dan FMX. Berbagai usaha ritel itu perlahan terkena dampak perkembangan e-commerce yang mengubah perilaku konsumen dalam berbelanja. Pandemi kian memukul industri ritel.

Namun, di bulan Maret 2021, saham MPPA tidak lagi tertidur pulas. Harga saham ini terbangun, terus melesat hingga menyentuh level Rp900an pada Mei 2021. Secara year to date, harga MPPA naik lebih dari 700% sampai pertengahan Mei 2021 ini. 

Pergerakan Saham MPPA

Kenaikan harga yang signifikan itu memunculkan tanda tanya, aksi korporasi apa yang akan dilakukan oleh MPPA? Sentimen apa yang mendorong pergerakan harga saham ini? Industri ritel yang sangat lesu akibat pandemi tidak cukup signifikan menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga MPPA.

Pada April 2021, muncul kasak kusuk mengenai masuknya Gojek sebagai salah satu investor MPPA. Namun, seperti rumor pada umumnya yang beredar di pasar saham, sulit dibuktikan kebenarannya sampai ada konfirmasi resmi dari pihak yang bersangkutan.

Kendati demikian, rumor itu tampaknya tidak dilewatkan begitu saja oleh para investor yang memiliki penciuman tajam. Harga saham MPPA terus naik dan mendahului konfirmasi resmi dari Multipolar, perusahaan yang mengelola Matahari Putra Prima, yang akhirnya dirilis pada 11 Mei 2021. 

Dalam penjelasan itu dijelaskan bahwa Gojek membeli saham Matahari Putra Prima melalui perusahaan yang terafiliasi yaitu Pradipa Darpa Bangsa. Dalam penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia pada 11 Mei, Multipolar menyebutkan sejumlah investor membeli 11,9 persen saham MPPA. Mereka antara lain Panbridge Investment Ltd dengan porsi 3,33 persen, Pradipa Darpa Bangsa 4,76 persen, Threadmore Capital Ltd 3,81 persen.

Saham Pradipa Darpa Bangsa sendiri dimiliki oleh Gojek dengan porsi kepemilikan 99,996 persen dan sisanya dimiliki oleh Dompet Karya Anak Bangsa sebesar 0,004 persen. Pradipa bergerak di bidang jasa profesional, ilmiah dan teknis. 

Komisaris Pradipa Darpa Bangsa adalah Andre Soelistyo yang tidak lain adalah Co CEO Gojek. Sementara itu, Presiden Direktur Pradipa Darpa Bangsa adalah Hans Patuwo dan Direktur adalah Thomas Kristian Husted.

Manajemen MLPL menjelaskan bahwa masuknya ketiga pemegang saham tersebut karena MPPA merupakan investasi strategis yang memiliki tingkat pengembalian yang baik di masa yang akan datang. MLPL menyatakan dana hasil penjualan saham itu akan diinvestasikan kembali ke MPPA untuk memperkuat neraca dan menyediakan modal kerja untuk mendorong MPPA ke tahap pertumbuhan berikutnya.

Salah satu kemungkinan kolaborasi kedua belah pihak adalah layanan pemesanan produk-produk yang dipasarkan oleh gerai ritel Matahari Putra Prima melalui aplikasi Gojek. Kemungkinan lain adalah Gojek membantu pengembangan penjualan online produk-produk dari Matahari Putra Prima.

Apapun bentuk kerjasamanya, pembelian sebagian kecil saham MPPA oleh Gojek diapresiasi oleh para investor. MPPA diharapkan dapat bertumbuh di masa depan dengan bantuan Gojek. Harga saham MPPA pun terbangun untuk sementara waktu.

Bukan Hanya MPPA, Gojek Juga Membeli ARTO

Sama seperti aksi pembelian saham MPPA oleh Gojek, aksi pembelian saham Bank Jago oleh Gojek juga didahului oleh rumor pada 2019. Pada saat itu tidak ada yang bisa memastikan kebenaran rumor tersebut. Beredar rumor bahwa Bank Artos (nama awal Bank Jago) akan menjadi "Bank Gojek".

Manajemen Bank Artos kala itu membantah mengenai rumor tersebut. Kondisi itu bisa dipahami mengingat aksi korporasi adalah informasi sensitif bagi perusahaan terbuka sehingga perlu dirahasiakan. 

Lebih dari setahun kemudian pada Desember 2020, Gojek mengumumkan aksi korporasi berupa pembelian sebagian saham Bank Jago tersebut. Sebagian rumor di pasar saham adalah fakta yang tertunda. Kenaikan harga saham ARTO ---hingga lebih dari 5.000 persen--- mendahului pengumuman fakta tersebut.

Pergerakan Saham ARTO

Rumor keterlibatan Gojek dalam suatu perusahaan terbuka ternyata membawa dampak yang begitu signifikan terhadap harga saham. Kendati secara fundamental perusahaan yang dibeli dalam kondisi rugi atau mengalami penurunan, prospek masa depan ekonomi digital membawa angin segar tersendiri. Gojek mewakili entitas new economy tersebut.

Kembali ke pertanyaan awal, mengapa Gojek menjadi magnet para investor saham sehingga harga MPPA dan ARTO naik drastis seiring rumor dan fakta mengenai keterlibatan Gojek? Salah satu kemungkinannya adalah kemampuan Gojek mengakselerasi bisnisnya ke tingkat yang barangkali tidak pernah dibayangkan oleh banyak orang sebelumnya.

Berawal dari bisnis call center ojek pada 2010, Gojek menjelma menjadi perusahaan teknologi raksasa satu dekade kemudian. Tidak hanya di Indonesia, bisnis Gojek merambah ke Singapura, Thailand dan Vietnam. Jumlah driver yang bekerjasama dengan Gojek mencapai lebih dari 2 juta di seluruh Asia Tenggara dan merchant 900.000.

Diluncurkan pertama kali pada 2015, aplikasi Gojek yang dulunya hanya memiliki jasa ojek online kini memiliki lebih dari 20 layanan, mulai dari pengiriman barang hingga hiburan. Gojek juga menjadi unicorn atau perusahaan teknologi dengan valuasi lebih dari US$1 miliar pertama di Indonesia. Gojek kini berstatus sebagai decacorn atau perusahaan dengan valuasi lebih dari US$10 miliar.

Sebuah studi menunjukkan bahwa Gojek berkontribusi Rp104,6 triliun ke ekonomi Indonesia. Ekosistem Gojek ditaksir berkontribusi sekitar 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2019 yang mencapai lebih dari Rp1.000 triliun.

Angka-angka tersebut merupakan pencapaian yang fantastis yang belum tentu dapat dicapai oleh perusahaan lain. "Kesuksesan" Gojek dibayangkan dapat menular ke berbagai perusahaan yang kemudian bekerjasama dengannya, termasuk perusahaan yang sahamnya dibeli oleh Gojek seperti MPPA dan ARTO. 

Berbagai pencapaian yang diraih oleh Gojek diharapkan dapat berimbas ke perusahaan yang berkolaborasi dengannya.

IPO GoTo: Terbesar Dalam 2 Dekade Terakhir?

Setelah pembelian saham MPPA dan ARTO, aksi korporasi yang ditunggu-tunggu oleh khayalak adalah IPO yang dilakukan oleh GoTo, brand hasil penggabungan Gojek dan Tokopedia. Menurut laporan CB Insights, valuasi GoTo dapat mencapai US$40 miliar atau lebih dari Rp500 triliun.

IPO itu disebut-sebut akan dilakukan dengan cara dual listing atau dilakukan di dua bursa yaitu bursa saham di Indonesia dan Amerika Serikat. Ada pula spekulasi yang memperkirakan IPO itu akan dilakukan dengan bantuan perusahaan "cek kosong" alias SPAC atau Special Purpose Acquisition Company.

Dengan valuasi hingga Rp500 triliun, jika terealisasi, IPO GoTo akan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah bursa efek. Sebagai pengingat, IPO terbesar terakhir di BEI dilakukan oleh perusahaan tambang batu bara Adaro Energy dengan dana yang dihimpun Rp12,5 triliun.

Seberapa besar GoTo? Berdasarkan data yang dihimpun Big Alpha, kombinasi Gojek dan Tokopedia dalam GoTo memiliki lebih dari 100 juta pengguna aktif, lebih dari 11 juta mitra usaha dan 1,8 miliar transaksi di 2020.

Secara keseluruhan, nilai transaksi atau gross transaction value (GTV) di GoTo mencapai US$22 miliar atau lebih dari Rp300 triliun pada 2020. Mitra pengemudi GoTo mencapai lebih dari 2 juta mitra. 

GoTo nanti akan membawahi tiga bisnis utama: Gojek, GoTo Financial dan Tokopedia. GoTo Financial merupakan layanan keuangan yang dikelola oleh Gojek, mulai dari dompet digital, paylater sampai layanan investasi melalui platform digital. 

Secara bisnis, bergabungnya Gojek dan Tokopedia menjadikan GoTo sebagai perusahaan yang unik dan luar biasa besar yang sulit disaingi oleh perusahaan lain. 
Gojek memiliki pesaing seperti Grab dan Tokopedia memiliki pesaing seperti Shopee atau Bukalapak, namun berbagai pesaing itu tidak bergabung menjadi suatu kekuatan baru seperti GoTo.
 

Tags:

Investasi