Menilik PGAS, Jagoan #SangMology

Berkah Rio

 [Waktu baca: 7 menit]

Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) menjadi sorotan pada awal pekan ini, Senin (14 Desember 2020) setelah putra Presiden Joko Widodo, yakni Kaesang Pangarep menyebut saham ini dalam beberapa cuitannya di Twitter melalui akun @kaesangp.

Cuitannya pertamanya muncul pukul 12.26 WIB, menanggapi cuitan akun @aMrazing. Kaesang membalas singkat, PGAS, atas cuitan @aMrazing yang mengomentari tembusnya IHSG ke level 6000 dan meminta saran saham mana yang layak dibeli.

Tak lama berselang, pada pukul 12.43 WIB cuitan Kaesang kembali muncul. “Ayoo tembusin atap 1700 $PGAS.” Demikian bunyi cuitan itu. Cuitan ini mendapatkan tanggapan yang cukup banyak dari netizen, dengan ratusan retweet dan komentar, serta lebih dari seribu kali disukai.

Pada pukul 12.48 WIB, Kaesang mencuitkan SANGMOLOGY, yang tampaknya menjadi istilah untuk pemilihan saham ala Kaesang.
Cuitan masih berlanjut pula pada pukul 14.01 WIB. “Kalau saya masih percaya bisa tembus 2100,” kata Kaesang menanggapi cuitan akun @andrimauuu yang meminta rekomendasi Kaesang terkait di harga berapa harus melepas saham PGAS. “Harusnya tahun depan tembus sih,” tambah Kaesang.

Pada petang hari, setelah penutupan pasar, tepatnya pukul 19.25 WIB, Kaesang kembali mengomentari saham PGAS. “Kalo besok $PGAS bisa tembusin 1750, kayaknya bakalan mulus perjalanannya ke 2100. Gimana cuanmin @SahamRakyat? #SangMology,” cuit Kaesang.

Cuitan Kaesang tentang saham PGAS sebenarnya relatif tidak terlalu banyak mengundang diskusi publik di Twitter. Selain cuitannya yang mengajak untuk mendorong saham PGAS hingga tembus Rp1.700, cuitan-cuitan yang lain hanya di-retweet dan ditanggapi rata-rata puluhan kali, serta disukai ratusan kali.

Namun, cuitan dari putra presiden ini menjadi sorotan beberapa media ekonomi arus utama yang kerap memberitakan isu pasar modal. Entah ada efeknya atau tidak, yang jelas saham PGAS meningkat pada perdagangan Senin (14 Desember 2020) sebesar 3,63% dan berhasil menembus level Rp1.700, tepatnya menjadi Rp1.715 per saham.

Pada pembukaan pasar hari ini, Selasa (15 Desember 2020), saham PGAS pun sudah melesat 4,37% ke level Rp1.790 hingga pukul 10.00 WIB. Saham PGAS sudah melewati Rp1.750, sesuai perkiraan Kaesang!

Adapun, sebelumnya saham PGAS ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan lalu, berturut-turut -1,18% pada Kamis (10 Desember 2020) dan -0,90% pada Jumat (11 Desember 2020). Namun, pada Selasa (8 Desember 2020) saham PGAS sempat melonjak tinggi hingga 15,36%.

Kaesang dengan #SangMology-nya sama sekali tidak menjelaskan mengapa saham PGAS layak dibeli. Tidak ada penjelasan terkait fundamental perusahaan atau bahkan analisis teknikal pergerakan saham PGAS yang menjadi legitimasi atas rekomendasi terhadap saham tersebut.

Fenomena tokoh publik yang menyampaikan rekomendasi saham pilihannya kepada publik tampaknya menjadi tren akhir-akhir ini. Setelah sebelumnya publik banyak menunggu komentar jagoan pasar modal Lo Kheng Hong, akhir-akhir ini rekomendasi dari Ust. Yusuf Mansur menjadi buah bibir.

Belum lama ini, Ustad Yusuf Mansur juga sempat mengomentari dan mengajak pengikutnya di Instagram untuk masuk ke saham PGAS, tetapi tanpa menjelaskan lebih jauh kondisi fundamental PGAS.

Kini muncul lagi Kesang dengan #SangMology dan saham jagoan yang sama, PGAS. Oleh karena Kaesang juga tidak memberikan alasan mendasar atas rekomendasinya terhadap PGAS, pada artikel kali ini kita akan sedikit menggali isi perusahaan ini untuk melihat kinerjanya sehingga dapat menilai prospek sahamnya secara lebih objektif.

Kinerja Tertekan, Tetapi Masih Positif

PGAS sudah menerbitkan laporan keuangannya untuk periode 9 bulan 2020. Hasilnya, secara umum kinerja keuangan PGAS memang tertekan. Namun, PGAS masih memiliki struktur keuangan yang relatif kuat.

Neraca keuangan PGAS tercatat meningkat sepanjang tahun ini. Kas dan setara kas mencapai mencapai US$1,19 miliar, atau setara Rp17,82 triliun (kurs Rp14.918/dolar AS), tumbuh 14,82% dibandingkan dengan akhir tahun 2019 (year to date/ytd). Cadangan kas yang masih tinggi ini memungkinkan PGAS menjalankan bisnisnya dengan stabil.

Berikut ini kondisi neraca keuangan PGAS (dalam Rp miliar):

Komponen Dec-20 20-Sep Pertumbuhan (ytd)
Kas dan Setara Kas 15,520 17,821 14.82%
Liabilitas 61,752 63,544 2.90%
Ekuitas 48,249 48,354 0.22%
Aset 110,001 111,898 1.72%

*) Kurs Rp14.918/dolar AS sesuai laporan keuangan.

Meskipun kinerja neraca keuangan PGAS masih tumbuh positif, kinerja pendapatan dan laba PGAS mengalami tekanan yang cukup parah. Berikut ini datanya (dalam Rp miliar):

Komponen Sep-20 Sep-20 Pertumbuhan (yoy)
Pendapatan 41,947 32,090 -23.50%
Beban Pokok -28,715 -21,826 -23.99%
Laba Bruto 13,232 10,263 -22.44%
Laba Operasi 6,070 4,706 -22.47%
Laba Sebelum Pajak 4,005 2,299 -42.59%
Laba Bersih 1,926 795 -58.75%

*) Kurs Rp14.918/dolar AS sesuai laporan keuangan.

Kinerja keuangan PGAS yang tertekan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi tahun ini yang tertekan akibat pandemi. Dampak pandemi masih berlanjut sehingga permintaan terhadap gas bumi pun masih lesu.

Selain itu, harga minyak dan gas dunia juga masih lesu, sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung sangat fluktuatif sepanjang tahun ini. Kinerja PGAS kenyataannya sudah melemah sejak tahun 2019 lalu.

Berikut ini perkembangan kinerja keuangan PGAS beberapa tahun terakhir (dalam US$ juta):

Komponen 2015 2016 2017 2018 2019
Pendapatan Neto 3,068.79 2,934.78 3,570.60 3,870.27 3,848.72
Laba Bersih 401.20 304.32 196.90 304.99 67.58

Dari data tersebut, terlihat bahwa laba PGAS cenderung terus melemah dari tahun ke tahun. Setelah sempat meningkat lagi pada 2018, laba PGAS kembali jatuh pada 2019.

Bisnis PGAS Penuh Tantangan

Adapun, bisnis yang dijalankan PGAS adalah bisnis gas bumi secara terintegrasi. PGAS tidak saja menyalurkan gas bumi melalui moda infrastruktur pipa, tetapi juga termasuk pengelolaan CNG (compressed natural gas) dan LNG (liquefied natural gas).

Pada 2018, pemerintah mengalihkan seluruh saham milik pemerintah di PGAS kepada PT Pertamina (Persero), yakni 57%. Dengan demikian, PGAS telah menjadi subholding dalam struktur BUMN migas. 

Pada 2019, PGAS menuntaskan restrukturisasi korporasi sebagai kelanjutan atas upaya pengambilalihan saham mayoritas PT Pertamina Gas atau Pertagas, anak usaha Pertamina.

Konsolidasi PGAS dan Pertagas ini diharapkan akan mengefisiensikan dan mensinergikan operasional rantai pasok gas bumi, sehingga dapat menciptakan harga yang makin kompetitif untuk konsumen.

Meski begitu, hal itu tidak otomatis menyebabkan kinerja PGAS melesat. Proses konsolidasi ini justru menjadi tantangan berat bagi PGAS, sebab harus menyatukan dua budaya perusahaan yang berbeda menjadi satu.

Namun, selain tantangan konsolidasi itu, pelemahan kinerja PGAS pada 2019  terjadi akibat beragam tantangan lain. Berdasarkan Laporan Tahunan 2019, direksi PGAS menjelaskan ada sejumlah tantangan yang menghadang bisnis PGAS 2019 lalu.

Dari sisi operasional, PGN harus mengatasi dampak yang timbul dari berakhirnya jangka waktu Production Sharing Contract Blok Southeast Sumatera dan Blok Sanga-Sanga.

Selain itu juga terjadi beberapa kondisi keterbatasan pasokan gas bumi dari sumber utama untuk pemenuhan permintaan pelanggan di wilayah Jawa Bagian Barat maupun Jawa Bagian Timur.

Hal ini menyebabkan PGAS harus menutup kebutuhan pelanggan industri di wilayah Jawa Bagian Barat dengan menambah kargo LNG.

Kemudian, berhentinya penyaluran gas bumi dari Lapangan Kepodang untuk pembangkit listrik Tambak Lorok yang diangkut melalui pipa transmisi yang dioperasikan oleh PT Kalimantan Jawa Gas juga menjadi tantangan lain yang dihadapi PGAS.

PGAS juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk menjamin keberlangsungan pasokan gas bumi, selain bersaing dengan energi primer lainnya seperti batu bara, bahan bakar minyak, dan energi terbarukan. PGAS juga harus mengembangkan dan mengelola jaringan transmisi dan distribusi yang luas secara efektif agar dapat melayani pelanggan existing maupun pelanggan baru.

Di luar itu, PGAS masih harus mengatasi tantangan lain berkaitan dengan implementasi beberapa regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah sebagai upaya perbaikan tata kelola bisnis gas bumi.

Peraturan Menteri ESDM Nomor 58 Tahun 2017 tentang Harga Jual Gas Bumi Melalui Pipa pada Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi, sebagaimana terakhir diubah melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2019 telah efektif berlaku pada bulan Juli 2019.

Dengan pemberlakuan aturan ini memberikan transparansi dan akuntabilitas pada penghitungan dan penetapan harga jual gas bumi yang tercermin dalam pengaturan biaya niaga di kegiatan usaha niaga gas bumi maksimum sebesar 7% dari harga gas bumi hulu.

Selain itu, ditetapkan pula batas tingkat pengembalian investasi (internal rate of return-IRR) maksimal 11% untuk proyek-proyek infrastruktur gas bumi, kendati para investor diperbolehkan untuk mengusulkan IRR maksimum 12% jika infrastruktur gas bumi dibangun di daerah baru.

Tahun 2019 juga bukanlah tahun ekonomi yang baik. PGAS dihadapkan pada pelemahan pertumbuhan perekonomian nasional yang terimbas oleh berkepanjangannya perselisihan dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Pelemahan perekonomian ini membuat permintaan energi turun, sehingga permintaan gas bumi dari beberapa industri utama, seperti listrik, industri kimia dasar dan keramik ikut menurun.

Tahun 2019 pun adalah tahun politik, sehingga banyak pelaku bisnis yang cenderung wait and see dalam merealisasikan investasi pertambahan kapasitas maupun memulai usaha. Hal ini pada akhirnya mempengaruhi permintaan energi.

Prospek Saham Masih Menjanjikan

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, tetapi keberlanjutan bisnis PGAS tentu tak perlu diragukan, mengingat energi gas merupakan salah satu kebutuhan vital masyarakat. 

Seiring pemulihan kinerja ekonomi dan rampungnya proses konsolidasi internal, kinerja PGAS kemungkinan akan mulai membaik tahun depan. Saat ini, peluang pemulihan ekonomi 2021 terlihat lebih menjanjikan, seiring dengan ditemukannya vaksin Covid-19.

Selain  itu, manajemen PGAS pun sudah memiliki respons yang sigap menghadapi tantangan yang ada selama ini. Perseroan terus berupaya meningkatkan produksi sembari mencari sumber-sumber gas lain.

PGAS juga mengupayakan efisiensi melalui adopsi teknologi digital seperti internet of things (IoT) untuk membantu pemantauan kondisi pipa dan aliran volume jarak jauh secara otomatis. Selain itu, optimalisasi layanan dan pengembangan produk juga menjadi fokus PGAS.

Untuk mengimbangi tekanan permintaan gas dari sektor industri, PGAS juga mengintensifkan realisasi investasi untuk memenuhi kebutuhan gas bumi bagi pembangkit listrik untuk menggantikan tenaga diesel.

Upaya manajemen yang tidak tinggal diam dan tetap berinovasi ini tentu membuka ruang pertumbuhan masa depan bagi PGAS. Investor pun tampaknya masih sangat optimistis terhadap saham PGAS. Sepanjang 6 bulan terakhir, saham PGAS sudah melesat lebih dari 85%.

Artinya, jika saham PGAS meningkat, mungkin hal itu bukan semata karena rekomendasi Kaesang atau Ustad Yusuf Mansur, tetapi memang karena didukung oleh prospek bisnisnya yang masih menjanjikan.
 

 

Investasi