Mengintip Pemain Besar Layanan PCR di Indonesia

Dika Aksara

Pandemi Covid-19 belum juga kelar. Selama nyaris 2 tahun pandemi melanda dunia, termasuk Indonesia, ada banyak hal yang berubah. Muncul kebiasaan baru orang memakai masker saat berkegiatan di luar rumah, pengecekan suhu tubuh di nyaris setiap kantor dan layanan publik, plus fasilitas cuci tangan yang makin mudah ditemui. 

Tak cuma itu, langkah preventif penyebaran virus juga dilakukan untuk setiap pengguna moda transportasi. Di Indonesia misalnya, meski aturannya cenderung berubah-ubah dengan cepat, masih ada kewajiban penggunaan hasil tes antigen atau PCR sebagai syarat perjalanan. 

Kebijakan ini sudah berjalan nyaris 2 tahun. Masyarakat mulai terbiasa dengan 'tes Covid-19' seperti antigen dan PCR. Belakangan ini, kendati tujuan penggunaan tes screening untuk mencegah penularan, mulai muncul sejumlah analisis terkait adanya oknum yang sengaja memanfaatkan 'tes Covid-19' sebagai ladang bisnis. 

Terlepas dari berbagai dugaan yang menuding pemerintah 'membisniskan Covid-19', saat ini memang bermunculan sejumlah perusahaan pemain utama layanan tes screening Covid-19. Siapa saja sih pemain besar layanan PCR ini? Fakta apa saja yang perlu jadi catatan? Yuk kita simak.

1. Harga tes PCR turun 3 kali

Seperti kita tahu, harga tes PCR di Indonesia terus mengalami penurunan. Harga Eceran Tertinggi (HET) PCR ini diatur langsung oleh pemerintah. 

Jika ditarik ke periode awal pandemi Covid-19 melanda, harga layanan tes PCR di Indonesia bisa tembus jutaan rupiah. Itu pun, tergantung dari seberapa cepat hasil tesnya keluar. Semakin cepat, maka semakin mahal. 

Pada Oktober 2020, Kementerian Kesehatan kemudian mengatur batas tertinggi tarif tes PCR menjadi Rp900.000.

Kemudian pada Agustus 2021, pemerintah kembali menurunkan batas atas tarif PCR menjadi Rp495.000 untuk Jawa-Bali dan Rp525.000 untuk luar Jawa. 

Angka tersebut masih dianggap memberatkan masyarakat. Akhirnya pada Oktober 2021, Presiden Jokowi memerintahkan harga tes PCR diturunkan lagi. Pemerintah pun menetapkan HET tes PCR menjadi Rp275.000 untuk Jawa-Bali dan Rp300.000 untuk luar Jawa. 

2. Harga tes bergantung reagen

Salah satu alasan di balik mahalnya tarif tes PCR adalah penggunaan reagen. Kementerian Kesehatan mencatat, per Oktober 2021, ada 52 merek reagen tes PCR yang beredar di pasaran. 

Dikutip dari e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) harga reagen berada di kisaran Rp200.000 untuk 52 merek. Kondisi ini jauh berbeda ketimbang Agustus 2020 lalu, saat reagen yang beredar masih sangat terbatas yakni sekitar 5-10 merek. Saat itu, harga reagen di LKPP tercatat Rp400.000-Rp500.000.

Kementerian Kesehatan menjelaskan, mahalnya reagen saat itu karena produksinya yang masih terbatas. Sementara saat ini, produksi reagen sudah bisa mengimbangi permintaan pasar di seluruh dunia. 

3. Pemain besar tes PCR di Indonesia

Industri kesehatan memang tumbuh pesat selama pandemi. Hal ini tercermin dari menjamurnya penyedia layanan tes screening Covid-19, termasuk PCR. Kementerian Kesehatan mencatat pada Juli 2020 hanya 164 laboratorium yang melayani tes PCR. Namun pada Agustus 2021, jumlahnya naik drastis menjadi nyaris 800 laboratorium. 

Ada beberapa pemain besar layanan PCR di Tanah Air. Berikut adalah daftarnya:

1. Bumame

Nama penyedia layanan PCR yang satu ini barangkali pernah kamu lihat. Bumame membuka layanan PCR di banyak lokasi di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Palembang, Bali, dan Yogyakarta. 

Dikutip dari situs resmi perusahaan, Bumame Farmasi secara khusus menyediakan jasa Tes Covid-19 berstandar internasional. Total ada 40 titik layanan Bumame di seluruh Indonesia. 

2. Quicktest

Salah satu pemain besar test PCR adalah Quicktest. Dikutip dari situs perusahaan. Quicktest menyediakan layanan Swab PCR, Swab Antigen, Rapid Test dan Isothermal Molecular untuk mendeteksi keberadaan virus corona (Covid-19) di dalam tubuh. 

Perusahaan memberikan layanan langsung di semua unit Quicktest baik secara langsung (Walk-In) maupun di rumah pelanggan atau pasien (Homecare).

Quicktest didirikan oleh Irawati Muklas, yang juga pemilik Avisha Group. Ira merambah ke bisnis Layanan Kesehatan dengan nama Quicktest.id dan bersama dr. Haekal Anshari M. Biomed (AAM) sebagai Medical Director.

3. GSI Lab

Nama penyedia layanan PCR yang satu ini jadi bahan perbincangan netizen. Alasannya, salah satu pejabat penting di pemerintahan ternyata punya secuil saham PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI). 

GSI juga merupakan perusahaan baru. Sejumlah pengusaha besar tercatat ikut patungan mendirikannya. Bisnis utamanya, layanan tes PCR dan antigen. bahkan GSI bisa melayani 5.000 test dalam sehari. 

Kendati begitu, GSI getol menyampaikan bahwa mereka tak cuma berbisnis. Dikutip dari situsnya, GSI telah menggelar tes PCR gratis untuk lebih dari 5.000 pemeriksaan, 700.000 lebih swab test (termasuk antigen), dan donasi lebih dari Rp4,4 miliar. 

4. Fastlab

Satu lagi pemain besar penyedia layanan PCR test adalah Fastlab. Perusahaan ini punya layanan di Jakarta, Bandung, Bali, Medan, dan Makassar. 

Dikutip dari situs resminya, Fastlab memang fokus menyediakan layanan test Covid-19. Khusus untuk tes PCR, Fastlab menyediakan layanan di klinik mereka dan sejumlah rumah sakit yang menjadi rekanan. 

Menariknya, Fastlab juga memberikan donasi untuk membantu pemerintah menanggulangi pandemi Covid-19. Namun, perusahaan tidak merinci berapa nilai donasi yang sudah diberikan selama ini. 

 

Bisnis