Mengupas Fenomena Tanaman Janda Bolong Seharga Ratusan Juta

[Waktu baca: 4 menit]

Tanaman janda bolong kini sedang dibicarakan oleh banyak kalangan karena harganya yang mencapai ratusan juta Rupiah.

Tanaman ini kian sering dibicarakan sejak pertengahan tahun 2020 di saat pandemi virus corona melanda Indonesia. Pada saat pandemi, banyak orang yang menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah dimana salah satu aktivitasnya adalah merawat tanaman.

Salah satu tanaman yang mendapatkan banyak perhatian adalah tanaman janda bolong, jenis tanaman yang memiliki daun bolong-bolong dengan warna perpaduan hijau dan putih. Tanaman ini disebut memiliki nama latin Monstera adansonii. Banyak pula yang menyebut tanaman ini dengan nama Swiss chesee plant.

Kendati mulai ramai dikenal sejak beberapa tahun lalu, harga janda bolong melesat baru beberapa bulan terakhir. Salah satu kemungkinan peningkatan harga tersebut adalah tingginya permintaan dan minimnya persediaan.

Harga tanaman yang disebut mencapai ratusan juta Rupiah tersebut bukan tidak mungkin menarik minat banyak orang untuk turut berbisnis tanaman ini. Tentu saja, bagi yang berminat, tidak ada salahnya untuk membeli atau menjual tanaman hias ini.

Namun, sebelum mengambil keputusan bisnis yang besar, ada baiknya mengingat pengalaman serupa saat tanaman hias gelombang cinta (anthurium) yang dulu pernah meledak di berbagai kota di Indonesia.

Pengalaman

Pada kurun 2006-2008 atau lebih dari satu dekade yang lalu, tanaman gelombang cinta begitu populer di masyarakat. Harga tanaman ini bahkan sempat dibanderol sebesar puluhan hingga ratusan juta Rupiah.

Bunga ni bahkan sempat dianggap oleh sebagian orang sebagai instrumen investasi yang diharapkan nilainya akan meningkat terus. Sebagian orang sempat menjual sepeda motor, mobil atau aset lainnya untuk mengkoleksi tanaman ini dengan harapan dapat dijual suatu saat.

Selain itu, kehebohan tanaman gelombang cinta sempat membuat banyak orang membeli bibit pada saat itu dengan harapan ketika tanaman tersebut sudah besar dapat dijual dengan mahal. 

Namun, ekspektasi peningkatan harga dalam jangka panjang ternyata tidak terjadi. Harga tanaman itu kemudian jatuh beberapa tahun kemudian. Pada saat ini, tanaman ini dijual di marketplace dengan harga puluhan ribu atau ratusan ribu Rupiah saja. Sebagian dari mereka yang menanam bibit tersebut gagal mendapatkan untung.

Di masyarakat beredar spekulasi mengenai peningkatan harga gelombang cinta tersebut. Ada yang mengatakan peningkatan harga tersebut berkat ulah sejumlah pihak yang memainkan isu mengenai tanaman hias ini.

Apapun penyebabnya, pengalaman itu mengingatkan bahwa peningkatan harga suatu jenis tanaman hias hanya berlangsung dalam periode waktu tertentu. Pada saat penawaran kian banyak di pasar atau karena berbagai faktor lain, harga tersebut bisa berangsur turun. 

"Menggoreng" Tanaman

Penjelasan menarik mengenai booming tanaman pernah disampaikan oleh Floribertus Rahardi, seorang pemerhati agribisnis, dalam kolomnya di Tabloid Kontan. Menurutnya, membuat satu jenis tanaman booming dengan harga tinggi disebut "menggoreng".

Menurut penjelasan ahli yang sering mengulas mengenai tanaman tersebut, proses "menggoreng tanaman" ini diawali saat pengusaha tanaman hias melihat tanaman apa saja yang berpotensi digoreng. Tanaman tersebut diperbanyak secara vegetatif atau mengumpulkan dari berbagai kolektor atau nurseri lalu meminta orang lain membeli tanaman tersebut dengan harga fantastis. 

Cara lainnya, memberi hadiah tanaman kepada tokoh dengan janji apabila ditanya, tokoh tersebut akan menjawab harga tanaman itu dibeli dengan harga fantastis. Rahardi menjelaskan bahwa upaya "penggorengan" tanaman tidak selalu berhasil dan bahkan lebih banyak yang gagal. 

Tentu saja, bagi peminat tanaman hias atau bagi yang ingin mencari cuan dari agribisnis seperti ini, tidak ada salahnya jika turut membeli atau menjual.  Namun, sebelum mengambil keputusan besar dan signifikan, ada baiknya mengingat bahwa potensi keuntungan yang tinggi selalu dibarengi dengan risiko yang tinggi.  Selain itu, pengalaman adalah guru yang terbaik.

Related Posts

Tips Detoks Finansial di Masa Pandemi
Apa yang Harus Dilakukan Kala Ekonomi Lesu?

Leave a Comment

You need to sign in before leave a comment. Fields marked with an * are required.

Sign in

Subscribe To Big Alpha

Subscribe now and get exclusive news, advisory and more.