Mengapa Startup Terbuka dengan Opsi Merger?

Fauzan Ahmad

[Waktu baca: 5 menit]

Baru sepekan 2021 bergulir, kabar negosiasi merger antara dua perusahaan startup raksasa, Gojek dan Tokopedia langsung ramai menghiasi halaman depan media-media arus utama.

Sayup-sayup merger perusahaan transportasi daring dan e-commerce itu pertama kali tersiar dari pemberitaan Bloomberg. Dari sumber dalam perusahaan, media asal New York tersebut menyebut kedua pihak sama-sama ambisius mampu menyegel kesepakatan dalam beberapa bulan ke depan. Meskipun, ketika dikonfirmasi, baik pihak Gojek maupun Tokopedia belum bersedia memberi penjelasan lanjut.

Walau datang begitu cepat, isu merger startup sebenarnya bukan suatu kejutan lagi. Sejak sebelum tahun berganti, banyak pakar yang sudah memprediksi bahwa tahun Kerbau Logam ini akan jadi ‘musim kawin’ bagi perusahaan-perusahaan startup.

Lantas, mengapa demikian? Mengapa banyak startup cenderung semakin blak-blakan mengisyaratkan hasrat mereka untuk menggabungkan bisnis dengan startup lainnya?

Ambisi Valuasi

Untuk memahami logika prediksi tersebut, mari kita mundur sejenak ke sebuah kolom yang pernah ditulis mantan peneliti Stanford sekaligus pendiri lembaga eksperimental pencarian daring bernama Bioz, Karin Lachmi.

Dalam sebuah tulisannya di Forbes, Lachmi pernah berujar bahwa kalau boleh diibaratkan, “Startup itu seperti bayi, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah keluarga yang akan berusaha menghidupi si bayi sampai dewasa.” 

Layaknya seorang bayi, ia perlu diberi makanan untuk tumbuh dan mencapai sebuah kedewasaan. Dan, bila tingkat kematangan seorang manusia diukur dari pertumbuhan fisik atau usia, maka tingkat kemapanan sebuah startup acap diukur dengan suatu indikator bernama valuasi.

Valuasi adalah nilai ekonomi dari suatu entitas bisnis, yang dalam konteks ini adalah nilai perusahaan startup. Untuk mencapai sebuah nilai ekonomi yang tinggi, startup perlu memperkuat kinerja mereka dan melakukan ekspansi.

Yang kemudian jadi dilema, ekspansi bukan hal yang mudah dilakukan, terutama untuk melebarkan sayap ke segmen bisnis yang sebelumnya tidak digeluti oleh suatu perusahaan startup. Merintis segmen operasi baru dari nol bukan saja memerlukan modal besar, tapi juga keberanian untuk ‘berjudi’.

Di sinilah fungsi merger akan berperan penting. Dengan mengakuisisi entitas bisnis lain yang sudah mapan dan berpengalaman, dan juga punya sama-sama valuasi tinggi, maka sebuah bisnis startup akan mampu mengembangkan valuasinya secara instan.

Hal itu pula yang akan terjadi bila Gojek dan Tokopedia jadi merger. Sebagai informasi saja, bila ditarik dengan kondisi saat ini, merger kedua perusahaan ini akan menghasilkan entitas dengan valuasi 18 miliar dolar AS. Ini karena Tokopedia sendiri ditaksir punya valuasi fantastis 10,5 miliar dolar AS, sementara Gojek ada valuasinya ada pada kisaran 7,5 miliar dolar AS.

Hasrat IPO

Valuasi sendiri, dalam perjalanannya, kerap dianggap penting karena akan menentukan penilaian terhadap suatu startup ketika kelak melantai di bursa. Ini pula alasan kenapa merger diprediksi akan semakin marak, dan untuk memahaminya kita—lagi-lagi—bisa memakai Tokopedia sebagai contoh.

Sejak pengujung 2020, Tokopedia memang digadang-gadang sebagai perusahaan startup pertama di Indonesia yang akan melantai di bursa. Laporan CNBC bahkan menyebutkan kalau Tokopedia telah menunjuk dua perusahaan jasa investasi dan penjamin emisi global, yakni Morgan Stanley dan Citi sebagai penasihat investasi dalam rangka mempercepat aksi korporasi tersebut.

Dengan berasumsi pemberitaan itu benar adanya, besar kemungkinan rencana merger dengan Gojek juga merupakan salah satu langkah yang sudah dapat rekomendasi dari kedua lembaga. Dan, itu wajar belaka sebab peningkatan valuasi perusahaan akan membuat Tokopedia bisa memasang harga penawaran lebih tinggi bila benar-benar melantai di bursa.

IPO bisnis-bisnis startup sendiri konon juga merupakan salah satu hal yang tengah dikampanyekan BEI. Direktur Penilaian Perusahaan Bursa I Gede Nyoman Yetna juga sempat mengatakan bila saat ini BEI tengah menggodok regulasi untuk memudahkan startup-startup melakukan IPO. 

Konsolidasi

Bukan cuma untuk melebarkan segmen bisnis, peluang merger startup juga masih bisa terjadi di antara perusahaan yang punya lini bisnis sama. Untuk merger yang sifatnya semacam ini, biasanya dilakukan oleh dua perusahaan yang sama-sama khawatir tertekan karena kehadiran kompetitor lain yang punya potensi lebih kuat.

Contoh gampangnya adalah merger yang dilakukan entitas anak Uber, yakni Uber Eats dengan Postmates pada pertengahan 2020 lalu.

Uber Eats adalah penyedia layanan pesan antar makanan. Begitu pula dengan Postmates. Merger keduanya dilakukan untuk mencoba menggoyang Grubhub, startup layanan pesan antar makanan yang punya pangsa pasar terbesar di Amerika Serikat (AS).

Statista pernah menyebut bahwa Grubhub punya pangsa pasar 34% pengguna jasa pesan antar makanan di Negeri Paman Sam. Angka ini jauh mengungguli Uber Eats yang hanya punya pangsa pasar 24%. 

Di sisi lain Postmates punya pangsa pasar 8%. Maka, gambaran kasarnya, merger tersebut membuat Uber Eats dan Postmates menyatukan pengguna mereka, sehingga pangsa pasar mereka bisa mencapai kisaran 32% alias memangkas jarak mereka dengan dominasi Grubhub.


Krisis Pandemi dan Akuisisi Konglomerat.

Pemicu lain yang tidak akan kalah penting mempengaruhi adanya tren merger adalah pembelajaran pandemi Covid-19. Krisis telah membuat banyak startup tertekan dan terbuka dengan merger demi tetap bertahan, bahkan oleh kompetitor sekalipun.

Contoh dari pemicu kondisi semacam ini adalah rumor merger yang sempat mewarnai dua perusahaan transportasi daring, Gojek dan Grab pada tahun lalu. Negosiasi merger itu kabarnya turut dipicu kondisi keuangan Grab yang sempat terpukul parah di awal pandemi merebak.

Sebagaimana dilaporkan Bloomberg, dalam sebuah pernyataan pada pengujung April 2020 CEO Grab Anthony Tan sempat menyebut “Covid-19 adalah krisis tunggal terbesar yang paling mempengaruhi perusahaan dalam 8 tahun keberadaan kami.”

Negosiasi merger Grab dan Gojek, yang pertama terungkap oleh pemberitaan Financial Times, pada akhirnya memang belum terealisasi. Namun, sempat terjadinya negosiasi saja sudah cukup membuktikan betapa krisis seperti pandemi bisa mengubah sikap suatu bisnis startup raksasa dalam waktu sekejap.

Contoh lain dari kondisi mirip-mirip lain, kendati sedikit berbeda pula, adalah apa yang menimpa platform video on demand Iflix. Digulung oleh krisis dan kerugian berkepanjangan di tengah pandemi, startup yang dulunya pernah didanai Emtek ini akhirnya diakuisisi oleh raksasa bisnis hiburan asal China, Tencent Holdings Ltd.

Akuisisi tersebut akhirnya membuat mau tak mau Iflix harus rela dimerger dengan WeTV, layanan hiburan yang sudah lebih dulu dimiliki Tencent di China. Kini, Iflix telah resmi menjadi salah satu jaringan WeTV untuk menyuguhkan tayangan-tayangan andalan Tencent di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Bisnis