Mengalap Untung dari Perubahan Pola Konsumsi Orang Indonesia

Fauzan Ahmad

[Waktu baca: 5 menit]

Pendapatan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, perusahaan yang mengelola jaringan minimarket Alfamart naik sekitar 4 persen, sedangkan pendapatan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk yang mengelola jaringan toserba Ramayana turun separuhnya lebih sepanjang 2020.

Alfamart masih laba, sedangkan Ramayana berbalik menjadi rugi. Kedua perusahaan sama-sama bergerak di sektor ritel, tapi kinerja keduanya tahun lalu bertolak belakang. Dan, “pola konsumsi” adalah istilah kunci untuk memahami hal tersebut.

Survei yang dilakukan McKinsey  & Company jelang berakhirnya 2020 menyebutkan bahwa 60 persen dari responden di Indonesia mengakui adanya perubahan pola konsumsi. 

Bukan cuma kamar hotel (-83) dan jajan di restoran (-70), dalam survei yang melibatkan tak kurang dari 700 responden tersebut McKinsey & Company juga menyebut produk-produk seperti pakaian (-61) dan alas kaki (-65), yang notabene merupakan salah salah satu andalan Ramayana sebagai dua barang yang mulai jadi prioritas terakhir orang Indonesia dalam berbelanja.

Sebaliknya, barang-barang yang mudah di temui di Alfamart atau jaringan minimarket kecil lain seperti bahan makanan (+45) dan barang rumah tangga (+36) disebut McKinsey makin naik pesat dalam daftar skala prioritas masyarakat. Konsumsi lain yang cenderung juga naik adalah hiburan rumah tangga (+21) dan cemilan (+7).

Namun ada satu fakta penting lain. Alfamart, Indomaret, dan perusahaan peritel kebutuhan dasar modern sejenis bukanlah yang paling diuntungkan.
Riset McKinsey lebih tegas menggarisbawahi bahwa perubahan paling besar yang terjadi dalam setahun terakhir adalah terkait cara berbelanja orang Indonesia.

Terlepas dari apapun jenis kebutuhannya, semakin hari ada kecenderungan masyarakat semakin menyukai belanja secara daring. Hitung-hitungan survei McKinsey menyebutkan bahwa hanya ada dua barang yang masih banyak diburu lewat belanja secara luring atau fisik, yakni tembakau atau rokok dan perhiasan.

Selebihnya, mulai dari buku dan majalah, makanan, kebutuhan hiburan, dan tetek bengek lain lebih didominasi transaksi daring.

Inilah sebabnya mengapa perusahaan-perusahaan ecommerce, terlepas dari apapun produk jualan mereka, cenderung diuntungkan oleh perubahan pola konsumsi orang Indonesia dalam setahun terakhir.

Pelapak di ecommerce, yang sebagian dapat dikategorikan sebagai pelaku UMKM, juga diuntungkan.

Riset yang dilakukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengamini hal tersebut.

Berdasarkan survei yang mereka lakukan lewat kerja sama dengan ecommerce Tokopedia, didapat kesimpulan bahwa sebanyak 7 dari 10 pelaku usaha di platform tersebut mencatatkan peningkatan volume penjualan dengan median 133 persen.    

Gambaran kasarnya, jika seorang pelapak daring di Tokopedia biasa meraup omzet Rp10 juta dalam sepekan, sejak pandemi rata-rata omzet 7 dari 10 para pelapak tersebut bisa menyentuh Rp23 juta lebih.

Sebagai informasi, pada 2019 jumlah nilai transaksi di Tokopedia ditaksir mencapai US$1,6 miliar. Dengan asumsi pertumbuhan median sebagian besar pelapak mencapai 133 persen, artinya jumlah transaksi di platform tersebut kemungkinan berkisar US$3 miliar atau setara Rp43 triliun lebih.

Imbas dari peningkatan perputaran ini, tentu saja, kemudian menguntungkan perusahaan-perusahaan jasa logistik. Sebab bagaimanapun transaksi daring mustahil terjadi jika tanpa peran perusahaan-perusahaan ini.

Apalagi kenaikan transaksi bukan cuma dialami Tokopedia, tapi juga ecommerce-ecommerce lain seperti Shopee dan Bukalapak.

Dalam sebuah wawancara pada pengujung tahun lalu, pada semester I/2020 saja CEO SiCepat Express The Kim Hai sempat membeberkan bahwa nilai transaksi pengiriman paket di perusahaannya telah mencapai lebih dari Rp3,5 triliun atau naik 191 persen dari rapor semester I/2019.

Dalam satu hari, The mengklaim bahwa sejak pandemi muncul timnya bisa mengirimkan sekitar 1 juta paket.

Saat masa-masa krusial seperti hari belanja online nasional (harbolnas), tahun lalu SiCepat bahkan sempat memecahkan rekor dengan pengiriman 5 juta paket dalam sehari. 

Perusahaan lain, J&T Express mencatatkan rapor tidak kalah sensasional. Startup jasa logistik yang dirintis oleh eks CEO Oppo Indonesia Jet Lee tersebut mengklaim bahwa sejak pandemi mereka bisa mengirim 1,7 juta paket per hari. 

Saat harbolnas tahun lalu, perusahaan ini bahkan bisa memecahkan rekor pengiriman paket sebanyak 20 juta paket dalam sehari. 

Tak heran bahwa SiCepat dan J&T sama-sama menyita perhatian dan santer dikabarkan di ambang status unikorn, istilah yang biasa dipakai untuk melabeli startup dengan valuasi di atas US$1 miliar.

Sebagai informasi, laporan Tech in Asia menyebut valuasi terakhir SiCepat setelah putaran pendanaan terakhir mereka akhir tahun lalu berada di kisaran US$736 juta.

Sementara J&T masih berada pada valuasi di kisaran US$500an juta, namun Deal Street Asia menyebut bahwa perusahaan tersebut tengah merencanakan putaran pendanaan hingga nominal kisaran US$2 miliar yang akan langsung meroketkan valuasi perusahaan. 

Ke depan, prospek-prospek perusahaan di atas—dari mulai peritel modern, ecommerce hingga jasa logistik—agaknya akan terus menjadi yang paling diuntungkan dari perubahan pola konsumsi orang Indonesia.

Mengacu riset yang dipublikasi RedSeer, sebelum pandemi proyeksi pertumbuhan penetrasi e-commerce Indonesia 2020 mulanya berada di kisaran 54 persen. Angka tersebut memang sudah tinggi, namun nyatanya masih menurut RedSeer, pandemi membuat penetrasi tahun lalu melambung lagi mencapai kisaran 91 persen.

Imbasnya, hitungan nilai transaksi pun meningkat.

Dengan total gross market value (GMV) di atas US$40 miliar, RedSeer bahkan menyebut jika tahun lalu pangsa pasar ecommerce Indonesia telah berhasil melampaui negara kiblat ecommerce Asia lain yakni India. GMV ecommerce di India tahun lalu diproyeksi mentok pada kisaran US$38 miliar. 

GMV Ecommerce (dalam US$ juta)
 

Sumber: RedSeer

Bank Indonesia (BI) pun mengamini hal tersebut. Dan, seperti halnya kebanyakan riset ilmiah lain, BI juga menilai bahwa pertumbuhan yang dialami Indonesia akan terjadi semakin pesat seiring adanya perubahan pola akibat pandemi.

Dalam hitungan versi Bank Indonesia, tahun lalu total nilai transaksi di ecommerce tanah air berkisar Rp253 triliun. Untuk tahun 2021 ini, nominalnya bakal diperkirakan naik seitar 33,2 persen menjadi Rp337 triliun.

“Ekonomi dan keuangan digital kita bergerak luar biasa. Pandemi ini mendorong sangat kuat, angka-angka yang dipantau juga cenderung meningkat,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers 24 Januari 2021 lalu. 

Untuk tahun 2022-2025, Perry juga menyebut pertumbuhannya akan bisa semakin pesat. Apalagi jika perubahan pola konsumsi masyarakat yang terjadi dalam setahun terakhir terus bertahan hingga tahun-tahun mendatang.

Tags:

Ekonomi