Memahami Volatilitas Kripto

Fauzan Ahmad

[Waktu baca: 4 menit]

Seperti pisau bermata dua, terkadang suatu kelebihan bisa sekaligus menjadi sebuah kelemahan, dan gambaran tersebut agaknya berlaku untuk jual beli aset kripto.

Trading ataupun investasi aset kripto acap bikin seseorang tambah kaya dalam sekejap. Namun, aktivitas yang sama juga bisa membuat siapa saja melarat dalam hitungan hari, jam, bahkan menit. Dan atas semua itu, kita lazim memuji sekaligus menyalahkan volatilitas tinggi yang dimiliki kripto.

Volatilitas adalah istilah yang biasa dipakai untuk menggambarkan ukuran tingkat fluktuasi harga suatu benda dari waktu ke waktu. Semakin tajam kenaikan yang terjadi dalam jangka pendek, berarti semakin tinggi volatilitasnya. Begitu pula sebaliknya.

Memahami bagaimana volatilitas suatu aset bekerja, meminjam perkataan investor senior Warren Buffett, “tidak membutuhkan kecerdasan tinggi atau gelar khusus di bidang ekonomi.” 

Apa yang dibutuhkan seseorang, masih menurut Buffett, adalah kemampuan untuk mengesampingkan antusiasme ataupun ketakutan yang sedang terjadi di pasar dan berusaha fokus pada beberapa prinsip fundamental sederhana.

Singkatnya, daripada ikut-ikutan latah menyalahkan Elon Musk dan pemerintah China, yang sikapnya belakangan bikin aset-aset kripto boncos, penting untuk kembali mengingat bahwa volatilitas kripto juga terjadi karena dorongan beberapa hal mendasar.

Toh lagipula, seberapa keras pun makian Anda juga tidak akan menghapus dampak  yang telah ditimbulkan dari cuitan Musk atau kebijakan Beijing.

Baru

Tahukah Anda bahwa ada penelitian yang menyebut jika otak manusia baru mencapai pertumbuhan maksimal, alias mencapai tingkat kematangannya pada usia 25 tahun? Tahukah bahwa sebelum mencapai pertumbuhan maksimal itu pula, manusia cenderung banyak bersifat tidak konsisten dan tidak rasional dalam melangkah?

Sebuah riset oleh peneliti Sara B Jonson, Robert W Blum dan Jay N Giedd yang kerap dirujuk sebagai salah satu penelitian penting di dunia, berkata demikian. 

Studi tersebut tentunya tidak punya kaitan langsung dengan kripto berikut volatilitasnya. Namun, studi ini bisa dijadikan sebagai analogi untuk memahami salah satu aspek yang membuat harga kripto cenderung volatil.

Ya, hal itu adalah usia pasar yang masih muda.

Jika dirunut mundur, pasar saham atau pasar modal di dunia sudah ada sejak awal abad 17. Tepatnya pada tahun 1611, ketika Belanda mulai memperkenalkan pasar modal di Amsterdam. Pasar modal AS, yang dalam perkembangannya banyak jadi acuan global, juga terlahir pada abad 17an. Artinya, usia pasar saham sudah 300 tahun lebih.

Emas, sebagai contoh aset investasi lain, juga berumur tidak kalah tua. Benda ini ditemukan sejak sebelum masehi, dan konon sudah punya nilai tinggi sejak zaman itu. Arsip lain dari BBC, mengatakan komoditas tersebut mulai dipandang sebagai opsi aset investasi sejak abad 16. Namun terlepas manapun vonis yang benar, tetap saja umur emas sebagai aset berharga tergolong tua.

Kripto, di sisi lain, baru seumur jagung. Bahkan Bitcoin, kripto paling kondang yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar baru ditemukan pada 2009 alias tak lebih dari 12 tahun lalu.

Dengan usia yang jauh lebih muda itu, tak heran jika kripto cenderung inkonsisten ketimbang saham ataupun emas. Sebagaimana seorang remaja relatif lebih labil ketimbang orang-orang yang sudah dewasa.

Likuiditas

Hal lain yang juga membuat kripto cenderung punya volatilitas tinggi ialah likuiditas yang rendah. Sesuatu yang memiliki likuiditas rendah biasanya cenderung lebih sensitif atau peka terhadap fluktuasi harga yang mendadak, meski tidak selalu tajam.

Dalam konteks aset kripto, likuiditas juga dapat dimaknai kemampuan suatu aset kripto untuk dengan mudah dikonversi menjadi uang atau benda berharga lain yang dapat diperdagangkan dengan jaminan tidak ada perubahan nilai yang signifikan.

Sebenarnya, tidak semua aset kripto memiliki likuiditas rendah. Namun, kecenderungannya adalah demikian.

Apesnya, dalam konteks suatu aset investasi, likuiditas adalah hal penting karena banyak perusahaan membutuhkan instrumen investasi dengan likuiditas tinggi. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan perusahaan jika sewaktu-waktu ada keperluan mendadak yang membutuhkan uang dalam jumlah besar.

Likuiditas yang rendah pada akhirnya cenderung membuat investor-investor besar tak banyak menyimpan kekayaannya dalam bentuk kripto. Emas, misal, biasanya masih dipandang sebagai opsi lebih menjanjikan karena bisa dijual sewaktu-waktu tanpa perlu banyak khawatir.

Memang, tak dapat disanggah pula bahwa dalam beberapa tahun terakhir mulai bermunculan perusahaan yang menyimpan investasinya dalam jumlah besar ke dalam bentuk aset kripto. Namun, jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan mereka yang menyimpannya dalam bentuk emas, surat berharga atau bahkan saham.

Regulasi

Pada akhirnya likuiditas punya kaitan dengan keberadaan regulasi. Cenderung minimnya regulasi yang memberi ruang bagi transaksi kripto membuat potensi aset ini sebagai opsi instrumen investasi maupun alat transaksi belum tergali dengan maksimal.

Namun lebih dari itu, mininya regulasi terhadap transaksi kripto juga menimbulkan beragam ketidakpastian di kalangan pelaku pasar. Utamanya ketidakpastian mengenai bagaimana nasib aset ini ke depannya. Akankah negara-negara di dunia kelak cenderung memberi kelonggaran terhadap keberadaan kripto? Atau justru sebaliknya, seperti yang terjadi sejauh ini?

Puncaknya, ketidakpastian itulah yang kemudian menjadi ruang bagi banyak sentimen untuk mempengaruhi harga.

Elon Musk, Bill Gates, Warren Buffett dan pemerintah-pemerintah di berbagai penjuru dunia adalah kalangan besar. Mereka memiliki jutaan bahkan ratusan juta pengikut, yang tentu juga memiliki pengaruh di lingkungan sekitarnya.

Maka, di tengah ketidakpastian itu, wajar jika pada akhirnya perkataan Musk, Gates, Buffett, hingga sinyal sikap pemerintah sejumlah negara punya andil besar menentukan persepsi pelaku transaksi aset kripto untuk melakukan aksi jual ataupun beli.

Seorang penggemar setia mobil Tesla rintisan Elon Musk, misal, bisa saja menjual seluruh Bitcoin yang dia punya begitu si bos besar berkata Tesla tidak akan lagi menerima aset kripto tersebut sebagai alat pembayaran. Bisa kita bayangkan berapa besar orang yang melakukan aksi jual meningat Tesla bukanlah merek kecil. Dan, aktivitas jual yang masif ini pula yang menjadi pemberat untuk Bitcoin.

Itu baru Bitcoin, satu dari bejibun jenis aset kripto yang saat ini beredar. Belum jika bicara soal aset kripto lain seperti Ethereum, Dogecoin, Binance Coin, dan lainnya yang masing-masing memiliki karakteristik dan sentimen penopang berbeda.

Tidak ada yang tidak mungkin. Bisa saja kelak aset kripto akan bisa terbeas dari volatilitas yang jadi kelebihan sekaligus kelemahan mereka. Namun, kembali lagi pada faktor-faktor di atas; kematangan, likuiditas, dan adanya regulasi jelas yang memberikan banyak kelonggaran akan menjadi penentu penting nasib aset kripto di masa depan.

 

Tags:

Investasi