Memahami Obligasi dari Papan Jungkat Jungkit

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 4 menit]

Siapa yang pernah bermain papan jungkat jungkit atau enjot-enjotan? Alat bermain ini tersedia di taman kanak-kanak atau taman bermain di berbagai daerah.

Permainan papan jungkat jungkit biasanya membutuhkan pemain minimal dua orang. Satu orang duduk di satu sisi, satu orang lain duduk di sisi lainnya. Ketika satu sisi terangkat, satu sisi turun.

Papan jungkat-jungkit (the seesaw) dapat digunakan untuk memahami hubungan antara suku bunga dan harga obligasi. Pada saat suku bunga naik, harga obligasi turun. Begitu pula sebaliknya. Fenomena ini dikenal dengan risiko suku bunga (interest rate risk).

Korelasi Terbalik

Seperti diketahui, obligasi adalah surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah dan korporasi untuk mendapatkan utang. Obligasi merupakan produk investasi yang dapat dimiliki oleh investor untuk mendapatkan keuntungan.

Persentase keuntungan yang ditawarkan obligasi disebut sebagai kupon (bunga). Sebagai sebuah produk investasi, obligasi memiliki harga. Harga tersebut dapat naik atau turun di pasar sekunder karena faktor permintaan dan penawaran.

Pergerakan harga obligasi tersebut berkorelasi terbalik dengan suku bunga. Pada saat suku bunga turun, harga obligasi akan meningkat karena nilainya terdampak.

Begini ilustrasinya. Misalnya, pemerintah di negara X menerbitkan obligasi CDT dengan kupon 6% per tahun pada saat suku bunga berada di level 5%. Setahun kemudian, suku bunga turun ke level 4%.

Apa yang terjadi terhadap obligasi CDT? Dalam hal kupon, tidak ada. Obligasi CDT tetap harus membayar kupon sebesar 6% per tahun kepada investor. Namun, apabila obligasi CDT itu hendak dijual di pasar sekunder sebelum jatuh tempo, harganya akan lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya.

Kok bisa? Jawabannya, obligasi CDT itu punya kupon yang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi lain yang diterbitkan setelah suku bunga acuan diturunkan sehingga memiliki kupon lebih rendah. Obligasi CDT tampak atraktif dibandingkan dengan obligasi yang diterbitkan sesudahnya.

Seiring peningkatan harga, imbal hasil hingga jatuh tempo (yield to maturity) dari obligasi CDT akan turun bagi investor yang membeli obligasi tersebut di harga yang lebih tinggi.

Sebaliknya, bagaimana jika suku bunga meningkat? Misalnya, suku bunga dinaikkan dari 5% menjadi 6,5% setahun kemudian. Apabila obligasi CDT dijual di pasar sekunder sebelum jatuh tempo, harga obligasi CDT akan turun dibandingkan dengan harga setahun lalu.

Mengapa? Dengan logika yang sama berarti obligasi CDT memiliki kupon yang lebih rendah dibandingkan dengan obligasi yang diterbitkan setelah suku bunga naik dengan kupon yang lebih tinggi. Besaran kupon obligasi biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga.

Seiring penurunan harga, yield to maturity dari obligasi CDT akan meningkat bagi investor yang membeli obligasi tersebut di harga yang lebih rendah. 

Jatuh Tempo dan Interest Rate Risk

Setiap obligasi memiliki tanggal jatuh tempo. Pada saat jatuh tempo, modal investor atau yang juga dikenal dengan istilah nilai nominal, akan dikembalikan oleh penerbit kepada investor. Dalam investasi obligasi, investor “meminjamkan uang” kepada penerbit.

Semakin lama jatuh tempo sebuah obligasi maka risiko suku bunganya akan semakin tinggi. Mengapa? Obligasi tersebut memiliki risiko lebih tinggi terkena dampak perubahan suku bunga di masa depan. 

Begitupula sebaliknya apabila obligasi memiliki jatuh tempo yang lebih pendek. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, perubahan suku bunga berdampak negatif atau terbalik terhadap pergerakan harga obligasi.

Dengan demikian, penerbit obligasi akan mengkompensasi lamanya jatuh tempo itu dengan kupon yang lebih tinggi. Dengan kata lain, obligasi dengan jatuh tempo lebih lama biasanya memiliki kupon yang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi sejenis dengan jatuh tempo lebih pendek.

Investasi