Medan Pertarungan Bank Digital di Indonesia

Berkah Rio

[Waktu baca: 5 menit]

 Dua tahun terakhir, topik bank digital makin kental mewarnai perbincangan seputar sistem keuangan nasional. Kondisi pandemi seperti menyentak kesadaran tentang besarnya prospek perbankan digital di masa mendatang.

Sebab, jangankan di masa depan, saat ini pun kondisi pembatasan mobilitas masyarakat menuntut hadirnya layanan perbankan yang unggul dan mampu menjawab berbagai kebutuhan masyarakat tanpa harus melalui kontak fisik. Perbankan digital diyakini menjadi jawaban bagi tantangan sistem keuangan nasional.

Saat ini, keunggulan perbankan digital sejatinya memang sudah bisa sedikit dikecap oleh masyarakat. Semua bank-bank besar sudah menyiapkan layanan digital melalui aplikasi mobile yang bisa diinstal di gawai smartphone.

Namun, perbankan digital sesungguhnya memuat potensi yang lebih besar, bukan sekadar memindahkan layanan yang semula dilakukan secara fisik ke dalam aplikasi cerdas.

Perbankan digital justru membuka kemungkinan hadirnya jenis-jenis layanan perbankan baru yang belum ada sebelumnya.

Layanan perbankan digital ini memiliki potensi yang sangat besar di Indonesia, apalagi Indonesia memiliki populasi penduduk yang sangat tinggi. Selain itu, jumlah masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan juga masih sangat besar. Ini menjadi pangsa pasar yang gemuk bagi bank digital.

Potensi ini tampaknya kini mulai disadari banyak pihak. Tidak mengherankan jika akhir-akhir ini makin banyak investor yang berlomba-lomba untuk membentuk bank digital di Indonesia, terutama melalui akuisisi dan transformasi bank-bank kecil yang selama ini kurang berkembang.

Bank-bank kecil ini relatif lebih mudah dibentuk daripada harus merombak bank-bank yang sudah kadung besar dan memiliki biaya operasional tinggi.

Di pasar modal, mendadak saham sejumlah bank kecil yang diisukan bakal menjadi bank digital pun sempat melonjak harganya hingga di batas yang tak lagi wajar. Kemunculan bank-bank dengan rencana transformasi digital ini pun terkesan mendadak dan berbarengan, sehingga seperti menandai tren baru.

Namun, apakah transformasi tersebut bakal sukses? Kenyataannya, landasan regulasi bagi pendirian bank digital di Indonesia pun belum sepenuhnya siap. Di sisi lain, kemunculan beberapa bank yang berencana akan menjadi bank digital pun memberi sinyal bakal ketatnya persaingan di masa depan.

Menjamurnya Bank Digital

Sebelum menjadi sangat hangat akhir-akhir ini, langkah transformasi menuju perbankan digital sudah mulai dirintis di Indonesia. Kita mengenal Jenius dari Bank PTBN, lalu Digibank dari Bank DBS, OCTO Mobile dari CIMB Niaga, dan TMRW dari Bank UOB.

Layanan perbankan yang ditawarkan oleh perbankan digital tersebut cukup inovatif dan berbeda dibandingkan yang bisa ditemui pada aplikasi mobile banking bank-bank lain.

Pada akun Jenius, misalnya, kita dapat menemui layanan Moneytory yang layaknya buku harian keuangan. Ada fitur penagihan uang ke teman yakni Pay Me, ada juga fitur untuk membayar secara patungan dengan teman melalui Split Bill.

Transformasi BTPN menjadi Jenius ini diinisiasikan oleh Jerry Ng. Oleh karena itu, ketika Jerry Ng mengambil alih PT Bank Artos Tbk. pada 2019 lalu bersama dengan rekannya yakni Patrick Sugito Walujo, isu yang santer terdengar adalah bahwa Bank Artos bakal menjadi bank digital seperti Jenius.

Memang benar, itulah rencananya. Namun, Jerry Ng punya rencana yang lebih besar dengan Bank Artos, yang kini sudah berubah namanya menjadi Bank Jago. Bank Jago bakal mengadopsi teknologi komputasi awan, yang selama ini belum digunakan oleh bank-bank di Indonesia.

Sistem ini bakal lebih ramah dengan teknologi perusahaan e-commerce dan dompet digital. Lebih dari Jenius, Bank Jago digadang-gadang bakal lebih dalam berkolaborasi dengan ekosistem digital lainnya yang sudah terbangun dengan cukup baik di Indonesia.

Belakangan, Gojek akhirnya turut masuk menjadi pemegang saham emiten dengan kode saham ARTO itu melalui Gopay atau PT Dompet Karya Anak Bangsa. Hal ini menjadi sinyal jelas bahwa ARTO bakal masuk dalam ekosistem Gojek.

Bahkan, dengan mergernya Gojek dan Tokopedia, ekosistem digital yang dimasuki ARTO bakal lebih luas lagi hingga ke e-commerce. Tidak mengherankan jika akhirnya saham ARTO kini bergerak di atas level Rp11.000, padahal Jerry Ng dan Patrick Walujo dulunya membeli bank ini hanya di harga Rp395.

Namun, langkah gesit ARTO tidak dibiarkan begitu saja oleh para pesaing lain yang juga mengincar keuntungan yang besar dari bisnis perbankan di Tanah Air.

Konglomerasi bisnis dari luar negeri seperti Alibaba dan Sea Group juga punya rencana besar untuk mengembangan bank digital mereka di Indonesia dan menggabungkannya dengan ekosistem digital mereka, mengikuti jejak Tencent yang sudah lebih dahulu masuk melalui Gojek.

Alibaba melalui perusahaan teknologi finansialnya di Indonesia yakni PT Akulaku Silvrr Indonesia telah memiliki PT Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB). Bank itu belakangan berubah nama menjadi Bank Neo Commerce dan tentu saja akan menjadi bank digital.

Alibaba juga menjadi salah satu pemegang saham Tokopedia, Bukalapak, Lazada, DANA, Akulaku. Jelas, Alibaba sudah memiliki ekosistem digital yang besar di Indonesia.

Sementara itu, Sea Group mengambil alih PT Bank Kesejahteraan Ekonomi dan mengganti namanya menjadi Sea Bank. Sea Group menjadi pengendali e-commerce terbesar di Asia Tenggara saat ini, Shopee.

Di kalangan konglomerasi dalam negeri, CT Corp telah mengakuisisi PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) yang juga akan dijadikan bank digital. CT Corp memiliki jaringan bisnis yang luas, mulai dari media, keuangan, hingga ritel.

Sementara itu, Grup Djarum melalui PT Bank Central Asia Tbk. mengembangkan sendiri bank digital mereka setelah mengakuisisi PT Bank Royal Indonesia dan mengubah namanya menjadi Bank Digital BCA.

Di kalangan bank syariah, PT Bank Net Syariah Tbk. (BANK) juga berencana bertransformasi diri menjadi bank digital syariah. Bank ini sudah berkali-kali berganti nama, dari sebelumnya PT Maybank Syariah Indonesia, kini akhirnya diubah lagi menjadi PT Bank Aladin Syariah Tbk.

Selain itu, saat ini pasar juga masih menanti kelanjutan isu digitalisasi pada bank kecil lain seperti PT Bank Bumi Artha Tbk. (BNBA) dan PT Bank Capital Tbk. (BACA). Setelah dirumorkan bakal diakuisisi oleh Sea Group, kabar keduanya belum terdengar lagi.

Terakhir, BACA dikabarkan sedang dekat dengan Grab. Kabarnya, perusahaan ride hailing itu tengah menjajaki peluang pembelian saham BACA melalui Ovo. Lagi pula, sejumlah eksekutif Ovo pun telah hijrah ke BACA dan sayap bisnisnya.

Baru-baru ini, PT FinAccel Teknologi Indonesia, pengembang Kredivo, juga telah membeli saham salah satu bank kecil, yakni PT Bank Bisnis Internasional Tbk. (BBSI). Tentu, ada rencana penguatan ekosistem digital di baliknya.

Sebelumnya, sudah ada PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) yang sudah lebih dahulu memposisikan diri sebagai bank digital dan menghadirkan layanan fintech digital lending Tunaiku. AMAR menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk mengembangan layanan banknya ke ranah fintech. 

Baca juga: Sampai 6.000%! Bank Digital dan Lonjakan Sahamnya

Tak Mudah Jadi Besar

Peta persaingan di industri perbankan nasional sudah sejak lama tidak berimbang. Jumlah bank di Indonesia sangat banyak, mencapai ratusan perusahaan. Pada saat yang sama, kue terbesar bisnis keuangan nasional hanya dikuasai oleh segelintir bank-bank besar.

Oleh karena itu, menjadi bank digital seakan menjadi jalan keluar bagi bank-bank kecil yang selama ini sulit berkembang untuk mampu menantang dominasi pemain besar konvensional. Lobi-lobi dengan investor pun makin gesit dilakukan demi menjadi besar.

Lagi pula, pada saat yang sama, Otoritas Jasa Keuangan menuntut bank-bank kecil yang modalnya masih terbatas untuk segera menambah modal hingga minimal menjadi Rp3 triliun pada 2022 nanti. Jika hanya sekadar menambah modal tanpa rencana bisnis yang jelas, tentu akan sia-sia dan tidak diminati investor.

Oleh karena itu, hijrah menjadi bank digital adalah narasi paling menarik yang bisa ditawarkan. Apalagi, seperti sudah disebutkan sebelumnya, bank-bank kecil ini memiliki keunggulan kompetitif karena kapasitasnya yang masih kecil, sehingga relatif lebih mudah diubah arah bisnisnya.

Ditambah lagi dengan ambisi sejumlah investor untuk menikmati peluang bisnis besar di industri digital masa depan, visi tersebut seakan berjodoh. Adanya pandemi juga memperkuat kesadaran tentang pentingnya beralih ke digital, sehingga kian memperkuat keyakinan untuk mengembangkan bank digital.

Namun, tentu saja langkah ini tak mudah.

OJK sendiri masih mematangkan regulasi untuk mengakomodasi pendirian bank digital ini. Sayangnya, isu yang berkembang adalah OJK bakal menetapkan batasan modal yang tinggi bagi pendirian bank digital baru, yakni Rp10 triliun. Namun, wacana tersebut belum matang.

Di sisi lain, dari sisi kinerja, bank-bank kecil selama ini juga memiliki rekam jejak kinerja yang tidak begitu cemerlang, apalagi selama pandemi. Nama mereka selama ini kurang begitu populer, sehingga jasanya hanya mencakup sebagian kecil kalangan.

Berikut ini kinerja kredit mereka, khususnya yang berstatus emiten, sepanjang 2020 lalu:

Dari data itu, terlihat bahwa kapasitas penyaluran kredit mereka relatif masih sangat kecil, kurang dari Rp5 triliun. Sementara itu, laba bank-bank ini juga mayoritas cukup tergerus tahun lalu. Bank Jago bahkan ruginya makin membengkak. Berikut ini kinerja laba bersih mereka:

Jika kinerja kredit masih terbatas, suntikan modal baru cenderung akan menjadi idle atau tidak terpakai. Hal ini justru menjadi pemborosan dan kurang menguntungkan bagi investasi. Namun, jika tuntutan regulasi nantinya mengharuskan bank-bank ini menyiapkan modal dasar jumbo, mau tidak mau risiko tersebut harus diterima.

Upaya rebranding dengan menjadi bank digital tidak akan serta merta mengubah nasibnya 180 derajat. Beban keuangan masa lalu tetap harus diberesi. Upaya sosialisasi, edukasi, dan pemasaran pun tetap harus dilakukan agar akuisisi nasabah berjalan mulus.

Untuk itu, kemungkinan strategi ‘bakar duit’ pun harus ditempuh jika ingin menarik minat pengguna jasa yang selama ini sudah nyaman dengan bank-bank konvensional yang ada.

Sebab, pada akhirnya inti dari layanan perbankan adalah untuk menjadi perantara antara masyarakat yang kelebihan dana dengan yang membutuhkan dana. Semua inovasi digital mengarah ke sana. Jika bank gagal mengembangkan penyaluran kreditnya, embel-embel digital menjadi sia-sia.

Fitur-fitur baru yang ditawarkan oleh bank-bank digital pun masih harus diuji, apakah benar-benar dibutuhkan masyarakat ataukah tidak. Biaya untuk inovasi bagi hadirnya fitur-fitur itu tentu tidak sedikit, apalagi biaya untuk trial and error.

Sementara itu, bank-bank besar pun tentu tidak akan tinggal diam membiarkan terjadinya eksodus nasabah ke bank-bank digital baru ini. Bagaimanapun, bank-bank besar ini sudah memiliki infrastruktur dan jaringan layanan yang lebih luas dan mumpuni, plus modal yang lebih kuat juga.

Tantangan terbesar tentu datang dari BCA dengan bank digitalnya. Selama ini, BCA sudah menjadi bank swasta terbesar di Tanah Air dengan kualitas layanan yang unggul. Relatif tidak sulit bagi BCA untuk mengulang kesuksesan tersebut pada bank digitalnya nanti.

Selain itu, bank-bank milik negara pun tentu bakal memperkuat ekosistem bisnisnya. Bank Mandiri sudah mulai gesit dengan rebranding aplikasi mobile banking mereka menjadi Livin’ by Mandiri. BNI dan BRI juga berencana untuk memperkuat layanan digital mereka.

Jika demikian, pertarungan di medan perbankan digital akan menjadi berdarah-darah. Mungkin akan ada yang tumbang, atau peta persaingan industri perbankan tetap akan bertahan seperti saat ini, yakni pada akhirnya pemain besarlah yang akan tetap mendominasi.
 
 
 

Tags:

Investasi