MBAP: Terkerek Tren Harga Batu Bara

Tirta Prayudha

Sepanjang tahun ini, harga jual batu bara melambung hingga sempat mencapai titik tertingginya setelah sebelumnya tak begitu bergairah. Kondisi ini belakangan berpengaruh pada kinerja emiten batu bara yang melantai di bursa. 

Terlepas dari harga sahamnya yang saat ini belum dilirik pelaku pasar, emiten batu bara dikenal cukup royal dalam membagikan dividen ketika bottom line mereka menghijau. Apalagi untuk emiten-emiten yang bebas dari kewajiban membayar beban bunga dan cicilan utang, seperti Indo Tambang Raya Megah (ITMG) dan Harum Energy (HRUM) yang memang dikenal malas berutang.

Di luar itu, ada emiten-emiten batu bara yang secara ukuran relatif kecil jika dibandingkan para raksasa seperti Bumi Resources, Adaro, Indika atau Bukit Asam tapi dengan kinerja yang tidak kalah cemerlang.

Salah satunya adalah PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP). Kami sempat mengulasnya sebagai salah satu emiten batu bara yang konsisten

Emiten ini adalah salah satu perusahaan pertambangan batu bara yang listing di bursa. Meskipun memiliki beberapa anak perusahaan yang bergerak di luar sektor batu bara, mayoritas pendapatannya masih berasal dari sektor ini.

Secara ukuran, MBAP terasa kerdil jika dibandingkan dengan para seniornya yang ada di bursa. Produksi batu bara mereka untuk tahun 2020 hanya berkisar sekitar 4 juta ton, jauh sekali jika dibandingkan dengan BUMI, INDY atau ADRO yang produksi tahunannya sudah mencapai puluhan juta ton.

Karena ukurannya yang kecil inilah, perusahaan dikelola dengan sangat hati-hati. Perusahaan yang masih berada dalam naungan grup Baramulti ini, sangat prudent dalam mengelola kas perusahaan. Mereka berkomitmen untuk membiayai mayoritas project mereka dengan ekuitas (modal) ketimbang berutang ke bank.

Oleh karena itu, neraca mereka terbebas dari utang bank yang biasanya akan membebani kinerja keuangan perusahaan batu bara ketika harga jual sedang tidak bersahabat. (Yes, we’re looking at you, BUMI and INDY).

Dengan alasan di atas, MBAP cukup royal dalam membagikan dividen yang berasal dari laba bersih mereka. Yield-nya pun tidak tanggung-tangguh, seringkali dividend yield yang mereka bagikan di atas 10%.

MBAP termasuk Perusahaan yang membagikan dividen kepada pemegang sahamnya sebanyak dua kali dalam setahun, berupa dividen interim dan dividen final. Tren yang sama diperkirakan akan berlanjut tahun ini.

Seperti layaknya emiten batu bara yang lain, kinerja MBAP juga ikut terkerek harga jual batu bara yang tinggi sepanjang tahun 2021. Di first half 2021, laba bersih mereka sudah mencapai $29 juta, yang sudah melebihi laba tahun penuh 2020 sebesar $27 juta!

Jika disetahunkan, laba bersih MBAP di akhir tahun nanti akan berkisar $58-$60 juta, atau sekitar Rp830 miliar-Rp860 miliar.

Besaran laba itu, jika dibagi dengan jumlah saham MBAP yang beredar, maka di akhir tahun nanti earning per share (EPS) MBAP kira-kira akan sebesar Rp700 per lembar.

Jika manajemen MBAP memutuskan untuk membagikan 50% saja dari laba bersih itu (payout ratio) sebagai dividen, maka besarannya akan sekitar Rp350 per lembar atau sekitar 11,3% dari harga sahamnya saat ini di Rp3,090 per lembar (9 Agustus 2021).

Besaran itu sangat masuk akal, mengingat posisi kas dan setara kas MBAP per Q2 2021 saja sudah melebihi $120 juta atau sekitar Rp1,7 triliun. Membagikan dividen sebesar Rp800 miliar terasa sangat mungkin terjadi apalagi jika mempertimbangan besaran free cash flow MBAP yang rata-rata Rp700 miliar per tahun. 

Apalagi jika nanti manajemen Perusahaan memutuskan dividend payout ratio MBAP lebih dari 50%, maka dipastikan dividend yield-nya akan lebih tinggi dari 11,3%.

 

Oke, sekarang ke risiko di saham MBAP.

Pertama, seperti yang sekilas sudah  dibahas di atas, jika dibandingkan dengan emiten batu bara yang lain, produksi batu bara MBAP sangat kecil. Bahkan produksi mereka ditargetkan menurun di tahun ini, hanya sekitar 3,5 juta ton jika dibandingkan dengan 4 juta ton di tahun lalu.

Berdasarkan rilis public expose perusahaan, cadangan batu bara mereka hanya tersisa sekitar 20-24 juta ton. Dengan produksi tahunan sebanyak 3,5-4 juta ton, maka cadangan itu akan habis dikeruk hanya dalam waktu 7-8 tahun lagi.

Jadi, keberlangsungan usaha perusahaan sangat bergantung kepada akuisisi lahan tambang baru yang dilakukan Perusahaan ke depannya.

Kedua, saham MBAP tergolong tidak likuid. Volume trading hariannya hanya berkisar ratusan juta rupiah saja. Hal ini tergolong wajar mengingat porsi kepemilikan publik di perusahaan ini tergolong kecil, hanya sebesar 10% saja.

Mayoritas kepemilikan saham MBAP saat ini digenggam oleh PT. Wahana Sentosa Cemerlang (60%) dan Idemitsu Kosan Co. Ltd (30%). Jadi jika ingin membeli saham ini, hanya bisa dilakukan dengan mencicil, jika tidak ingin membuat harga sahamnya bergerak.

Yang ketiga, kinerja MBAP sangat bergantung kepada harga jual batu bara. Ketika harga batu bara dunia rendah, kinerja keuangan MBAP akan terseret turun. Begitu juga sebaliknya.

Tapi melihat trend yang sedang terjadi, harga acuan batu bara setidaknya akan tetap tinggi hingga akhir tahun. Dan dividen yang dibayarkan MBAP tahun depan akan masih tinggi.

Perlu diingat, tahun lalu MBAP membayarkan mayoritas dividennya sebagai dividen interim yang dibayarkan pada bulan Agustus 2020. Sisanya dibayarkan sebagai dividen final di bulan April 2021.

Apakah trend yang sama akan kembali diulangi oleh manajemen tahun ini? Kita tunggu saja.

 

MBAP Chart by TradingView

Investasi