Mau Kemana Sebenarnya IHSG? 

[Waktu baca: 5 menit]

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merupakan indikator dari pergerakan rata-rata harga saham yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada penutupan market pada Selasa, 21 April 2020, IHSG berada di level 4.489 atau turun 1,9% dalam sehari. 

Ya, di levelnya yang sekarang, IHSG bukan kabar yang baik bagi pelaku pasar baik kita sebagai investor, pegawai anggota bursa (perusahaan sekuritas ataupun aset manajemen), dan pihak lainnya yang tentu bersentuhan langsung dengan pasar modal Indonesia.

Dalam satu tahun terakhir, IHSG sempet “berjaya” bahkan menyentuh titik tertingginya yang berada pada level 6.696,47.

Namun, seperti di film kartun Avatar :The Legend of Aang, ketika negara api menyerang maka kejayaan tersebut dengan cepatnya rutuh begitu saja yang disebabkan oleh banyak faktor internal maupun eksternal.

Faktor Eksternal

Dari faktor eksternal, IHSG sempat terguncang  beberapa waktu lalu karena dua negara besar yaitu Amerika Serikat dan China melakukan perang dagang terkait kebijakan ekspor impor kedua negara tersebut.

Faktor lainnya, kebijakan Uni Eropa terkait upaya pengurangan emisi karbon sebesar 20% dengan mengeluarkan kebijakan biofuel (biodiesel dan bioethanol) yang dikenal dengan Renewable Energy Diretive (RED). Uni Eropa mengenakan bea masuk sebesar 8-18% atas produk-produk biodiesel asal Indonesia, yang tentunya sangat memukul industri kelapa sawit dalam negeri.

Setelah itu, pada akhir 2019, dunia mendapatkan “hadiah besar” dengan adanya virus baru yang pertama kali muncul di Wuhan, provinsi Hubei, China yaitu virus SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2) atau yang lebih dikenal di Indonesia dengan sebutan virus corona. 

Sampai 22 April 2020, sudah ada 2,557,000 jiwa orang yang dinyatakan positif virus tersebut dan jumlah orang meninggal mencapai 177.641 jiwa dari 234 negara.

Dampak Ekonomi

Hal tersebut tentunya memukul perekonomian di seluruh negara yang ada di dunia, termasuk dengan Indonesia.Hal tersebut tentunya memukul perekonomian di seluruh negara yang ada di dunia, termasuk dengan Indonesia.

Sumber: IMF

Data terbaru dari IMF (International Monetary Fund) dalam laporan bertajuk World Economic Outlook menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan sangat tertekan bahkan cenderung mengalami penurunan (negatif) 3% pada 2020.

Hal serupa pun terjadi di Indonesia. Dari data yang sama, IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan melambat tapi tidak sampai minus.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi oleh IMF berada pada level 0.5%. Angka tersebut masih lebih baik dari negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia diproyeksi IMF turun 3,5% dan 1,7% pada 2020.

Kabar baiknya, setelah virus corona ini diperkirakan mereda pada 2021, IMF memprediksi akan terjadi lonjakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia sebesar 8,2% pada 2021.

Sumber: IMF

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan beserta otoritas lain seperti Bank Indonesia dan  Otoritas Jasa keuangan memberikan stimulus untuk menstabilkan dan mempertahankan pertumbuhan Indonesia. Tak luput kebijakan untuk pasar modal Indonesia yang dikeluarkan oleh OJK serta BEI.

Dampak IHSG

Akibat pandemi covid-19, transaksi di BEI kurang bergairah yang ditandai dengan penurunan IHSG. Salah satunya didorong oleh keputusan investor asing yang terus menerus melakukan aksi jual hingga sebesar Rp18,13 triliun sampai 17 April 2020.

Hal tersebut menjadi tekanan yang cukup besar di pasar modal Indonesia. Kita bisa melihat grafik di bawah untuk pergerakan foreign flow accumulated terhadap IHSG sejak awal 2020.

Sumber: Philip Sekuritas

IHSG dibentuk atas pergerakan harga saham-saham yang ada dalamnya. Perhitungan IHSG sendiri menggunakan metode Market Capitalization Weighted Average. 

Dalam metode ini, index dibentuk dengan menitikberatkan pada market capitalization (kapitalisasi pasar) yang didapat dari perkalian antara harga saham dengan jumlah saham beredarnya. 

Dengan begitu, saham dengan kapitalisasi pasar paling besar maka lebih mempengaruhi pergerakan suatu indeks tersebut.


Sumber: Stockbit

Jika melihat pegerakan IHSG pada grafik di atas, IHSG sudah berada di level 4.575,90.  Tapi apakah IHSG mampu mempertahankan tahta nya di atas level 4.000 hingga akhir 2020?

Banyak “kabar burung” yang beredar di grup – grup saham, entah WhatsApp atau Telegram yang “memprediksi” IHSG ke level 3.800an –2.500. Kami mencoba melihat pergerakan IHSG secara historis.

Secara historis, IHSG tentunya mempunyai batas bawah yang disebut dengan support dan batas atas yang disebut dengan resisten. Untuk level supportnya, IHSG terdekat berada pada level 4.504,75, 4.470,26 serta 3.916,31 yang merupakan level terendah IHSG pada masa pandemi covid-19 ini dan terendah dalam 6 tahun terakhir.

Apakah IHSG masih memiliki batas bawah yang lebih dalam dari level 3.916,31? Menurut historisnya, support selanjutnya berada pada level 3.841,72 (posisi 28 Agustus 2013), 3.635,58 (4 Juni 2012) dan 3.256,44 (4 Oktober 2011).

Segala kemungkinan masih bisa terjadi dengan kondisi saat ini. Apalagi, jumlah orang terkonfirmasi positif corona meningkat setiap harinya dan belum ditemukannya vaksin untuk pandemi covid-19.

So, kami ingatkan Anda untuk menginvestasikan dana di instrumen yang tepat, sesuaikan dengan risk profile masing-masing investor dan menggunakan dana di luar dana darurat dan kebutuhan bulanan.

Apabila Anda berencana untuk berinvestasi saham, Big Alpha telah menyusun sebuah e-book kuartalan yang berisi 15 saham pilihan. Klik di sini untuk melakukan pemesanan.

Related Posts

Aksi Korporasi di Tengah Pandemi Covid-19

Leave a Comment

You need to sign in before leave a comment. Fields marked with an * are required.

Sign in

Subscribe To Big Alpha

Subscribe now and get exclusive news, advisory and more.