Manuver Bisnis MLPL dan Mimpi Grup Lippo

Berkah Rio

Saham emiten investasi strategis Grup Lippo, PT Multipolar Tbk. seakan bangkit dari kubur dan melejit dari kisaran 50 hingga ke level tertinggi dalam 5 tahun terakhir, tepatnya sejak paruh kedua 2015. Emiten dengan kode MLPL ini sempat menembus level Rp800, kendati setelahnya turun lagi ke level Rp700-an. Namun, dengan posisi itu, saham emiten yang dikenal sebagai induk bisnis ritel Grup Lippo ini sudah naik hampir 1.000% secara year to date (ytd).

Tak ayal, kenaikan yang tak wajar ini pun mendorong Bursa Efek Indonesia untuk memberikan suspensi atau penghentian sementara atas transaksi saham MLPL pada 8-15 Juni 2021 lalu. Segera setelah gembok sahamnya dibuka kemarin, Rabu (16 Juni 2021), saham MLPL terbang lagi 14,81% menjadi Rp775. Naiknya harga saham MLPL tampaknya tidak terlepas dari perkembangan informasi terkait rencana strategis, mulai dari wacana buyback saham oleh perseroan hingga aksi korporasi strategis berupa investasi di perusahaan digital. 

Mengenal MLPL

Sama seperti namanya, Multipolar, merupakan jejaring bisnis investasi milik Grup Lippo yang ditujukan menjadi pengendali dalam hal investasi strategis di berbagai lini bisnis 𑁋 perdagangan, ritel, multimedia dan teknologi. Belakangan, MLPL melepas PT Multifiling Mitra Indonesia Tbk. (MFMI) dan mendivestasikan seluruh sahamnya di MFMI sebanyak 92,46% kepada perusahaan asal Hong Kong yaitu Iron Mountain Hong Kong Ltd.

Beberapa emiten yang menjadi anak usaha MLPL antara lain adalah PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dan PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF), yakni peritel modern dan pengelola department store. Perseroan juga memiliki PT Multipolar Technology Tbk. (MLPT) di bidang IT system integrator.

Lini bisnis MLPT antara lain meliputi penyediaan layanan perangkat keras dan layanan integrasinya, sistem aplikasi dan layanan implementasinya, layanan IT consulting, hingga business process managed services, serta pengelolaan dan pengoperasian data center. Terakhir ada PT First Media Tbk. (KBLV) penyedia layanan telekomunikasi dan layanan televisi berlangganan yang juga memproduksi konten siaran.

Di luar anak-anak usaha yang berstatus emiten itu, perseroan juga memiliki banyak anak usaha lain yang bergerak di bidang properti, pusat hiburan keluarga, pengelolaan pusat perbelanjaan, perkantoran, dan apartemen, serta platform perdagangan barang dan jasa. Induk dari MLPL adalah PT Inti Anugerah Pratama (IAP) dengan kepemilikan sebesar 78%. IAP juga induk dari holding bisnis properti Grup Lippo, yakni PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR).

Tampaknya, diversifikasi bisnis dan pengelolaan multi bisnis adalah keahliah Multipolar. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Grup Lippo menggunakan MLPL untuk melanjutkan ambisinya merambah ke sektor yang strategis dan memperbanyak gurita bisnis milik keluarga Riady.

Dalam beberapa tahun terakhir, kinerja keuangan MLPL sebenarnya tidak begitu menggembirakan, tren selama lima tahun terakhir cenderung menurun. Hal itu juga yang menjadi faktor penyebab tertekannya saham perseroan yang sempat anjlok ke level gocap. Meskipun diterpa berbagai prahara, lewat serangkaian rencana strategis tahun ini serta inisiatif di lini digital, membangkitkan harapan baru bagi kinerja jangka panjang emiten ini. Alhasil, sahamnya pun bangkit kembali.

Sumber: Laporan Keuangan MLPL

Kepincut Potensi Digital

MLPL bukanlah pemain baru di industri digital. Sebelumnya, perseroan sudah memiliki MLPT anak usaha yang bergerak di sektor IT dan juga KBLV di bidang penyediaan konten dan jaringan infrastruktur telekomunikasi berupa internet pita lebar, televisi kabel, dan komunikasi data.

Lewat ekspansi ke ranah digital, Grup Lippo menyimpan potensi besar untuk menjadi raja dalam segala sektor. Peluang inilah yang tampaknya ingin dijajaki Grup Lippo. Perseroan sudah memiliki rencana strategis bahwa MLPT akan diarahkan untuk menjadi garda terdepan perseroan untuk menunjang peningkatan dalam ekonomi digital. Selama ini, MLPT sudah mendapatkan dukungan dari perusahaan IT kelas dunia, seperti IBM, Cisco, Oracle, NCR, VMWare, dan Microsoft.

Sementara itu, KLBF atau First Media yang selama ini sudah memiliki basis kuat pada penyediaan infrastruktur telekomunikasi dan konten juga memiliki peluang yang luas untuk didiversifikasikan pada aneka layanan digital lainnya. Terlebih rencana pemerintah soal perpindahan frekuensi analog ke digital sudah on track. Manajemen Multipolar telah menyampaikan bahwa dalam 3 hingga 5 tahun ke depan, perusahaan akan melakukan transformasi bisnis di bidang teknologi dan digital. 

Naiknya saham MLPL selama ini juga tidak terlepas dari rumor bahwa perseroan telah berinvestasi di platform edutech startup Ruangguru. Hanya saja, manajemen MLPL menyebut perseroan hanya membeli 3,38% saham Ruangguru senilai Rp21 miliar. Ini jauh lebih rendah ketimbang rumor yang beredar bahwa nilai penyuntikan dana MLPL ke Ruangguru mencapai Rp700 miliar.

Selain Ruangguru, sebelumnya MLPL sudah diketahui berinvestasi di Ovo dan Klinik Pintar. Perseroan juga berinvestasi di sejumlah perusahaan startup lain, termasuk membuka ruang untuk rencana merger dan akuisisi lanjutan, kendati perseroan belum mengungkapkan identitas perusahaan-perusahaan itu. Selain itu, tahun ini perseroan telah mendivestasikan sebagian sahamnya pada anak usaha yang bergerak pada industri ritel, yakni Matahari Putra Prima atau MPPA kepada Gojek. PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek melalui entitas anaknya PT Pradipa Darpa Bangsa telah membeli 4,76% saham MPPA.

Divestasi ini tentu tidak terlepas dari rencana kerja sama strategis antara Gojek dengan Grup Lippo. Gojek saat ini sudah memiliki layanan belanja yang menggandeng banyak mitra ritel modern, yakni GoMart. Kemungkinan besar, MPPA bakal masuk dalam ekosistem tersebut. Jika benar, hal ini tentu bakal menjadi penyelamat bagi kinerja MPPA. Sebab, channel distribusi produk perseroan akan makin luas. Hal ini menjadi jalan keluar dari ancaman yang membayangi bisnis ritel di tengah gempuran kehadiran e-commerce.

MLPL sendiri meyakini bisnis ritel modern masih menjanjikan di Indonesia, sebab penetrasinya baru sekitar 19%, jauh lebih kecil ketimbang di negara tetangga seperti Filipina yang mencapai 39%, Malaysia dan Thailand 40%, serta Singapura 75%.Pertumbuhan penduduk Indonesia dan bonus demografi menjadikan potensi di industri ritel masih besar, tinggal bagaimana strategi untuk menjangkau konsumen secara lebih efektif. Dalam hal ini, Grup Lippo melihat dunia digital menjadi jalan keluarnya.

Gojek sendiri memiliki keunggulan kompetitif sebab memiliki modal besar lewat jaringan mitra dan memiliki reputasi meyakinkan. Oleh karena itu, dengan bergabung dalam ekosistem Gojek, bisnis ritel MPPA tentu akan tertolong. Berdasarkan laporan keuangan MPPA, kinerja penjualan perseroan terus melemah sejak 2015 hingga 2020. Pada 2015, pendapatan perseroan masih mencapai Rp13,8 triliun, sedangkan pada 2020 tinggal separuhnya yakni Rp6,7 triliun. Seiring dengan itu, perseroan sudah membukukan rugi sejak 2017.

Sumber: Laporan Keuangan MPPA

Sebelum dengan Gojek, MPPA tahun lalu juga sudah lebih dahulu mengumumkan kemitraan GrabMart untuk menghadirkan aneka ragam produk makanan dan rumah tangga ke GrabMart. Perseroan memang memiliki strategi untuk memperluas bisnis omni-channel demi meningkatkan jangkauan ke konsumen.

Menyusul setelanya, MPPA berkolaborasi dengan Tokopedia, yang kini telah merger dengan Gojek dan membentuk GoTo. Perseroan membuka 95 jaringan toko virtual yang aktif beroperasi di Tokopedia secara nasional, terutama produk makanan dan rumah tangga.

Kemitraan dimulai sejak Desember 2020 sebanyak 23 gerai, lalu terus meningkat secara bertahap hingga mencapai 95 gerai per Juni 2021. Adapun, toko virtual yang dihadirkan MPPA yakni Hypermart, Foodmart, Primo, dan Hyfresh.

MPPA sendiri juga memiliki channel penawaran organic mandiri dari Chat & Shop via WhatsApp dan e-commerce Hypermart Online. Meskipun demikian, channel mandiri itu tentu belum dapat menyaingi popularitas platform e-commerce saat ini.

Langkah strategis ini memberi harapan bagi pulihnya kinerja MPPA, meskipun efektivitasnya masih harus diuji. Perseroan memulai langkah ini di tengah pandemi dan tekanan daya beli masyarakat, sehingga pengaruhnya belum cukup terefleksikan secara optimal dalam kinerjanya.

Saham Terapresiasi Sentimen Buy Back

Kenaikan saham yang luar biasa sebenarnya tidak saja dirasakan oleh MLPL, tetapi juga anak usaha lainnya. Saham MPPA sendiri sudah naik hampir 1.000% pula secara year-to-date dari semula di bawah Rp100 kini menjadi Rp1.105 hingga sesi pertama perdagangan hari ini, Kamis (17 Juni 2021).

Saham-saham Grup Lippo memang tercatat kompak menguat sepanjang tahun ini, kendati memang tidak setinggi MLPL dan MPPA. Tampaknya, sentimen positif pada MPPA cukup berdampak pula terhadap kinerja grup secara keseluruhan. Tren yang sama juga terlihat pada grup usaha lainnya tahun ini, yakni Group MNC.

Berikut ini kinerja saham-saham anggota Grup Lippo yang meningkat pesat tahun ini:

Dari data tersebut, terlihat bahwa saham-saham yang terapresiasi paling tinggi adalah saham-saham yang berada di bawah naungan MLPL. Manajemen MLPL mengungkapkan bahwa naiknya saham MLPL tidak terlepas dari pemulihan kinerja anak-anak usahanya, seiring dengan dampak positif program vaksinasi COVID-19. Namun, tampaknya masuknya nama besar Gojek dalam keluarga Grup Lippo justru lebih berpengaruh.

Hal sama terlihat juga pada saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO) yang melejit sejak Gojek masuk menjadi pemegang sahamnya. Namun, di samping itu, MLPL juga memiliki rencana pembelian kembali saham publik atau buy back. Menurut penjelasan manajemen, langkah itu diambil untuk mendorong kenaikan harga saham perusahaan, sebab hingga kini harga sahamnya belum sesuai dengan kinerja aktual perseroan.

Oleh karena itu, meskipun harga saham MLPL kini telah meningkat pesat, perusahaan tidak mundur dari rencana itu. Perseroan menyatakan kesiapan dana Rp425 miliar dalam rangka buy back tersebut untuk menyerap maksimal 10% dari saham beredar perseroan. MLPL membatasi harga maksimal buy back di level Rp720 per saham. Artinya, harga saham perseroan saat ini sudah melampaui target harga tersebut.

Meskipun demikian, buy back kabarnya akan dilakukan dalam jangka panjang, yakni pada 21 Juni 2021 hingga 20 Januari 2023. Dengan demikian, dalam satu setengah tahun ke depan, dapat diharapkan saham MLPL akan tetap stabil karena adanya aksi buy back oleh pemegang saham guna mengendalikan harganya.Lantas, apakah masih mungkin bagi saham MLPL untuk naik lebih tinggi lagi?

Jika melihat tren di pasar modal saat ini, tampaknya sentimen lebih besar pengaruhnya ketimbang fakta. Meskipun MLPL masih rugi, selama perseroan mampu mengendalikan sentimen positif seputar bisnisnya, sahamnya masih bisa naik lagi tanpa harus campur tangan melalui buy back.

Bisnis