Kendaraan Listrik Punya Masa Depan Cerah? Beli Nggak Ya?

Dika Aksara

Kampanye ekonomi hijau semakin gencar belakangan ini. Penggunaan bahan bakar fosil mulai ditekan dan digantikan dengan bahan bakar ramah lingkungan. Salah satunya, energi listrik. 

Hal ini pula yang menciptakan kendaraan listrik, khususnya mobil listrik, semakin populer di dunia. Tesla, perusahaan milik Elon Musk, menjadi pelopor industri kendaraan listrik. Namun, citra mobil listrik sebagai kendaraan mewah membuat orang masih berpikir dua kali untuk membeli. 

Tapi bagaimana sebenarnya prospek kendaraan atau mobil listrik ke depannya? Apakah perlu membeli mobil listrik sekarang? Big Alpha merangkum beberapa hal yang perlu kamu ketahui soal mobil listrik di Indonesia.

1. Pemerintah seriusi peta jalan industri kendaraan listrik

Pemerintah Indonesia tidak main-main dalam mendorong industrialisasi kendaraan listrik domestik. Presiden Jokowi sempat menerbitkan Perpres 55/2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan. 

Melalui beleid ini, industri kendaraan bermotor dan komponennya yang sudah memiliki izin usaha industri dapat mengikuti percepatan kendaraan listrik berbasis baterai. Aturan ini juga menyiapkan berbagai kelonggaran administrasi dan insentif perpajakan. 

Pemerintah, melalui Kementerian ESDM juga menyiapkan infrastruktur penunjang seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) serta stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umkm (SPBKLU). 

Tak tanggung-tanggung, peralihan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik ditargetkan bisa menurunkan impor bahan bakar minyak setara 67.000 barel minyak per hari. Angka ini didapat dari penggunaan 2 juta unit mobil dan 13 juta unit motor berbahan bakar listrik. 

2. Investasi mobil listrik mulai mengalir

Pemerintah memasang karpet merah bagi perusahaan asing yang ingin berinvestasi di sektor kendaraan listrik dan komponennya, termasuk pabrik baterai lithium. 

Berdasarkan catatan BKPM, aliran investasi hingga US$8,7 miliar atau setara Rp123,97 triliun akan masuk ke Indonesia hingga semester I 2022. Nilai investasi ini termasuk pengembangan mobil listrik dan komponennya. 

Dikutip dari Kontan, konsorsium Hyundai-LG misalnya tengah membangun pabrik baterai mobil listrik di Karawang, Jawa Barat dengan nilai investasi mencapai US$1,1 miliar. 

Kemudian pada Desember 2021, pabrik prekursor dan katoda akan mulai dibangun di Indonesia. Nilai investasinya pun tembus US$6 miliar. 

3. Indonesia punya daya tarik

Negara kita punya daya tarik tersendiri yang menarik investor. Menurut Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Indonesia menawarkan pangsa pasar raksasa. Jumlah penduduk yang besar dan ekonomi masyarakatnya yang terus tumbuh membuat investor asing mulai melirik Indonesia. 

Selain itu, Indonesia memiliki 80% bahan baku baterai mobil listrik yakni nikel, kobalt, alumunium, dan mangan. Tercatat hanya 20% komponen lainnya, yakni lithium yang masih diimpor. 

4. Insentif PPnBM untuk mobil listrik

Satu lagi keseriusan pemerintah untuk merangsang geliat industri kendaraan listrik Tanah Air. Presiden Jokowi juga menandatangani PP 74/2021 yang menawarkan tarif PPnBM sebesar 0% untuk kendaraan bermotor yang memakai teknologi battery electric vehicles (BEV) atau fuel cell electric vehicle (FCEV). 

PP ini juga menetapkan besaran tarif PPnBm akan disesuaikan dengan hasil emisi karbon. Semakin besar emisi karbon yang diproduksi, semakin mahal pula tarifnya. 

5. Harga kendaraan listrik masih relatif mahal

Sudah jadi rahasia umum, harga jual kendaraan listrik terutama mobil masih cukup mahal. Mobil listrik secara umum masih tidak mudah dijangkau masyarakat Indonesia. 

Alasannya, harga baterai sebagai komponen utama dari mobil listrik juga mahal. Harga baterai listrik bisa mencakup 40% dari keseluruhan harga jual mobil listrik. 

Saat ini, harga jual mobil listrik yang paling terjangkau di kisaran Rp400 juta sampai Rp600 juta. Angka ini masih di atas rata-rata harga mobil yang paling laku di Tanah Air, yakni di kisaran Rp200 juta sampai Rp250 juta. 

 

Bisnis