Laju Ciamik Kinerja Japfa (JPFA), Akankah Berlanjut? 

Berkah Rio

[Waktu baca: 5 menit]

Emiten unggas PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. melaporkan kinerja keuangan yang unggul pada kuartal pertama tahun ini. Laba bersihnya mencapai Rp859 miliar, meroket 150% year on year (yoy), terutama karena naiknya harga jual rata-rata pada ayam pedaging dan anakan ayam atau day old chick (DOC).

Pada kuartal kedua, kinerja emiten berkode saham JPFA ini kemungkinan akan tetap melanjutkan tren tersebut. Apalagi, pada kuartal kedua tahun ini ada momentum Ramadan dan Lebaran yang identik dengan peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat.

Selain itu, pada kuartal kedua tahun lalu, JPFA membukukan kerugian Rp189 miliar, sehingga kinerja laba akumulatif pada semester pertama tahun lalu hanya Rp155 miliar. Jika dibandingkan dengan angka capaian yang rendah tersebut, jelas pertumbuhan laba JPFA pada akhir Juni 2021 nanti akan sangat tinggi.

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, setelah berakhirnya momentum Ramadan dan Lebaran, apakah kinerja JPFA akan tetap konsisten?

Usai Lebaran, aktivitas konsumsi masyarakat sudah kembali seperti semula. Seiring dengan itu, sentimen positif yang biasanya mempengaruhi kinerja emiten-emiten yang terdampak oleh faktor Ramadan pun perlahan mulai berakhir.

Meskipun demikian, tampaknya bagi JPFA sentimen positif belum akan berakhir.

Pada kuartal pertama lalu, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) broiler meningkat sekitar 25,4% yoy menjadi Rp20.203 per ekor, sedangkan DOC bahkan lebih tinggi lagi yakni 57,5% yoy menjadi Rp7.108 per kg.

Tren harga ini kemungkinan besar akan tetap bertahan sepanjang tahun ini, kendati mungkin tidak meningkat lebih tinggi lagi. Kenaikan harga ini tidak terlepas dari program culling atau pemusnahan bibit ayam oleh pemerintah.

Seiring dengan naiknya harga, pendapatan dari lini penjualan broiler (peternakan komersial) dan DOC (pembibitan ayam) JPFA pada kuartal pertama ini meningkat masing-masing 44% yoy dan 13% yoy. Kenaikan kinerja di kedua segmen ini menutupi tekanan yang sebenarnya terjadi di lini lain.

Berikut ini rincian kinerja pendapatan dan laba JPFA pada kuartal pertama tahun ini:

Ada beberapa isu yang akan menjadi perhatian bagi prospek bisnis JPFA pada sisa tahun ini. Berdasarkan data komoditasternak.com, harga ayam broiler atau ayam pedaging hidup di Bodetabek hari ini (Jumat, 11 Juni 2021) berkisar antara Rp21.000 hingga Rp23.000 per kg.

Harga ini sudah relatif turun dibandingkan dengan periode puncak Ramadan atau pada saat Lebaran lalu yang diperkirakan sekitar Rp24.000 per kg, di atas harga patokan yang diberikan pemerintah yakni Rp21.000 per kg

Kemungkinan besar pergerakan harga ayam pada sisa tahun ini tidak akan banyak berubah dibandingkan dengan kondisi saat ini, mengingat tingkat permintaan yang sudah kembali normal dan pemulihan kondisi ekonomi yang masih berlangsung lambat.

Di sisi lain, harga DOC yang juga ikut meningkat bersama dengan naiknya harga bahan baku pakan ternak (jagung dan kedelai) bakal menyebabkan biaya produksi broiler meningkat. Hal ini bakal makin mempersempit potensi margin keuntungan yang dibukukan emiten unggas, termasuk JPFA.

Adapun, pada kuartal pertama tahun ini margin laba kotor atau gross profit margin (GPM) JPFA mencapai 25,9%, naik dari kuartal I/2020 yang hanya 19,0%. Sementara itu, margin laba bersih atau net profit margin (NPM) juga meningkat dari 3,6% menjadi 8%.

Namun, meskipun ada potensi penurunan margin pada sisa tahun ini akibat kenaikan biaya produksi, secara umum margin JPFA tahun ini masih akan lebih baik ketimbang tahun lalu, menimbang kondisi bisnis tahun ini memang jauh lebih baik. 

Program Culling Berlanjut

Tahun ini pemerintah telah memutuskan untuk melanjutkan program pemusnahan bibit ayam atau culling, guna mencegah terjadinya oversupply yang berpotensi menjatuhkan harga broiler. Proyeksi produksi DOC tahun ini diperkirakan mencapai 3,66 miliar ekor, setara dengan 4 juta ton broiler.

Sementara itu, tingkat permintaan atau konsumsi masyarakat diestimasikan hanya 11,75 kg/kapita/tahun. Jika mengacu pada proyeksi populasi Badan Pusat Statistik (BPS) tahun ini, maka kebutuhan permintaan itu setara 3,19 juta ton.

Artinya, ada potensi kelebihan pasokan yang besar di pasar sekitar 835 ribu ton. Oleh karena itu, pemerintah memberikan instruksi dua kali culling tahun ini. Pertama, pada 5 Januari – 3 Februari berupa cutting hatched egg (HE) umur 19 hari sebanyak 69 juta butir dan penyelesaian afkir dini parent stock (PS) umur >50 minggu sebanyak 2,3 juta ekor dari target 4 juta ekor.

Kedua, pada periode 5 Februari – 6 Maret 2021 berupa instruksi cutting HE umur 19 hari sebanyak 60 juta butir. Program culling ini kemungkinan bakal kembali dilakukan pada sisa tahun ini untuk mengendalikan pasokan.

Bagi JPFA, program ini tentu menguntungkan untuk mencegah kejatuhan harga. Biasanya, usai Lebaran, harga broiler dapat turun antara 10% hingga 20% secara bulanan. Upaya pemerintah melakukan culling kembali dalam waktu dekat ini akan menjaga penurunan harga tidak terlalu dalam pasca lebaran.

Harga Pakan Jadi Ancaman

Bisnis ayam pedaging tidak terlepas dari faktor pakan ternak. Bahkan, pakan ternak menjadi faktor kunci yang akan menentukan profitabilitas produsen broiler. JPFA sendiri memiliki bisnis pakan ternak, tetapi peningkatan harga bahan baku pada awal tahun ini telah menekan kinerja lini bisnis ini.

Margin di lini bisnis pakan ternak pada kuartal pertama tahun ini tercatat 10,9%, sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal IV/2020 yang sebesar 10,4%, tetapi lebih rendah ketimbang margin pada kuartal pertama 2020 yang sebesar 14,4%.

Perseroan menjadi pemasok pakan bagi bisnis peternakan komersialnya. Untuk menjaga tingkat keuntungan di bisnis broiler, perseroan mematok harga jual yang lebih rendah untuk internal, ketimbang untuk dijual ke luar.

Sementara itu, harga jagung domestik tengah meningkat sehingga biaya produksi pakan ternak pun meningkat. Hal ini menjadikan perseroan kesulitan untuk mencari titik keseimbangan guna menjaga bisnisnya.

Di tengah tren harga bahan baku yang meningkat, perseroan kemungkinan akan memilih mengorbankan margin keuntungan di lini bisnis pakan ternak ini guna menjaga harga jual tetap terjangkau bagi pelanggannya, terutama bagi bisnis peternakan perseroan sendiri.

Adapun, per Maret 2021 harga jagung lokal dengan kadar air 15% rata-rata sekitar Rp4.772/kg. Tingkat harga ini meningkat 6,4% dibanding bulan sebelumnya (mom) dan naik 5,9% dibandingkan posisi harga akhir tahun 2020 (ytd). Sementara itu, dibanding Maret 2020, kenaikan harga jagung ini mencapai 5,9% yoy.

Harga jagung ini sudah berada di atas harga acuan pemerintah yang dipatok Rp4.500/kg. Kenaikan harga ini kemungkinan disebabkan karena meningkatnya curah hujan sehingga panen menjadi tidak optimal dan peningkatan kadar air pada jagung.

Di samping itu, naiknya harga pakan dipicu oleh pulihnya permintaan dan harga broiler dan DOC tahun ini yang mendorong pabrikan pakan menaikkan harga jual mereka. Kondisi ini kemungkinan masih akan bertahan tahun ini. 

Prospek Saham JPFA

Jelas bahwa kinerja JPFA tahun ini masih akan menghadapi tantangan. Meskipun demikian, kondisi ekonomi tahun ini jauh lebih baik ketimbang tahun lalu. Harga jual broiler juga lebih tinggi seiring dengan permintaan yang membaik.

Secara keseluruhan, bisnis JPFA tahun ini bakal membaik. Perseroan memiliki diversifikasi bisnis yang baik sehingga bisnis JPFA dapat saling mendukung satu sama lain sehingga meningkatkan efisiensi operasional.

Di sisi lain, saham JPFA sendiri saat ini masih tergolong lebih murah ketimbang pesaingnya, yakni PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN).

Berdasarkan data RTI, dengan harganya yang kini di level Rp2.060 pada akhir sesi pertama perdagangan hari ini (Kamis, 11 Juni 2021), price to earning ratio (PER) saham JPFA hanya 7,03 kali. Sementara itu, PER CPIN mencapai 29,66 kali dengan harga Rp6.950.

Price to book value (PBV) JPFA juga hanya 2,09 kali, lebih rendah ketimbang PBV CPIN yang mencapai 4,88 kali. Dengan rasio harga tersebut, terlihat bahwa saham JPFA memang tergolong lebih murah dibandingkan dengan CPIN.

Lagi pula, kinerja keuangannya yang sangat kuat pada kuartal pertama tahun ini menunjukkan bahwa JPFA cukup mampu mengoptimalkan momentum yang ada untuk mendorong kinerjanya setinggi mungkin.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika sepanjang tahun ini saham JPFA sudah melonjak 40,61% ytd, mengungguli CPIN yang baru naik 6,51% ytd. Kendati harganya sudah naik pesat, tetapi labanya yang tinggi menyebabkan rasio PER JPFA masih tetap rendah.

Investasi