Krisis Korea Utara, Kontraksi Ekonomi Terburuk dalam 23 Tahun

Dika Aksara

Korea Utara masih saja menjadi negeri yang penuh misteri. Meski peranan personel militer atau warganya kerap muncul dalam berbagai judul drama produksi Korea Selatan, tapi tidak banyak informasi yang bisa diakses terkait negara yang menjalankan sistem ekonomi komando ini. 

Di tengah pandemi yang belum usai ini, Korea Utara juga mengalami berbagai kesulitan. Bahkan negara yang dipimpin Kim Jong Un ini disebut-sebut mengalami krisis ekonomi yang cukup parah. Dilansir dari Reuters, ekonomi Korea Utara disebut mengalami kontraksi terburuk selama 23 tahun terakhir. 

Pandemi belum kelar, kelaparan mengancam, ekonomi pun terseok. Bagaimana sebenarnya kondisi perekonomian di Korea Utara dan fakta menarik apa yang perlu kamu tahu tentang negara yang jadi inspirasi di serial Crash Landing on You ini? Big Alpha merangkumnya untuk kamu. 

 

1. Kontraksi ekonomi terparah dalam dua dekade

Bank of Korea (BOK) atau Bank Sentral Korea Selatan baru saja merilis data mengenai perkembangan ekonomi negara tetangga mereka. BOK menyebutkan bahwa ekonomi Korea Utara mengalami kontraksi terdalam sejak 23 tahun, pada 2020 lalu. 

Terpuruknya kondisi ekonomi Korea Utara sebenarnya adalah akumulasi dari berbagai hal, termasuk sanksi PBB yang masih berlanjut, kebijakan lockdown menyikapi pandemi Covid-19, hingga cuaca buruk yang menerpa wilayah tersebut. 

Kantor berita Reuters bahkan menuliskan bahwa krisis ekonomi yang dialami Korea Utara saat ini menjadi yang terburuk sejak fenomena kelaparan pada 1990-an lalu yang menewaskan hingga 3 juta penduduk. 

Bank of Korea menyebutkan, produk domestik bruto (PDB) Korea Utara terkontraksi sampai 4,5 persen sepanjang 2020 lalu. Padahal pada 2019, ekonomi Korea Utara masih tumbuh positif sebesar 0,4 persen. 

Tingkat pertumbuhan ekonomi Korea Utara sempat terkontraksi 0,5 persen pada 2010, kemudian dilanjutkan tumbuh 1 persen pada 2011 sampai 2014. Pada 2015, ekonomi Korea Utara sempat kembali terkontraksi 1,1 persen. 

Pada 2016, kondisi ekonomi Korea Utara berbalik membaik dengan pertumbuhan 3,9 persen. Namun hingga 2019, angka pertumbuhan Korut hanya berkisar di angka nol-koma-sekian persen. 

Data-data yang dirilis BOK ini dihimpun dari intelijen Korea Selatan, sumber pemerintah, dan agensi perdagangan asing. BOK juga sudah rutin menerbitkan proyeksi ekonomi Korea Utara secara tahunan sejak 1991. 

2. Hadapi ancaman kelaparan

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) sudah memperingatkan Korea Utara terkait ancaman krisis pangan. Dilansir dari AFP, Korea Utara berpotensi menghadapi kekurangan pangan sampai 860.000 ton pada tahun 2021 ini. 

Di tengah sanksi internasional terkait senjata nuklir, Korea Utara memang sedang berjuang mencukupi kebutuhan pangan bagi warganya. Bahkan pemimpin Korut, Kim Jong-Un juga sudah menyampaikan pernyataan bahwa masyarakatnya perlu bersiap menghadapi situasi terburuk. 

 

3. Kesejahteraan yang rendah

Masalah di Korea Utara memang kompleks. Tingkat kesejahteraannya pun rendah. Dikutip dari CNBC, 40 persen penduduk Korea Utara kekurangan gizi. Tak hanya itu, Internet juga menjadi hal yang langka di Korea Utara. Pemerintah memang sengaja membatasi akses Internet bagi warganya. Warga yang ingin mengakses jaringan internet harus menggunakan jaringan intranet yang dikendalikan negara, yang dijuluki Kwangmyong. 

4. Dualisme aktivitas ekonomi

Di Korea Utara, kegiatan ekonomi secara resmi memang dikendalikan oleh negara. Tapi ada aktivitas ekonomi bawah tanah yang membuat dualisme di lapangan. Bill Brown, seorang profesor di Universitas Georgetown, menyampaikan bahwa seorang pekerja di Korea Utara bisa saja dibayar dengan upah kecil, tapi pekerja lainnya dibayar dengan upah 100 kali lebih besar oleh pabrik yang berafiliasi dengan China

Ekonomi