Kinerja ADRO Kuartal III Mengecewakan, Harga Sahamnya Bagaimana?

Tirta Prayudha

[Waktu baca: 4 menit]

Salah satu emiten batubara paling terkenal di Indonesia, PT Adaro Energy Tbk. (ADRO), sudah mengeluarkan laporan keuangan kuartal III mereka.

Dan seperti banyak emiten lain yang terpukul akibat pandemi dan krisis ekonomi yang mengikutinya, ADRO juga sepertinya tidak bisa lolos begitu saja. Sembilan bulan pertama tahun 2020, laba ADRO anjlok 73% ke US$109,38 juta atau setara dengan Rp1,6 triliun (kurs Rp 14.700/US$). Jumlah laba ini terjun 73,05% dari periode yang sama tahun lalu yang menembus US$405,99 juta atau setara dengan Rp5,96 triliun.

Khusus untuk periode kuartal 3 saja, ADRO malah mencetak rugi sebesar US$45 juta atau sekitar Rp600 miliar. 

Hal ini sejalan dengan turunnya penjualan mereka dari US$2,65 miliar di tiga kuartal tahun lalu menjadi US$1,95 miliar saja di sembilan bulan tahun 2020 ini.

Penurunan pendapatan ini terjadi tidak hanya karena penurunan harga jual acuan batubara saja, tetapi juga karena penurunan volume penjualan yang dialami ADRO.

Harga jual rata-rata ADRO anjlok sebesar 18%, sementara volume penjualan juga turun 9%.

Klaim dari manajemen ADRO menyebutkan, penurunan permintaan batubara ini disebabkan oleh perlambatan ekonomi yang terjadi pengimpor utama batubara. Dan negara-negara tujuan ekspor batubara ADRO adalah China, Korea, Jepang dan India.

Lemahnya harga jual yang dialami ADRO juga sejalan dengan rendahnya harga acuan batubara dunia yang selama beberapa bulan terakhir belum beranjak dari level harga US$50-60 per metric ton.

Lalu bagaimana dengan harga sahamnya?

Sejak awal tahun (Year to Date), saham ADRO sudah terjerembab 24% ke level Rp1000an per lembar. Bahkan di awal pandemi, harga sahamnya pernah jatuh ke bawah Rp800an per lembar hingga akhirnya rebound ke harga sekarang.

Bahkan ketika laporan keuangan kuartal 3 nya keluar, dengan hasil yang kurang memuaskan seperti di atas, harga saham ADRO bergerak normal. Yang bisa berarti, para pelaku pasar sudah mengantisipasi penurunan harga saham ADRO (priced in).

Prospeknya bagaimana?

Emiten-emiten pertambangan batubara, merupakan perusahaan-perusahaan yang bersifat price taker. Harga jual produk yang mereka hasilkan selalu mengikuti pergerakan harga acuan di dunia. Oleh karena itu, harga acuan tersebut akan mengalami periode boom and bust yang mengikuti siklus ekonomi. Itu sebabnya emiten-emiten pertambangan batubara disebut dengan cyclical companies karena mereka bergerak dalam sebuah siklus yang berulang.

Untuk ADRO sendiri, kinerja keuangannya akan sangat tergantung kepada pemulihan ekonomi akibat pandemi. Dengan pulihnya siklus ekonomi secara perlahan, akan kembali meningkatkan permintaan terhadap sumber-sumber energi seperti minyak mentah atau batubara.

Pergerakan aktivitas manufaktur di China pun sudah mengalami kenaikan seperti kondisi pre-covid, yang bisa kita lihat dari PMI Index di bawah.

Naiknya indikator aktivitas manufaktur ini bisa menjadi salah satu indikator bahwa sudah dimulainya kembali pergerakan ekonomi di China. Status China sebagai ‘pabrik dunia’ dan sebagai konsumen batubara terbesar di dunia tentu menjadi insentif harga acuan batubara dunia untuk bergerak naik.

Hal ini bisa terlihat dari naiknya future contract batubara untuk bulan November yang sudah hampir menyentuh USD 60 per metric ton.

Ditambah lagi, belahan bumi utara yang sudah mulai memasuki musim dingin di mana mereka akan membutuhkan energi lebih banyak, sejalan dengan naiknya konsumsi listrik dan pemanas dalam beberapa bulan ke belakang.

Batubara adalah komoditas sumber energi yang murah dan melimpah, meskipun di negara-negara Eropa mulai banyak penolakan untuk komoditas ini dengan alasan lingkungan, hal tersebut tidak terlalu berpengaruh karena konsumen terbesar batubara dunia adalah negara-negara Asia yang sedang berkembang (seperti China, India dan Indonesia) yang membutuhkan sumber energi yang murah dan melimpah.

Dan itu akan menjadi faktor penentu kinerja perusahaan-perusahaan dalam negeri seperti ADRO.
 

Apabila Anda berencana untuk berinvestasi saham, Big Alpha telah menyusun sebuah e-book kuartalan yang berisi 15 saham pilihan. Klik di sini untuk melakukan pemesanan.

Investasi