Kepak Sayap Garudafood di Tengah Pandemi

Fauzan Ahmad

Belakangan kita diramaikan dengan kalimat perekat semangat kebangsaan dalam sebuah baliho. Ada beberapa kelompok yang nyinyir karena merasa kalimat tersebut hanya bagian dari alat politik dan sebagainya. Tapi, mari kita singkirkan sejenak poin tersebut dan beralih untuk melihat salah satu emiten yang kepakan sayapnya cukup bersinar sepanjang tahun ini.

PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (GOOD) mampu keluar dari tekanan pandemi Covid-19. Tak seperti emiten-emiten barang konsumsi lainnya, GOOD mencatatkan capaian bisnis cemerlang di pertengahan tahun ini.

Produsen snack Gery Chocolatos dan kacang Garuda ini sudah mampu menghimpun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp200,06 miliar. Tak tanggung-tanggung, angka ini merefleksikan pertumbuhan laba 153,25 persen secara year on year (yoy), serta sudah setara 95,7 persen dari total laba perseroan sepanjang Januari-Desember 2020.

Ada sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan mentereng tersebut. Salah satunya adalah kenaikan penjualan neto 6,91 persen secara yoy. Tepatnya dari Rp3,91 triliun menjadi Rp4,18 triliun.

Di atas kertas, perusahaan sebenarnya membukukan pelemahan margin laba kotor. Dengan kisaran 29,01 persen, margin laba kotor GOOD susut dari rapor semester I/2020 sebesar 29,23 persen.

Namun, pelemahan margin kotor yang salah satunya dipicu kenaikan harga komoditas dan bahan baku tersebut tampaknya tak begitu berpengaruh, karena perseroan mampu meningkatkan penghasilan operasi lain dan memangkas beban operasi lain-lain secara signifikan.

Beban pajak penghasilan Garudafood juga berkurang, dari Rp71,37 miliar menjadi Rp62,56 miliar. Kondisi inilah yang kemudian membuat bisnis Garudafood tetap mengalami pertumbuhan solid.

Di tengah pandemi, kendati merosot, margin laba kotor GOOD pun masih tergolong lebih stabil dibanding kompetitor serumpun.

Emiten barang konsumen produsen produk makanan lain, PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) misal, hanya membukukan margin laba kotor 27,31 persen pada semester I/2021. Angka ini susut lebih signifikan dari margin laba kotor mereka yang masih bisa menyentuh 30,49 persen hingga akhir semester I/2020 lalu.

Bila dibandingkan dengan emiten lain yang sama-sama murni memproduksi produk berupa makanan, margin GOOD hanya kalah dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP). ICBP memang belum merilis laporan keuangan mereka untuk semester I/2021, namun berdasarkan perolehan kuartal I/2021 perusahaan ini masih membukukan margin laba kotor sekitar 38,9 persen.

Patut digarisbawahi pula bahwa meski secara margin dan penjualan lebih solid, satu poin kelemahan ICBP dari GOOD adalah rapor beban umum dan administrasi perusahaan yang lebih membengkak secara yoy, serta beban operasi lain yang efisiensinya tak seoptimal GOOD.

Di sisi lain, kemampuan GOOD menjaga efisiensi bisnisnya tentu bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Optimalisasi beban non-pokok GOOD sudah terendus sejak tahun lalu, ketika mereka menggelontorkan modal yang tidak sedikit untuk memperbaiki tingkat biaya distribusi.

Contoh proyek perbaikan distribusi tersebut adalah pembangunan gudang baru, perbaikan bangunan pabrik bekas kebakaran, serta instalasi mesin-mesin baru yang seluruhnya ditanam di Pati, Jawa Tengah. Seluruh proyek ini telah dicicil perusahaan sejak 2019 dan tuntas pada paruh kedua tahun lalu. 

Efek perbaikan distribusi tersebut pun sebenarnya sudah bisa kita lihat pula pada kinerja GOOD tahun lalu, yang pada akhir tahun bisa ngebut meraih laba Rp208 miliar lebih kendati pada semester pertama perusahaan baru meraup untung Rp78,9 miliar.

Artinya, ada peningkatan laba bersih yang signifikan sejak paruh kedua 2020.

Menariknya, perbaikan distribusi itu juga tak serta merta membuat GOOD “kehabisan bensin.” Nyatanya, karena keputusan menunda sejumlah pembelian mesin, pada tahun lalu perseroan hanya menyerap 83 persen dari anggaran belanja total atau hanya senilai Rp477 miliar dari Rp572 miliar.

“Kami menunda investasi baru berupa pembelian mesin karena kondisi pandemi, sehingga kami lebih memilih menyelesaikan proyek-proyek [perbaikan distribusi] yang dimulai sejak 2019,” kata salah satu direktur Garudafood Paulus Tedjosutikno seperti dilansir Kontan Oktober 2020 lalu. 

Dari sisi prospek Garudafood juga masih punya ruang untuk menggenjot sumber pemasukan di luar bisnis penjualan makanannya.

Salah satu langkah besar perusahaan akhir-akhir ini adalah keputusan untuk menyuntik dana tambahan ke emiten pengelola merek keju Prochiz, PT Mulia Boga Raya Tbk. (KEJU). Suntikan modal terhadap KEJU, yang ditaksir menyentuh Rp163 miliar, dilakukan perseroan dengan membeli 9,52 persen saham KEJU milik PT Tudung Putra Putri Jaya (TPPJ). TPPJ merupakan perusahaan afiliasi pemilik GOOD.

“Transaksi ini dilakukan untuk meningkatkan penerimaan dividen pemegang saham perseroan [dari KEJU] dan peningkatan laba yang dapat diatribusikan kepada perseroan,” papar Direktur Utama GOOD Hardianto Atmadja dalam keterbukaan informasi belum lama ini. 

Sebagai salah satu unit bisnis lain Garudafood, KEJU memang mencatatkan performa cukup moncer. Pada semester I/2021 saja, laba perusahaan ini sudah melejut 102 persen ke posisi Rp232 miliar. Penjualan perusahaan ini juga masih tumbuh 6,9 persen menuju angka Rp4,1 triliun.

Kontribusi KEJU terhadap penjualan GOOD juga tidak kecil. Ini setidaknya tampak dari kian dominannya kontribusi segmen makanan terhadap penjualan total Garudafood dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang Januari-Juni misalnya, mengacu laporan keuangan GOOD, KEJU memberikan kontribusi terhadap Rp31,54 miliar atau setara 15,76 persen laba total perusahaan.

Hingga Senin (16/8) kemarin, saham GOOD diperdagangkan dengan banderol Rp378 per saham. Nilai tersebut cenderung turun 5,97 persen dari harga saham GOOD ketika stock split pertengahan Juli lalu, yang senilai Rp402 per saham. Data terkini RTI Business menyebut bahwa harga tersebut mencerminkan PER 34,53x dan PBV 5.35x.

Bila dibandingkan dengan emiten konsumer dengan kapitalisasi pasar lebih jumbo seperti MYOR, ICBP ataupun PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), valuasi GOOD memang cenderung kalah menggiurkan bagi kalangan investor. Namun, dengan daya tarik yang dipercikkan sejumlah indikator dan prospek bisnis mereka, kiprah perusahaan ini tidak kalah menarik untuk terus dipantau

Bisnis