Indonesia Resesi, Investasi Mana Paling Untung?

Berkah Rio

[Waktu baca: 10 menit]

Perjalanan ekonomi Indonesia semasa pandemi tampaknya akan sulit untuk dapat lolos dari jurang resesi. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan sudah memberikan sinyal bahwa Indonesia akan memasuki resesi, sebab kinerja ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini pun dipastikan akan negatif.

Kementerian Keuangan memperkirakan ekonomi Indonesia akan turun antara 2,9% sampai 1% pada kuartal III/2020. Sebelumnya, pada kuartal II/2020, ekonomi Indonesia turun 5,32%. Dengan demikian, Indonesia telah mengalami penurunan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut, atau sudah memenuhi kriteria resesi ekonomi.

Hal ini sebenarnya tidak mengherankan, sebab negara-negara lain di dunia pun sudah lebih dahulu mengkonfirmasi resesi di negaranya. Sebagai bagian dari komunitas perdagangan global, Indonesia tentu sulit terhindar dari tren yang terjadi secara global. Lagi pula, secara kasat mata pun tidak sulit untuk mengamati sepinya aktivitas ekonomi dalam negeri, terutama akibat adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sebagai respons atas pandemi Covid-19.

Tekanan terhadap kinerja perekonomian nasional ini masih belum pasti titik akhirnya, sebab pandemi Covid-19 pun masih belum dapat dipastikan kapan akan  sepenuhnya hilang. Di tengah kondisi ini, masyarakat kemungkinan akan benar-benar menahan diri dalam membelanjakan uangnya demi berjaga-jaga dalam menghadapi situasi terburuk.

Namun, daripada uang hanya disimpan tanpa menghasilkan apapun, tentu akan lebih baik jika diinvestasikan. Akan tetapi, jika benar Indonesia sudah masuk dalam jurang resesi, lantas apakah masih ada instrumen investasi yang selama ini masih mampu berkinerja optimal di tengah kondisi itu? Jika pun selama ini masih berkinerja baik, apakah ada jaminan bahwa kinerja instrumen itu akan tetap baik di masa mendatang?

Untuk pertanyaan kedua, tampaknya sulit untuk dijawab, sebab ketidakpastian akibat pandemi masih sangat tinggi. Namun, untuk pertanyaan pertama, kita bisa mengamati tren kinerja beberapa instrumen investasi paling populer yang ada di pasar saat ini dan menilai instrumen mana yang kinerjanya masih oke. Siapa tahu, trennya masih akan berlanjut.

Berikut ini kinerja beberapa instrumen investasi yang populer:

Saham

Instrumen investasi pertama adalah saham. Saham merupakan bukti kepemilikan terhadap suatu perusahaan tertentu. Ketika kamu memiliki saham satu perusahaan, itu artinya kamu menjadi pemilik perusahaan itu sesuai porsi saham yang kamu miliki. Jika perusahaan tersebut menerbitkan 1 juta saham dan kamu memiliki 10.000 saham di antaranya, artinya kamu memiliki 1% perusahaan tersebut.

Saham merupakan instrumen investasi dengan karakter risiko paling tinggi. Namun, di dunia investasi dikenal prinsip high risk high return. Tingginya risiko pada pasar saham sebanding dengan potensi keuntungan investasinya.

Akan tetapi, kondisi resesi bukanlah waktu yang terbaik bagi kinerja pasar saham. Pasar saham menawarkan refleksi ekspektasi pelaku pasar terhadap ekonomi. Ketika ekonomi sedang tumbuh dengan baik, keuntungan investasi di pasar saham pun akan ikut meningkat. Sebaliknya, ketika kinerja ekonomi lesu, apalagi resesi, kinerja saham pun akan ikut jatuh.

Hal ini terjadi karena perusahaan-perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah penggerak ekonomi. Ketika ekonomi lesu, artinya kinerja perusahaan-perusahaan tersebut pun secara umum sedang lesu. Oleh karena itu, investor pun meninggalkan perusahaan-perusahaan tersebut dan menjual sahamnya. Sesuai prinsip ekonomi, ketika terjadi penjualan berlebih di pasar, harga akan turun. Alhasil, harga saham-saham di BEI pun terkoreksi.

Sepanjang tahun ini, instrumen investasi saham secara umum turun harganya. DI BEI, saat ini ada 709 emiten atau perusahaan terbuka yang sahamnya bisa diperjualbelikan di BEI. Kinerja seluruh saham ini tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Sepanjang tahun ini hingga Selasa (6 Oktober 2020), IHSG sudah turun 20,64% year to date (ytd). Apakah ini berarti semua saham di BEI turun harganya tahun ini? Tentu tidak. Turunnya IHSG mencerminkan turunnya mayoritas saham yang ada di BEI. Namun, tentu masih ada yang sahamnya tetap tumbuh.

Beberapa saham yang kinerjanya cukup oke tahun ini antara lain PT Indofarma Tbk. (INAF) yang sahamnya melesat 260,92% ytd. Bila hanya mengukur kinerjanya dalam 6 bulan terakhir, kenaikannya bahkan lebih tinggi, yakni 455,75%.

Hal ini tentu tidak mengherankan, sebab sebagai emiten yang bergerak di bidang farmasi, INAF sedang naik daun. Kebutuhan terhadap obat-obatan dan alat kesehatan meningkat pesat selama Covid-19. Selain itu, INAF juga dikabarkan dalam waktu dekat akan mengedarkan obat antivirus untuk pasien Covid-19, yakni remdesivir.

Obat remdesivir INAF akan dijual dengan nama dagang Desrem™ ke rumah sakit dengan harga Rp1,3 juta per vial. Dengan semakin tingginya kasus positif Covid-19 di Indonesia, permintaan terhadap obat-obatan pun akan terus meningkat, apalagi obat yang terkait dengan penyembuhan Covid-19. Artinya, prospek bisnis INAF cukup menjanjikan, sehingga investor pun ramai membeli saham INAF dan mendorong harganya melambung.

Sentimen yang sama juga menjadi pendorong naiknya saham PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) sebesar 147,2% ytd, atau 361,19% dalam 6 bulan terakhir. KAEF memproduksi obat antivirus favipiravir. Selain itu, KAEF bersama anak usahanya PT Phapros Tbk. (PEHA) juga memproduksi beberapa obat lain untuk penanganan Covid-19, seperti chloroquine, hydroxychloroquine, azithromycin, dexamethasone, dan mythylprednisolon.

Di luar saham farmasi, ada pula saham bank syariah, yakni PT Bank BRIsyariah Tbk. (BRIS) yang sepanjang tahun ini sahamnya sudah naik 159,06% ytd, atau 445,16% dalam 6 bulan terakhir. Sentimen penggerak saham BRIS ini antara lain keberhasilannya mencetak laba bersih Rp168 miliar per Agustus 2020, melesat 158,46% secara tahunan (year on year/yoy).

Selain itu, rencana pemerintah untuk mengkonsolidasikan anak usaha syariah bank-bank BUMN juga memberikan sentimen positif bagi BRIS. Langkah ini dinilai bakal memperkuat kinerja keuangan bank-bank syariah milik BUMN. Saat ini, BRIS merupakan satu-satunya bank syariah anak usaha BUMN yang sahamnya sudah tercatat di BEI.

Berikut ini daftar 10 saham dengan kinerja terbaik secara ytd menurut data RTI per Selasa, 6 Oktober 2020:

Penting untuk dicatat bahwa kenaikan harga saham yang tinggi pada periode yang telah lewat tidak berarti kinerja yang sama akan terjamin terus berlanjut di masa mendatang. Justru, ketika harga saham sudah naik terlampau tinggi, kemungkinan untuk harganya mulai turun justru lebih besar.

Selain itu, jika membeli saham yang harganya sudah terlanjur melambung, peluang untuk mendapatkan keuntungan menjadi makin kecil. Sulit untuk berharap kenaikan harga dengan besaran yang sama bakal terulang.

Di sisi lain, pasar saham tidak selalu rasional. Saham-saham yang meningkat tinggi harganya tidak selalu dilandasi oleh kinerja bisnis perusahaannya dengan tingkat pertumbuhan yang setara. Ada kalanya, kenaikan harga saham hanya disebabkan oleh spekulasi dari jutaan investor di pasar saham, atau ekspektasi berlebihan dan tidak realistis terhadap prospek bisnis emiten yang bersangkutan di masa depan.

Di sisi lain, saham-saham yang harganya sedang turun pun tidak selalu berarti kinerjanya sangat buruk atau prospek bisnisnya suram. Koreksi harga saham perusahaan-perusahaan tersebut bisa jadi disebabkan akibat respons jangka pendek investor terhadap kinerja terkini perusahaan tersebut.

Secara jangka panjang, peluang bisnisnya mungkin saja masih terbuka. Hal ini tampaknya berlaku untuk kebanyakan emiten di BEI saat ini yang bisnisnya secara jangka pendek memang sedang tertekan akibat pandemi.

Untuk dapat memilah saham-saham mana saja yang masih memiliki prospek bisnis yang bagus, butuh kejelian khusus untuk mempelajari kondisi industri yang digeluti perusahaan itu, rencana bisnisnya, struktur modalnya (perbandingan antara utang dan modal), kemampuan historisnya dalam menghasilkan pertumbuhan laba yang konsisten, manajemennya, dan banyak lagi. Oleh karena itu, berinvestasi saham relatif tidak terlalu mudah.

Obligasi

Instrumen investasi kedua yakni obligasi. Obligasi merupakan surat pernyataan utang dari penerbit obligasi kepada pemegang obligasi. Oleh karena itu, obligasi disebut juga dengan surat utang. Artinya, ketika kamu memiliki obligasi perusahaan A, kamu memberikan pinjaman kepada perusahaan tersebut sesuai dengan nilai yang tertera pada obligasi tersebut.

Obligasi menjadi bukti bahwa perusahaan tersebut memiliki kewajiban untuk mengembalikan utangnya padamu beserta bunganya selama periode waktu yang disepakati. Namun, meskipun namanya surat utang, tetapi obligasi kini banyak diterbitkan tanpa surat/warkat fisik, melainkan dicatatkan secara elektronik di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Obligasi bukanlah instrumen yang cukup populer di kalangan investor ritel atau investor individu, terutama obligasi korporasi. Instrumen ini kebanyakan dibeli oleh investor institusi atau korporasi dengan satuan pembelian yang mahal, yakni hingga miliaran rupiah per unit.

Meskipun demikian, investor ritel tetap dapat membelinya dengan nilai investasi yang terjangkau, tetapi melalui instrumen reksadana yang dikelola oleh manajer investasi. Manajer investasi ini biasanya mengumpulkan uang dari banyak investor, termasuk investor ritel, sehingga dana yang terkumpul cukup besar untuk dapat membeli obligasi atau instrumen investasi lain. Jadi, investor ritel di sini membeli obligasi secara tidak langsung.

Namun, tentu saja ada obligasi yang dapat dibeli secara langsung oleh investor ritel. Sejauh ini, instrumen jenis ini diterbitkan oleh pemerintah. Obligasi ini dapat dibeli oleh investor individu dengan nilai minimum pemesanan hanya Rp1 juta. Ada empat jenis obligasi ritel yang sudah diterbitkan oleh negara. Berikut ini jenis dan karakter keempat obligasi tersebut :
 

Dalam 3 tahun terakhir, pemerintah makin rutin menerbitkan instrumen obligasi ritel ini. Tujuannya agar surat utang pemerintah dimiliki oleh sebanyak mungkin masyarakat Indonesia, sebab selama ini investor asing justru mendominasi kepemilikan surat utang pemerintah.

Keunikan investasi obligasi adalah bahwa investornya bisa mendapatkan penghasilan rutin dari bunga yang dibayarkan oleh peminjam. Periode pembayaran bunga ini bervariasi, tergantung kesepakatan awal saat obligasi diterbitkan. Biasanya, bunga dibayarkan tiap 3 bulan atau 6 bulan sekali. Namun, ada juga obligasi yang bunganya dibayarkan sekalian beserta pokoknya saat jatuh tempo.

Obligasi ritel yang diterbitkan pemerintah bahkan membayarkan kupon setiap bulan. Instrumen ini kini menjadi salah satu instrumen investasi yang paling menguntungkan, sebab pemerintah memberikan kupon/bunga yang cukup tinggi. Berikut ini daftar instrumen obligasi ritel yang sudah diterbitkan pemerintah sepanjang tahun ini:

 

 

 

 

 

 

Perlu diketahui, obligasi negara merupakan instrumen investasi yang sangat aman, sebab pembayaran bunga dan pelunasannya dijamin oleh negara. Oleh karena itu, investasi ini sangat cocok bagi investor yang ingin menghindari risiko dan berharap keuntungan yang pasti.

Untuk memberikan gambaran tentang keuntungan investasi obligasi negara ini, mari kita bandingkan dengan bunga deposito dari salah satu bank besar di Tanah Air, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kupon obligasi negara dapat diperbandingkan dengan deposito bank, sebab tingkat keamanannya relatif sama, sebab deposito bank dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Berikut ini bunga deposito PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. untuk nilai deposito di bawah Rp100 juta dan periode penempatan 12 bulan:

Dari tabel tersebut, terlihat bahwa bunga deposito Bank Mandiri masih lebih rendah dibandingkan kupon obligasi ritel negara. Selain itu, perlu pula diingat bahwa pajak penghasilan (PPh) yang dibebankan pada kupon obligasi hanya 15%, sedangkan deposito mencapai 20%. Hal ini makin mempertegas keuntungan investasi obligasi ritel negara ketimbang deposito.


Selain itu, obligasi negara jenis ORI dan Sukri juga bisa diperdagangkan di pasar sekunder. Artinya, kamu sewaktu-waktu bisa kembali menjual obligasi tersebut kepada pihak lain dengan perantaraan agen penjual. Bisa jadi ada investor lain yang bersedia membeli obligasimu dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan nilai pokok yang semula kamu investasikan.

Sebagai contoh, ORI 017 yang dijual pada Juni – Juli 2020 lalu menawarkan kupon 6,40% per tahun. Nah, pada Oktober ini, pemerintah menerbitkan seri baru, yakni  ORI 018, tetapi sayang bunganya lebih kecil, yakni 5,70%. Dengan menyadari penurunan ini, investor bisa jadi justru akan lebih memilih membeli ORI 017 di pasar sekunder ketimbang membeli ORI 018 yang baru dari pemerintah.

Nah, apabila kamu sebelumnya sudah memiliki ORI 017 dan ingin menjualnya, kamu bisa menawarkan kepada investor tersebut, tetapi tentu dengan meminta harga yang lebih tinggi. Selisih harga tersebut merupakan keuntungan tambahan untukmu selain dari bunga/kupon.

Deposito

Deposito sebenarnya adalah produk simpanan perbankan yang menawarkan tingkat bunga lebih tinggi dibandingkan tabungan biasa. Deposito disebut juga dengan tabungan berjangka, sebab jenis tabungan ini dilakukan dalam jangka waktu tertentu dan tidak dapat ditarik sebelum jangka waktu yang ditentukan berakhir.

Jangka waktunya pun bervariasi, yakni 1, 3, 6, 12, atau 24 bulan. Bank memberikan bunga yang berbeda untuk jangka waktu penempatan yang berbeda. Makin lama waktu penempatan, semakin tinggi bunganya. Bunga ini bersifat tetap dan baru akan dibayarkan setelah periode penempatan deposito berakhir bersama dengan pencairan deposito.

Di tengah kondisi pandemi, banyak masyarakat memilih menahan diri untuk melakukan konsumsi secara berlebihan. Alhasil, dana yang tidak dibelanjakan ini umumnya tetap mengendap di bank. Dari pada disimpan di tabungan dengan bunga rendah, sebagian masyarakat memilih mengalihkan dananya ke deposito yang menawarkan bunga lebih tinggi.

Namun, sayangnya di tengah pandemi, deposito tidak terlalu dapat diandalkan untuk memperoleh keuntungan investasi yang tinggi, sebab bunganya justru makin turun.

Dalam tabel sebelumnya, telah ditunjukkan contoh bunga deposito pada Bank Mandiri. Terlihat bahwa bunga deposito Bank Mandiri sudah turun ke level 3,5% per September 2020. Tren yang sama terjadi pada banyak bank besar lainnya. Ada dua faktor di balik turunnya bunga deposito ini.

Pertama, turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia, yakni BI 7 Days Repo Rate (BI 7 DRR). Tahun ini, BI 7 DRR sudah empat kali turun, dari 5% pada awal tahun ini, menjadi 4% sejak Juli 2020. Turunnya bunga acuan ini menyebabkan bank pun menyesuaikan lagi suku bunganya. Biasanya, bank lebih dahulu akan menurunkan bunga dana pihak ketiga (DPK), yang mencakup deposito, tabungan, dan giro, baru setelahnya menurunkan bunga kredit.

Turunnya BI 7 DRR tidak terlepas dari respons BI terhadap kondisi ekonomi nasional yang tertekan akibat pandemi. Ini merupakan kebijakan moneter yang wajar diambil. Dengan turunnya bunga, diharapkan gairah untuk menaruh uang di bank menurun sebab keuntungannya kecil, tetapi semangat untuk menarik kredit untuk ekspansi ekonomi meningkat karena biaya bunga menjadi rendah. Dengan demikian, ekonomi berputar kembali.

Kedua, jumlah simpanan nasabah di bank atau DPK tumbuh makin tinggi, tetapi tidak diimbangi oleh penyaluran kredit. Alhasil, beban bank meningkat karena harus membayar bunga untuk simpanan tersebut, tetapi keuntungan yang dihasilkan bank dari penyaluran kredit justru menurun. Berikut ini kinerja pertumbuhan kredit dan DPK tahun ini :
 


Dalam tabel tersebut terlihat pertumbuhan kredit makin lambat dari waktu ke waktu, sedangkan DPK justru masih stabil, bahkan tumbuh double digit per Agustus 2020. Artinya, bank kebanjiran dana masyarakat, tetapi kesulitan untuk menyalurkan kredit dengan sama besarnya.

Hal ini menunjukkan bahwa upaya BI untuk menurunkan suku bunga acuan tidak lantas segera efektif untuk mencegah kenaikan simpanan dan mendorong kredit, sebab aktivitas ekonomi memang lesu akibat PSBB. Alhasil, masyarakat tetap memilih menyimpan uangnya di bank, walaupun bunganya kecil. Hal ini pun memberi ruang bagi bank untuk menurunkan bunga depositonya, sebab posisi tawar bank kini lebih tinggi.  

Emas

Emas dikenal sebagai salah satu instrumen lindung nilai yang aman. Secara jangka panjang, harga emas pun cenderung makin tinggi. Di tengah pandemi saat ini, emas masuk dalam kategori instrumen investasi safe haven, atau instrumen yang aman untuk dimiliki. Selama periode pandemi, harga emas pun sudah naik cukup tinggi.

Sebagai contoh, harga emas PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) pada akhir tahun 2019, atau per 31 Desember 2019 adalah Rp771.000/gr. Hingga kemarin, Selasa (6 Oktober 2020), harganya sudah mencapai Rp1.017.000/gr. Artinya, sepanjang tahun ini, harga emas Antam sudah naik 31,9% ytd.

Transaksi emas dapat dilakukan di pasar forex untuk transaksi secara online, atau mendatangi gerai Antam dan Pegadaian (kamu bisa juga memesan secara online) untuk melakukan jual beli emas fisik batangan. Kedua metode ini berbeda dan memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.

Transaksi online tidak mensyaratkan kamu memiliki emas fisik secara langsung, sehingga tidak ada risiko kehilangan/pencurian dan tidak ada biaya penyimpanan. Transaksi dapat dilakukan di mana pun dan kapan pun melalui platform trading yang disediakan oleh beberapa perusahaan pialang. Harga emas dalam transaksi online ini mengikuti satu harga yang sama di seluruh dunia.

Akan tetapi, transaksi emas online ini membutuhkan modal yang tinggi, sebab transaksi dilakukan dalam satuan lot, yang mana 1 lot setara dengan 100 troy ounce. Adapun, 1 troy ounce itu sekitar 31,1 gram emas. Artinya, sekali transaksi 100 troy ounce setara dengan 3,11 kg emas.

Sebagai gambaran, harga emas di pasar spot pada perdagangan Selasa (6/10) adalah sekitar US$1.911,63 per troy ounce. Dengan asumsi kurs Rp14.700 per dolar AS, nilai tersebut setara Rp28,1 juta. Untuk sekali transaksi 100 troy ounce, harganya adalah US$191.163, sehingga kamu perlu menyiapkan modal Rp2,81 miliar.

Hanya saja, broker umumnya menyediakan fasilitas leverage sehingga kamu bisa membeli emas tanpa perlu membayar penuh. Misalnya, broker menyediakan fasilitas leverage 1:100. Itu artinya, dengan dana US$2.000 (Rp29,4 juta), kamu bisa membeli emas seharga US$200.000 atau 1 lot (100 troy ounce). Namun, ingat, bahwa risiko leverage ini menjadi sangat tinggi ketiga terjadi loss.

Alternatif lainnya adalah membeli emas batangan di gerai Antam atau Pegadaian. Di sini, kamu tidak perlu membeli emas hingga 100 troy ounce, tetapi bisa dalam jumlah yang jauh lebih kecil, yakni cukup 0,5 gr. Dengan demikian, investasinya pun jauh lebih kecil. Hanya saja, kamu perlu memikirkan keamanan penyimpanan emasmu.

Perlu dicatat pula, semakin kecil berat emas yang kamu beli, semakin mahal harga per gramnya. Berikut ini rentang harga emas Antam berdasarkan beratnya pada Selasa (6 Oktober 2020):


 
Catatan penting sebelum kamu memutuskan untuk membeli emas Antam, kamu perlu tahu bahwa membeli emas fisik bertujuan untuk investasi jangka panjang. Artinya, kamu tidak dapat menjualnya dengan segara dan berharap mendapatkan untung yang tinggi.

Pasalnya, harga buy back emas Antam jauh lebih rendah dibandingkan harga jualnya. Hingga Selasa (6 Oktober 2020), harga buy back emas Antam adalah Rp912.000/gr. Artinya, jika kamu membeli 1 gr emas Antam seharga Rp1,02 juta kemarin dan memutuskan untuk langsung menjualnya kembali ke Antam, kamu langsung mengalami kerugian 10,32% dalam sekejap. Hal ini disebut dengan spread. Sehingga lebih masuk akal jika emas dibeli untuk jangka panjang.

Penutup

Itu semua produk investasi yang dapat kamu pertimbangkan untuk menempatkan uangmu selama periode pandemi. Setiap instrumen masih menjanjikan keuntungan yang memadai, bahkan di tengah krisis saat ini, tinggal kejelianmu dalam memilih instrumen terbaik sajalah yang akan menentukan.

Kamu perlu menyesuaikan pilihan investasi dengan profil risikomu. Menurutmu, apakah kamu tipe investor yang agresif, moderat, atau konservatif? Jika menurutmu kamu tipe agresif, silahkan lebih banyak memilih instrumen saham. Namun, jika kamu tipe moderat, kamu dapat mempertimbangkan emas. Bila kamu tipe konservatif, mungkin sebaiknya kamu memilih obligasi ritel negara atau deposito.

Silahkan memilih.

Investasi