Investasi

Ekuitas Negatif, Tapi Saham Ini Melesat 500%

[Waktu baca: 4 menit}

Pasar saham memang penuh kejutan. Ada perusahaan yang punya ekuitas negatif, tapi harga sahamnya melesat lebih dari 500% dalam 3 bulan sampai 23 Maret 2021.

Perusahaan ini bernama Zebra Nusantara (ZBRA). Sampai akhir Maret 2021, perusahaan ini mendapatkan notasi khusus (notasi E) dari BEI karena memiliki ekuitas negatif. 

Berdasarkan laporan keuangan yang terakhir dipublikasikan pada 30 September 2020, Zebra Nusantara memiliki ekuitas negatif Rp8,98 miliar. Ekuitas negatif berarti kewajiban lebih besar daripada aset di dalam neraca.

Perusahaan ini dulunya bergerak di bidang usaha taksi. Namun, skala usahanya jauh lebih kecil daripada Blue Bird (BIRD). Sejak 2017, perusahaan tidak lagi mengoperasikan bisnis taksi tersebut dengan alasan maraknya keberadaan taksi online.

Walaupun bisnis taksinya berhenti beroperasi, perusahaan ini tidak gulung tikar. Zebra Nusantara masih punya usaha lain di bidang penjualan Bahan Bakar Gas (BBG). Usaha ini lah yang menopang hidup perusahaan.

Sampai 30 September 2020, penjualan BBG ini menjadi satu-satunya sumber pendapatan usaha ZBRA dengan nilai sebesar Rp8 miliar--- sangat kecil untuk ukuran perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia. Dari bisnis itu, ZBRA masih bisa mengantongi laba Rp94 juta pada kuartal III/2020.

Walaupun labanya kecil dan punya ekuitas negatif, kabar baik berhembus ke perusahaan yang 60% sahamnya dimiliki oleh PT Infiniti Wahana ini. Pada Maret 2021, ada investor baru yang mengakuisisi atau membeli mayoritas saham ZBRA dengan porsi 51% dengan harga Rp56.

Investor tersebut adalah Trinity Healthcare yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo--- kakak kandung taipan Harry Tanoesoedibjo. Trinity bergerak di bidang perdagangan umum yang meliputi ekspor-impor, pengecer barang farmasi, logistik dan teknologi informasi dan sebagainya.

Akuisisi saham itu dilakukan oleh Trinity untuk mengembangkan dan mendiversifikasi usaha ZBRA. Dalam keterbukaan informasi di BEI disebutkan bahwa ZBRA akan dikembangkan menjadi perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan distribusi, logistik dan teknologi informasi.

Akuisisi itu menjadi aksi korporasi yang "memanaskan" harga saham ZBRA. Dalam kurun waktu tiga bulan hingga 22 Maret 2021, saham ZBRA melesat lebih dari 500% di saat IHSG "hanya" naik 6%. Pada akhir 2020, harga saham ini hanya Rp107, kini Rp358 per lembar.

Apakah sebagian pelaku pasar telah mendengar terlebih dulu rumor mengenai akuisisi ini sebelum diumumkan melalui keterbukaan informasi? Apakah pasar saham bereaksi berlebihan (overreaction) terhadap aksi korporasi ini yang dilakukan oleh ZBRA ini?

Investor kemungkinan bereaksi terhadap informasi aksi korporasi dengan asumsi bahwa emiten yang terlibat akan mendapatkan manfaat positif di masa depan. ZBRA bukan satu-satunya saham yang pernah merasakan "efek samping" dari sentimen aksi korporasi. Kami pernah mengulas saham bank digital yang harganya naik gila-gilaan dalam artikel ini: Naik 6.000%! Bank Digital dan Lonjakan Sahamnya

Fenomena ini lagi-lagi menunjukkan bahwa informasi aksi korporasi adalah suatu sentimen yang tidak dapat dianggap enteng oleh para investor yang memburu cuan. Bukan tidak mungkin ada investor yang mengharapkan turn around story yang dialami ZBRA.

Apakah ZBRA dapat tumbuh setelah melakukan diversifikasi ke sektor usaha yang baru di bawah asuhan pemilik baru? Entahlah. Yang pasti, investor yang baru mau masuk ke saham ZBRA perlu lebih waspada mengenai potensi koreksi setelah harganya naik tinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Tags in: Saham

Related articles

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login