Disposition Effect: Ketahan di Atas, Dilepas di Murah

Rayenda Brahmana

[Waktu baca: 4 menit]

Pernah merasa menjual saham terlalu cepat atau menahan saham terlalu lama?

Hal tersebut adalah permasalahan standar para investor. Artinya, ketika harga saham turun, investor cenderung untuk memegang saham tersebut di waktu yang sangat lama. Namun, ketika harga saham naik, investor cenderung untuk menjual harga saham tersebut terlalu cepat. Hal ini dikenal sebagai Disposition Effect, atau sell too early, hold too long.

Contoh praktisnya, beberapa investor masih memegang SRIL sejak tahun 2017 ketika harga masih Rp300an, dan menahannya sampai sekarang. Ini yang disebut ‘hold too long’.  Ada juga investor yang menjual BBRI secara cepat ketika harga baru menyentuh Rp3.300an. Cuan beberapa persen saja langsung direalisasikan.

Ini yang disebut ‘sell too early’. 

Kenapa disposition effect ini terjadi? Bagaimana cara mengatasinya?

Pertama-tama, perlu diketahui bahwa disposition effect ini tidak hanya dialami oleh investor pemula. Investor berpengalaman sekalipun bisa mengalami bias pengambilan keputusan tersebut. Kok bisa? 

Keputusan menjual atau menahan saham banyak dipengaruhi oleh pembelajaran atas harga di masa lalu. Investor sering kali lupa bahwa begitu pasar bergerak, harga di masa lalu menjadi tidak relevan dengan harga saat ini. Namun, investor memiliki kecenderungan untuk terpikat pada harga masa lalu sehingga melupakan kondisi riil pasar saat ini.

Misalnya saja, harga saham BBRI yang berada di range harga Rp3.600-Rp3.800 pada Februari 2018, Mei 2019, dan November 2020, yang jika ditilik lebih lanjut memiliki penyebab yang berbeda-beda untuk di setiap tiga periode tersebut. 

Akan tetapi, memori investor langsung merekam bahwa saham BBRI pernah menyentuh harga Rp3.600 di periode lampau, dan berpikir harga Rp4.000 adalah harga yang terlalu premium untuk era Covid-19 seperti sekarang. 

Apa yang terjadi berikutnya? Investor tersebut dengan cepat menjual BBRI di Rp3.500-Rp3.600 a.k.a sell too early.

Dalam sebuah eksperimen gabungan dari University of Southern California dan Caltech Institute, investor yang tidak diizinkan untuk melihat harga di masa lalu, maka perilaku disposition effect mereka akan berkurang sebesar 25%.  

Selain itu, faktor peers pressure juga mempengaruhi keputusan disposition effect. Eksperimen dari Boston University menunjukan trader yang bergabung dengan satu grup investasi memiliki kecenderungan disposition effect dua kali lebih besar daripada trader yang tidak bergabung dengan grup investasi.

Perencanaan investasi juga dapat mengatasi disposition effect. Karena sebenarnya kebanyakan investor tidak memiliki perencanaan investasi yang baik dan terukur. Coba direfleksikan, berapa persen dari portfolio kamu yang dialokasikan untuk saham-saham bluechips? Berapa persen untuk saham-saham “kelas dua”? 

Apakah ada proposi dana untuk membeli saham-saham gorengan? Berapa persen target return per tahun? Berapa lama masa minimal holding period saham-saham tersebut? Target cut loss di berapa persen? Kapan kamu akan review kinerja portfolio? Tiap semester? Tiap Kuarter? 

Jika satu dari pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab, artinya kamu memiliki kemungkinan yang besar untuk terjebak dalam disposition effect.

Secara singkat, disposition effect disebabkan oleh emosi dan irasionalitas investor. Dalam kondisi pasar bullish sekarang ini, di mana IHSG dalam kondisi rally dalam satu bulan terakhir, investor akan rentan mengalami bias disposition effect tersebut.

Investor akan menjual saham-saham yang baru saja merangkak naik dengan harga yang terlalu murah (dilepas di murah), dan investor akan menahan saham-saham yang masih “tidur” (ketahan di atas) dengan harapan suatu saat harganya akan kembali merangkak naik. 

Untuk mengatasi permasalahan ini, investor harus (1) memiliki perencanaan investasi yang tepat; (2) tidak mudah tergoda dengan opini orang lain; dan (3) mempelajari kinerja perusahaan secara komprehensif. 

Selamat menahan profit!

Investasi