Di Balik Obsesi Para Raksasa Teknologi terhadap Clubhouse

Fauzan Ahmad

[Waktu baca: 5 menit]

Kandas sudah harapan Twitter untuk mengakuisisi Clubhouse, platform media sosial berbasis suara yang belakangan makin marak digandrungi. Setelah negosiasi panjang hampir 2 bulan, Bloomberg melaporkan bahwa pembicaraan senilai US$4 miliar yang melibatkan kedua perusahaan kolaps.

Namun itu tak menghentikan obsesi Jack Dorsey dan kolega terhadap platform media sosial rintisan Kurt Schrader tersebut. Twitter kini menyatakan bakal fokus untuk melanjutkan pengembangan Twitter Space, layanan audio chat menyerupai Clubhouse yang telah mereka rintis sejak akhir tahun lalu.

Twitter bukan satu-satunya. Obsesi menciptakan layanan tambahan yang menyerupai Clubhouse juga diusung LinkedIn. Begitu pula Facebook, yang telah membocorkan sebuah platform bernama Hotline dengan fitur dan interface mendekati Clubhouse.

Spotify dan Microsoft tidak mau kalah. Nama pertama telah berhasil mengakuisisi Locker Room, salah satu kompetitor Clubhouse pada akhir Maret 2021 kemarin. Sedangkan yang terakhir disebut, Mircrosoft, kini masih dalam proses negosiasi untuk kemungkinan akuisisi saham mayoritas Discord dengan proyeksi kesepakatan hingga US$10 miliar .

Tak perlu diragukan lagi bahwa raksasa-raksasa teknologi di atas punya obsesi merengkuh pengguna yang mulai berpaling ke Clubhouse. Fenomena semacam ini bukan hal baru. Tren serupa pernah terjadi ketika Instagram, Facebook, Twitter, LinkedIn hingga Line berlomba-lomba menciptakan fitur dengan embel-embel “stories” yang menyerupai Snapchat usai platform tersebut mendulang sukses.

Dan Clubhouse, sebagaimana Snapchat pada masa kejayaannya, telah berhasil menunjukkan sinyal bahwa mereka adalah ancaman serius.

Dalam salah satu sesi konferensi pers akhir Februari 2021 lalu, CEO Clubhouse Paul Davidson menyebutkan jumlah pengguna aktif mingguan Clubhouse telah mencapai 10 juta. Itu adalah angka yang impresif menimbang bahwa sebulan sebelumnya pengguna aktif mingguan platform tersebut baru mentok di angka 2 juta.

Saat masa beta tester setahun lalu, peminat aplikasi tersebut bahkan baru pada kisaran 1.500 orang.

Perkembangan Pengguna Aktif Mingguan Clubhouse

Periode

Jumlah pengguna aktif
April 2020 (masa beta tester) 1.5
Mei 2020 3.5
Desember 2020 600
Januari 2021 2.000.000
Februari 2021 10.000.000

Keterangan: dihitung dari jumlah pengguna yang melakukan login minimal 1 kali per pekan.

Per Januari 2021, Clubhouse juga telah mencatatkan valuasi US$1 miliar alias berstatus unikorn, mengacu laporan The Information.  Nilai yang tentu saja akan terus bertambah seiring rencana perusahaan menambah pendanaan dalam waktu dekat usai kolapsnya negosiasi dengan Twitter.

Secara teknologi, Clubhouse sebenarnya tak menawarkan banyak kebaruan. Fitur merekam dan membagikan live audio bukan barang baru. Alpanya teknologi video praktis juga membuat aplikasi ini sah untuk dikatakan kalah modern dari raksasa media sosial lain.

Faktor adanya promosi dari para figur publik punya pengaruh, tentu saja. Toh harus diakui bahwa pengguna media sosial ini mengalami peningkatan paling pesat pada bulan Februari, tepat ketika CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk mempromosikan Clubhouse di akun Twitternya.

Namun tanpa adanya sesuatu yang spesial, promosi-promosi semacam itu jelas tidak akan punya dampak semasif yang terjadi sekarang. Dan, untungnya Clubhouse memilikinya. Mereka memiliki satu hal spesial yang tidak dimiliki platform lain. Hal spesial itu bernama intimitas.

Intimitas ini, pertama, didukung dari algoritma mereka. Algoritme Clubhouse disiapkan untuk menyalurkan informasi berdasarkan topik yang diminati masing pengguna. Meski tak sepintar algoritma TikTok, pendekatan ini berbeda, misalnya, dengan Facebook yang lebih kaku. Algoritma Facebook berpijak berdasarkan indikator-indikator lebih kaku seperti kesamaan tempat kerja, kesamaan kota asal dan semacamnya—sehingga dibutuhkan waktu yang lebih untuk membangun intimitas antarpenggunanya.

Kedua, intimasi ini juga tampak dari keputusan platform tersebut memilih suara sebagai media interaksi.

Dalam peradabannya, manusia telah bercerita secara lisan selama ratusan ribu tahun, ketika interaksi menggunakan teks umurnya bahkan tak sampai separuh usia interaksi suara. Kodrat manusia, pada akhirnya, adalah berinteraksi dengan suara dan pendengaran.

Penilaian tersebut bukan cuma berpijak pada rekam jejak sejarah. Tiffany Eurich, profesor komunikasi sekaligus palar media, juga menyebut bahwa audio juga memiliki intimitas lebih tinggi dari teknologi masa kini seperti video. Sebab audio “tak menuntut formalitas yang kaku.” Setiap orang bisa menyampaikan pikirannya dengan santai tanpa perlu memikirkan bagaimana penampilannya di depan kamera.

Teori yang sama diyakini oleh Robert Casares, asisten profesor konseling Wake Forest University, yang menyebut popularitas Clubhouse juga “didukung oleh bangkitnya tren podcast sejak tahun lalu.” 

Di tengah pandemi, ketika orang membutuhkan sentuhan intimitas di tengah formalitas zoom dan konferensi video, mendengarkan suara orang tanpa perlu melihat penampilan adalah suatu kemewahan. Tak perlu repot-repot duduk di kursi cantik, menata rak berisi tumpukan buku sebagai background, apalagi dandan necis dengan jas dan dasi.

Dan, intimitas yang mewah itu terasa makin berharga karena Clubhouse juga memberi peluang untuk menghapus sekat-sekat jarak yang ditimbulkan perbedaan kelas. Seorang karyawan kantoran biasa, misalnya, bisa berinteraksi via suara dengan orang-orang besar macam Mark Zuckerberg atau Oprah Winfrey.

Tentu bukan berarti Clubhouse tak punya kelemahan. Seiring ambisi besar perusahaan raksasa dengan amunisi duit berlimpah macam Facebook dan Twitter untuk jadi pesaing, masa depan platform ini bakal bergantung dengan bagaimana mereka mampu mencari dukungan pendanaan dan mengoptimalkan sumber daya yang ada.

Pertarungan uang ini, terutama, akan berpusat dari bagaimana pengembangan algoritma dan data.

Berfokusnya platform seperti Clubhouse ke aspek audio membuat hal-hal di luar “fleksibilitas” bakal cenderung tereliminir dan inilah yang menurut Lutz Finger, manajer produk Google Health sekaligus penulis buku Ask Measure Learn, bakal membuat persaingan berfokus ke algoritma dan data.

Dalam sebuah kolom di Forbes, menurut Finger Clubhouse akan sukses jika mereka mampu menciptakan algoritma yang semakin mendekati TikTok. Dan, untuk mewujudkannya, dibutuhkan keputusan ekonomi yang tepat.

“Kekuatan data Clubhouse baru akan terlihat jika mereka mau belajar pada Tiktok. Mereka [TikTok] membuat algoritma yang tidak terpaku pada grafik dan strata sosial. Dari situ, mereka membangun sebuah mesin rekomendasi yang kuat.” 

Untuk mewujudkan algoritma monster seperti yang dimaksud Finger, ByteDance, perusahaan induk TikTok memang menempuh sebuah jalan revolusioner. Proporsi teknisi di perusahaan tersebut didominasi oleh para software engineers yang lebih dari setengahnya berada di hilir untuk memastikan algoritma berjalan sesuai tren.

Para software engineer ini menghitung secara presisi berapa video kesukaan seseorang berdasarkan durasi melakukan scroll, berapa kali melakukan scroll dalam waktu tertentu, dan hal-hal spesifik seperti warna hingga suara favorit. Sesuatu yang tak banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Silicon Valley seperti Facebook dan Instagram, Twitter hingga LinkedIn.
 
 

 

Tags:

Bisnis