Dekapan Konglomerat di Klub-klub Liga 1

Fauzan Ahmad

[Waktu baca: 6 menit]

Kedatangan anak bungsu Presiden Jokowi Kaesang Pangarep dan Menteri BUMN Erick Thohir sebagai pemegang saham PT Persis Solo Saestu, entitas yang menaungi klub sepak bola Persis Solo pekan lalu cukup menyita perhatian.

Aksi tersebut bikin para Pasoepati, sebutan untuk barisan suporter Persis, yakin klub kebanggaannya yang kini masih berstatus penghuni divisi kedua bisa tembus ke Liga 1. Sebab hadirnya Kaesang dan khususnya Erick, yang punya portofolio panjang membesarkan klub-klub olahraga, diproyeksi bakal membuat Persis menjadi klub yang lebih matang secara finansial.

Jika berhasil promosi ke Liga 1, Kaesang dan Erick tidak saja akan membuat Persis jadi klub lebih tangguh dan disegani. Promosi ke Liga 1 juga bakal membuat kedua pihak bersaing secara langsung dengan klub-klub divisi teratas yang sudah lebih dulu disokong oleh pemodal-pemodal kakap lain.
Siapa saja mereka?

Baca juga: Ketika Kaesang Beli Perusahaan Klub Bola

Keluarga Bakrie (Persija)

Nama pertama yang sudah jelas bakal dihadapi adalah Keluarga Bakrie. Sejak belasan tahun lalu, Nirwan Bakrie dan kolega menjadi konglomerat paling konsisten berkecimpung di bisnis bola. Pelita Jaya dan Arema Indonesia adalah contoh dua klub yang sempat moncer karena polesan tangan mereka.

Namun pecahnya dualisme Arema membuat Nirwan dan kolega tak lagi intens mendanai tim sepak bola asal Malang. Belakangan mereka justru memusatkan pendanaannya ke klub ibu kota Persija Jakarta.

Mulanya kehadiran kubu Bakrie ke Persija tak banyak terendus. Mereka menyembunyikan kepemilikan lewat perusahaan bernama PT Jakarta Indonesia Hebat (JIH) yang memegang 95 persen lebih saham PT Persija Jaya Jakarta, entitas yang menaungi Macan Kemayoran. Dalam strukturnya, saham mayoritas JIH dipegang oleh eks Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono.

Mencuatnya kubu Bakrie di Persija baru tampak tatkala dalam sebuah wawancara dengan Tirto.id, Jokdri mengakui bahwa bukan dirinya yang mendanai JIH. “Ada malaikat turun, kasih duit,” kata Jokdri.

Setahun setelahnya, usai Persija menjuarai Liga 1 2018, lingkaran Bakrie tampak terang-terangan duduk di manajemen perusahaan. Beberapa nama orang-orang kepercayaan Nirwan yang kini ada di struktur Direksi Persija adalah Andre Rizki Makalam (Direktur PT Bakrie Pangripta Loka) dan Fandrizal Rabain (Presiden Direktur PT Bakrie Pesona Rasuna).

Sedangkan di struktur komisaris Persija, nama-nama yang terafiliasi dengan Bakrie adalah Sharif Cicip Sutardjo (politikus Golkar, eks Menteri KKP era SBY), Ambono Janurianto (Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk), Bambang Irawan Hendradi (Presiden Komisaris PT Bakrieland Development Tbk) hingga Marudi Surachman (Presiden Direktur PT Krakatau Lampung Tourism Development). 

Keluarga Tanuri dan Grup Salim (Bali United)

Taipan lain yang telah mapan menaungi klub Liga 1 adalah Grup Salim dan Keluarga Tanuri. Dua pihak yang sebelumnya pernah punya kongsi bisnis di PT Indomobil Sukses Internasional ini nangkring di jajaran pemegang saham PT Bali Bintang Sejahtera Tbk., pengendali Bali United.

Bila dirunut, embrio kelahiran Bali United sebenarnya panjang. Sejarahnya berawal dari klub Putra Samarinda yang berdiri pada 1989 dan bertransformasi jadi Persisam Putra Samarinda sejak 2003. Lalu, seiring gembosnya kondisi keuangan Persisam, pada 2015 klub ini dibeli Pieter Tanuri dan diboyong ke Bali. Pieter lantas menyerahkan operasional klub ini sepenuhnya kepada adiknya, Yabes Tanuri.

Resmi berdiri sebagai entitas baru sejak 2015, Bali United di tangan Pieter dan Yabes menjelma jadi kekuatan baru. Belum genap 5 tahun berdiri, klub ini berhasil menjuarai liga dan menjadi tim sepak bola pertama di Indonesia yang melantai di bursa. Diperdagangkan di BEI sejak 17 Juni 2019, saham Bali United biasa dikenal dengan kode emiten BOLA.

Sedangkan afiliasi Grup Salim di entitas ini tampak dari keberadaan PT Indolife Pensiontama sebagai salah satu pemegang saham BOLA. Indolife Pensiontama merupakan perusahaan yang mengendalikan Indolife, bisnis asuransi milik Grup Salim. Entitas tersebut juga merupakan kendaraan Grup Salim untuk membeli saham dua emiten bank, PT Bank Mega Tbk. (MEGA) dan PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) belum lama ini.

Kepemilikan saham Indolife di BOLA ada pada kisaran 323,16 juta lembar saham atau setara 5,39 persen.

Baca juga: Daftar Saham Grup Salim 2021

Grup Northstar (Persib dan Bali United)

Selain Grup Salim dan Keluarga Tanuri, sebagian kepemilikan Bali United juga terafiliasi dengan Northstar, perusahaan privat equity asal Singapura yang didirikan oleh Patrick Walujo dan Glenn Sugita. Northstar punya portofolio jumbo menyokong berbagai korporasi besar seperti GoJek, Zenius, Tiki, hingga Indomaret.

Di Indonesia, perusahaan ini juga memegang saham beberapa emiten. Mulai dari perusahaan menara PT Centratama Komunikasi Indonesia Tbk. (CENT), perusahaan asuransi PT BFI Finance Indonesia Tbk. (BFIN), emiten tambang PT Delta Dunia Makmur Tbk. (DOID), PT Trimegah Securities Tbk. (TRIM), PT Multistrada Arah Sarana Tbk. (MASA), PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk. (TUGU), hingga PT Bankk Tabungan Pensiunan Nasional Tbk. (BTPN).

Afiliasi Bali United dengan Northstar salah satunya tampak dari kepemilikan 314,84 juta lembar saham atau setara 5,25 persen atas nama Ayu Patricia Rahmat. Ayu merupakan anak kandung miliarder Theodore Permadi Rachmat sekaligus istri Patrick Walujo.

Sebelumnya dalam struktur pemegang saham BOLA, terdapat pula nama Miranda Tedjasaputra, dengan jumlah kepemilikan saham sama dengan Ayu. Miranda adalah orang kepercayaan Glenn Sugita di Northstar. Namun, pada pengujung Februari lalu Miranda mulai melepas sekitar 4,9 persen dari total 5,25 persen porsi saham yang dimilikinya.

Selain Bali United, Northstar juga terafiliasi dengan Persib Bandung lewat Glenn Sugita. Ketimbang Bali United, Glenn telah lebih dulu menancapkan investasinya di klub tersebut sejak 2008. Saat ini Glenn merupakan pemegang saham terbesar sekaligus Direktur Utama PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), entitas yang menaungi Persib.

Di bawah kendali Glenn, Persib sempat mencicipi gelar juara Liga Super Indonesia (ISL) musim 2014.

Irisan Grup Medco (PS Sleman)

Bicara soal sepak bola Indonesia jelas sulit lepas dari sosok bos Grup Medco, Arifin Panigoro. Arifin sempat jadi sosok kunci saat masa-masa kelam dualisme kompetisi Indonesia akibat kemunculan Liga Primer Indonesia (LPI) pada medio 2011.

Kini Arifin, secara hitam di atas putih, memang tidak lagi memegang portofolio klub atau pun perusahaan terkait sepak bola. Namun, pengaruh Grup Medco bukan berarti tidak tampak.

Baru tahun lalu, hampir 70 persen saham klub PS Sleman (PSS) yang sebelumnya dipegang pengusaha mesin fotokopi dan hotel Soekeno dibeli oleh Agoes Prodjosasmito. Pembelian dilakukan Agoes lewat sebuah entitas bernama PT Palladium Pratama Cemerlang. Agoes lantas kini duduk sebagai komisaris.

Agoes adalah salah satu orang di lingkaran dekat Arifin dan Medco. Pendiri PT Ithaca Resources tersebut merupakan bagian dari direksi PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Amman sebelumnya dikenal dengan nama PT Newmont. Mayoritas saham perusahaan ini dipegang oleh PT Amman Mineral Investama, yang dicaplok Grup Medco sejak 2 November 2016. 

Grup Bosowa (PSM Makassar)

Bila Grup Medco masih relatif malu-malu kucing menampakkan dirinya, lain halnya dengan Grup Bosowa. Partisipasi kelompok konglomerat yang merajai bisnis semen di Sulawesi ini tampak jelas dalam 5-6 tahun terakhir.

Sejak 2015 salah satu entitas Bosowa, yakni Bosowa Sport Indonesia, merupakan pemegang saham mayoritas PT Paggolona Sulawesi Mandiri yang mengelola klub PSM Makassar. Seiring berjalannya waktu, pasca-kehadiran Bosowa Sport jajaran direksi PSM juga semakin lekat dengan nama-nama di lingkaran Grup Bosowa. 

Sadikin Aksa misal, anak bos Bosowa Aksa Mahmud sekaligus keponakan Jusuf Kalla, turun gunung langsung dan mengemban jabatan Komisaris Utama PSM. Adik ipar Sadikin, yakni Munafri Arifuddin, sampai saat ini masih menjabat sebagai Direktur Utama PSM.

Grup Hasnur (PS Barito Putera)

Seperti halnya PSM, klub asal Kalimantan PS Barito Putera juga masih berada di bawah kendali putra daerah. Hasnuryadi Sulaiman, yang belakangan lebih banyak dikenal karena jabatannya sebagai anggota DPR-RI Fraksi Golkar, merupakan Direktur Utama PT Putera Barito Berbakti, pengelola PS klub Barito Putera.

Hasnuryadi adalah anak kandung Abdussamad Sulaiman, pendiri Hasnur Group dan PS Barito Putera.

Meski tak sepopuler Grup Salim, Bakrie ataupun Northstar, sepak terjang Grup Hasnur dalam dunia bisnis patut mendapatkan acungan jempol. Bisnis keluarga itu kinis sudah menggurita, dari hulu sampai hilir.

Di sektor kehutanan, lewat PT Barito Putera dan PT Hasnur Jaya Utama, Hasnur Grup memiliki izin usaha pemanfaatan hutan alam dan sertifikasi legalitas kayu (SVLK). Dari dua perusahaan itu, Hasnur memiliki luas lahan hutan yang mencapai 80.725 ha.

Di sektor agrobisnis, salah satunya dikelola PT Hasnur Citra Terpadu dengan luas lahan kelolaan mencapai 11.900 ha. Kemudian di sektor jasa, Hasnur memiliki bisnis transportasi lewat PT Magma Sigma Utama dan penyewaan angkutan lewat PT Hasnur Graha Jaya untuk mendukung bisnis inti yang dijalankan Hasnur. Di sektor ini mereka juga punya perusahaan informasi dan telekomunikasi lewat PT Hasnur Informasi Teknologi.

Hasnur juga punya lini usaha media lewat PT Hasnur Media Citra. Perusahaan ini adalah pemilik koran Media Kalimantan, Radio Gol FM, anak-anak usaha di segmen percetakan, serta mengelola Duta TV.

Grup Gatara (Madura United)

Pengusaha daerah lain yang juga mengelola klub sepak bola adalah Achsanul Qosasi.

Madura United, klub yang dikelola Achsanul, punya latar belakang tak beda jauh dengan Bali United. Embrio Madura United berawal dari berdirinya Pelita Jaya sejak era 1970, yang kemudian pada 2014 dan merger dengan Bandung Raya FC menjadi Pelita Bandung Raya (PBR).

PBR mulanya dijalankan Ari D. Sutedi, namun relatif jalan di tempat. Achsanul lantas membeli lisensi klub ini dan memboyongnya ke kampung halamannya di Madura.

Bermarkas di Stadion Gelora Pamekasan dan Gelora Bangkalan, Madura United memang belum meraih trofi berarti, namun statusnya sebagai kuda hitam berkali-kali mengancam para juara Liga 1.

Adapun sumber kekayaan Achsanul untuk menghidupi Madura United berasal dari bisnis pimpinannya, PT Garuda Tani Nusantara (Gatara Group).

Dengan reputasi menterengnya sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Achsanul juga menjadi magnet yang menarik kedatangan berbagai sponsor. Beberapa perusahaan yang pernah jadi sponsor utama Madura United antara lain Lion Air, Pojur, Quick Chicken, hingga Torabika.

Tags:

Bisnis