BTPN Naik Kelas ke Bank BUKU IV

Fauzan Ahmad

Konsolidasi dengan perbankan Jepang PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia pada 2019 lalu menjadi tonggak penting bagi PT Bank BTPN Tbk. (BTPN). Aksi korporasi ini membuat ambisi perseroan menjadi bank anggota BUKU 4 terwujud lebih cepat.

Dari yang sebelumnya menarget masuk BUKU 4 pada 2023, perseroan mengubah target mereka menjadi 2021.

“Setelah digabung modal [BTPN dan Sumitomo Mitsui Indonesia] menjadi Rp25 triliun lebih dan aspirasi jangka panjang pada BUKU 4. Kami berharap dan memperkirakan kalau tumbuh organik dari laba ditahan, kemungkinan 2021 BTPN bisa mencapai tingkat modal BUKU 4,” kata Direktur Utama Ongki Wanadjati pada awal 2019 lalu

Mengacu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 6, untuk menjadi BUKU 4 suatu bank harus memiliki modal inti sekurang-kurangnya Rp30 triliun. Dan perkiraan Ongki, sang nakhoda baru BTPN selepas ditinggal bankir Jerry Ng, rupanya cukup akurat.

Lewat pertumbuhan organik, perusahaan telah mampu mencatatkan modal inti Rp29,42 triliun per akhir Desember 2020 lalu. Dan di awal tahun ini, setidaknya secara hitungan modal inti, dimulai sudah perjalanan baru BTPN sebagai pendatang baru BUKU 4.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan keuangan terakhir per Juni 2021, BTPN telah memiliki sokongan modal inti Rp31,13 triliun, tumbuh 5,78 persen dari posisi akhir tahun lalu. Berkaca dari capaian besar dalam 6 bulan tersebut, dengan asumsi BTPN akan terus menahan laba mereka, sangat terbuka kemungkinan BTPN membukukan pertumbuhan modal inti yang lebih besar ketimbang rapor 7,94 persen sepanjang tahun lalu.

Kini pertanyaan baru pun muncul. Bila secara modal bank ini sudah resmi masuk ke kasta baru, bagaimana secara kinerja. Apakah perusahaan ini sudah siap bersaing dengan penghuni BUKU 4 lainnya?

Bila kompetisinya ditarik ke bank-bank raksasa dengan modal inti ratursan triliun seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) ataupun PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI), BTPN jelas berada di tataran yang jauh lebih rendah.

Perbandingan modal inti yang masih bagai bumi dan langit menjadi pemicunya.

Akan tetapi, bila dikompetisikan dengan bank-bank BUKU 4 yang juga punya modal di kisaran Rp30 triliunan seperti PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA), PT Bank Danamon Tbk. (BDMN), ataupun PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) yang punya modal inti di kisaran Rp40 triliunan, capaian BTPN boleh diadu.

Sepanjang semester I/2021, BTPN telah mampu mencatatkan laba bersih perseroan Rp1,64 triliun, tumbuh 46,43 persen secara year on year (yoy) dari posisi Rp1,12 triliun.

Kinerja tersebut lebih baik, misalnya dibandingkan BDMN yang pada paruh pertama tahun ini baru membukukan laba bersih Rp998 miliar. Pertumbuhan Danamon secara yoy pun hanya mentok 18 persen, jauh di bawah BTPN.

Rapor BTPN juga lebih baik ketimbang PNBN, alias Bank Panin, yang pertumbuhan laba yoy mereka pada paruh pertama hanya mentok 8,3 persen ke posisi Rp1,4 triliun.

Secara angka, kinerja bottom line BTPN memang masih lebih rendah dari CIMB Niaga yang mampu meraup laba Rp2,1 triliun sepanjang semester I/2021. Namun, perlu dicatat bahwa pertumbuhan laba BNGA mentok di 24,6 persen alias lagi-lagi di bawah pertumbuhan BTPN.

Rapor positif BTPN atas para kompetitor dekatnya itu setidaknya mengisyaratkan satu kesimpulan; mereka lebih pandai melakukan adaptasi sejak kedatangan pandemi.

Tahun lalu, sudah jadi rahasia umum bahwa mayoritas bank dari hampir semua kasta mengalami pukulan kinerja karena pandemi. Dan pelajaran dari pukulan tersebut, diakui BTPN terus mereka pegang teguh.

“Ini hasil dari strategi bisnis kami untuk bisa tangkas dan adaptif dalam upaya kami senantiasa menyesuaikan diri dalam menghadapi tantangan pandemi yang belum berakhir ini,” kata Direktur Utama Ongki Wanadjati dalam pernyataannya Rabu (28/7) lalu.

Wajar saja BTPN lebih cepat beradaptasi. Di tengah pandemi, kesiapan mereka dengan berbagai layanan digital termasuk Jenius menjadi pembeda besar.

Adanya layanan digital yang lebih mapan membuat mereka mampu menjaga efisiensi yang tercermin dari relatif stagnannya beban operasional perusahaan.

Di saat yang sama, pendapatan operasional lainnya juga tumbuh 5 persen (yoy) menjadi Rp960 miliar dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp913 miliar. Pertumbuhan tersebut, terutama, berasal dari peningkatan pendapatan fee.

Makin digandrunginya layanan digital BTPN juga tercermin dari penurunan beban bunga yang tercermin dari peningkatan Current Account Saving Account (CASA) atau sumber dana murah yang tercatat berada di level sekitar Rp28,29 triliun pada akhir Juni 2021.  Rasio tersebut naik 4 persen (yoy) dari Rp27,23 triliun.

Namun, bukan berarti BTPN tak punya tantangan.

Secara rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL), rapor BTPN memang masih 1,46 persen atau lebih rendah dari rata-rata industri per akhir Mei 2021 yang sebesar 3,35 persen.

Hanya saja, yang patut disayangkan, rasio NPL rendah tersebut tidak terjadi bersamaan penyaluran kredit agresif. Sebaliknya, tren secara angka justru menunjukkan bahwa penyaluran kredit BTPN makin lesu.

Secara yoy, penyaluran kredit BTPN per Juni 2021 yang sebesar Rp135,57 triliun merosot 10 persen secara yoy.

Sebenarnya, rapor kredit lesu tersebut bukan hambatan berarti bila BTPN hanya ingin berkompetisi dengan rival-rival sejajar macam BNGA, BDMN ataupun PNBN. Sebab, toh di bank-bank tersebut tren kredit juga melayu seiring pandemi.

Akan tetapi, bila masih punya mimpi untuk bersaing dengan bank-bank lebih besar seperti BBRI, BMRI, BBNI dan BBCA, BTPN tentu perlu berbenah. Mengingat, di keempat bank raksasa BUKU 4 tersebut, tren kredit perlahan mulai membaik.

BBCA, contohnya membukukan penyaluran kredit Rp593,6 triliun atau hanya berjarak 0,3 persen dibandingkan rapor pembiayaan per Juni 2020 lalu. Sedangkan BMRI, dengan rapor penyaluran kredit Rp1.014 triliun, bakan telah tumbuh 16,4 persen secara year on year (yoy).

Pada akhirnya, masuk sebagai pendatang baru di BUKU 4 tidak akan serta merta membuat BTPN bisa berpangku tangan. Mereka barangkali masih punya potensi menjanjikan untuk terus menumbuhkan bisnisnya secara organik.

Namun, dengan keberadaan rival-rival yang lebih tangguh, persaingan di kelompok baru ini jelas akan lebih sulit ketimbang pertarungan yang pernah dilakoni BTPN di BUKU 4.

Kini, menarik untuk menanti seberapa jauh bank bernuansa Jepang ini bisa menunjukkan kejutan-kejutan lainnya.

Bisnis