Bangkitnya Kinerja Sinarmas di Awal 2021

Berkah Rio

Grup Sinarmas umumnya terkenal dengan dua lini bisnis utama, yakni properti dan kertas. Siapa yang tidak kenal dengan kawasan perumahan elit Bumi Serpong Damai di Tangerang? Proyek tersebut menjadi salah satu monument sukses pengembangan properti skala kota di Indonesia.

Lini bisnis properti Sinarmas ini dikendalikan oleh PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE). Di bawahnya ada emiten pengembangan kawasan properti Sinarmas Land yakni PT Duta Pertiwi Tbk. (DUTI) serta pengembang kawasan industri Deltamas yakni PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS).

Sementara itu, di lini bisnis kertas, Sinarmas memiliki dua emiten besar, yakni PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk. (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM). Kita mengenal dengan baik merek kertas Sinar Dunia atau SiDU yang menguasai lebih dari 50% pangsa pasar kertas fotocopy.

Meskipun demikian, sejatinya di luar kedua lini bisnis tersebut, Sinarmas juga memiliki sejumlah perusahaan lain di berbagai lini bisnis.

Di lini agribisnis, Sinarmas memiliki PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. atau PT SMART Tbk. (SMAR) yang merupakan emiten di grup ini dengan nilai pendapatan terbesar. Emiten ini memproduksi berbagai jenis produk konsumsi berbasis kelapa sawit.

Minyak goreng dan margarin Filma adalah produk makanan yang terkenal dari SMAR.

Di urutan kedua, ada lini jasa keuangan dengan pemain utamanya yakni PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA). Emiten ini menjadi induk dari PT Bank Sinarmas Tbk. (BSIM) dan PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk. (LIFE).

Selain itu, grup usaha ini juga memiliki jaringan bisnis teknologi informasi & komunikasi yakni melalui PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN). Namun, perusahaan ini menjadi satu-satunya emiten di grup ini yang mengalami tekanan kerugian.

Terakhir, Sinarmas juga memiliki emiten di lini bisnis energi dan infrastruktur melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA). Emiten ini bergerak di industri pembangkit listrik, pertambangan, perdagangan pupuk dan bahan kimia, serta teknologi.

Selama pandemi, kinerja masing-masing lini grup usaha ini variatif. Meskipun demikian, mayoritas emiten-emiten di Grup Sinarmas sudah berhasil mencatatkan pemulihan kinerja pada awal tahun ini. Berikut ini kinerja keuangan mereka untuk periode kuartal pertama tahun 2021:

Jika mengacu pada data keuangan ini, kinerja terbaik di bisnis Grup Sinarmas pada awal tahun ini dibukukan oleh emiten-emiten di sektor properti. BSDE dan DMAS berhasil mencetak pertumbuhan laba ratusan persen, sedangkan DUTI pun tak kalah tingginya dengan pertumbuhan 74% year on year (yoy).

BSDE menjadi kontributor terbesar bagi laba di grup ini, mencapai Rp588 miliar pada kuartal pertama tahun ini, padahal dari sisi pendapatan justru bukanlah yang terbesar. Artinya, lini bisnis properti Grup Sinarmas merupakan lini bisnis yang paling efektif menghasilkan keuntungan dengan margin terbesar.

Dari sisi pendapatan, lini agribisnis sebenarnya menjadi yang terbesar melalui SMAR. Namun, emiten ini rugi tahun lalu dan baru berhasil mencetak keuntungan terbatas pada awal tahun ini. Di lini bisnis keuangan, margin keuntungannya pun relatif sangat kecil.

Perusahaan keuangan Sinarmas yakni SMMA mencetak pendapatan Rp10,9 triliun, tetapi labanya hanya Rp283 miliar. Artinya, marginnya hanya 3%, kalah jauh dibandingkan dengan margin BSDE yang mencapai 35%. Margin DUTI bahkan mencapai 65%, sedangkan DMAS 51%.

Di industri kertas, kinerja INKP dan TKIM masih sangat tertekan seiring turunnya penjualan kertas selama pandemi. Lini bisnis ini menjadi yang paling tertekan pada awal tahun ini dengan tingkat penurunan laba yang paling besar.

Meskipun demikian, kinerja keduanya masih lebih baik ketimbang FREN yang masih rugi. Hanya saja, tingkat kerugian FREN sudah berkurang tajam pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sebagai emiten yang bergerak di sektor telekomunikasi, sebenarnya FREN diuntungkan oleh kondisi pandemi, sebab permintaan layanan internet meningkat pesat. Hal ini juga terlihat dari sisi kenaikan pendapatan FREN yang cukup tinggi, yakni 20,6% yoy.

Sayangnya, beban usaha FREN masih sangat tinggi sehingga perusahaan masih kesulitan untuk mencetak laba. Sebagai gambaran, beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi saja menjadi Rp1 triliun pada kuartal pertama tahun ini.

Sementara itu, beban penyusutan dan amortisasi mencapai Rp887,6 miliar dan beban penjualan Rp272 miliar. Alhasil, pendapatan senilai Rp2,4 triliun menjadi tidak ada artinya. Rugi usaha FREN mencapai Rp80 miliar.

Ditambah beban lain-lain, rugi FREN pun mencapai Rp397 miliar. Meskipun demikian, tingkat kerugian ini jauh berkurang dibandingkan dengan kondisi kuartal I/2020 yang mencapai Rp1,8 triliun. Jelas, ini menunjukkan perbaikan yang signifikan bagi FREN.

Selain itu, perseroan juga telah menggelar rights issue yang menambah modalnya hingga Rp698 miliar. Sebesar 85% dana tersebut digunakan untuk membayar utang dan hanya 15% yang digunakan untuk modal kerja.

Jika menimbang tingkat kerugian FREN, tambahan modal tersebut hanya sedikit menambal kerugian perusahaan.

 

Prospek Grup Sinarmas

Sama seperti semua grup konglomerasi lainnya, diversifikasi bisnis Grup Sinarmas memungkinkan adanya saling sokong menyokong di antara masing-masing lini bisnis. Kinerja industri jasa keuangan Sinarmas, misalnya, tentu tidak terlepas dari dukungan dari bisnis-bisnis lainnya sebagai debitur.

Di luar perusahaan-perusahaan yang telah menjadi emiten, Sinarmas juga memiliki banyak perusahaan lain yang belum berstatus terbuka. Jika menimbang mayoritas emitennya yang masih berkinerja positif dengan laba yang cukup besar, dapat dikatakan Sinarmas cukup sukses untuk pulih pada awal tahun ini.

Adanya banyak insentif di sektor properti menjadikan lini bisnis ini cepat pulih pada awal tahun ini. Lagi pula, reputasi Sinarmas melalui brand Sinarmas Land dan Bumi Serpong Damai sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Hal ini menjaga stabilitas bisnisnya dalam jangka panjang.

Selain itu, Sinarmas juga menjadi salah satu emiten properti terbesar di Indonesia dengan cadangan lahan terluas, mencapai lebih dari 10.000 hektar. Proyek properti yang dikembangkan Sinarmas pun sangat terdiversifikasi, mulai dari perumahan, apartemen, mal, perkantoran, hotel, mix used, hingga kawasan industri.

Dengan kondisi ini, prospek jangka panjang di lini bisnis ini pun sangat menjanjikan, meskipun belum kembali mendapatkan momentum booming properti.

Di luar properti, bisnis kertas yang dijalankan Sinarmas juga tetap prospektif, menimbang grup usaha ini merupakan salah satu pemain terbesar di bisnis ini. Permintaan terhadap kertas pun dalam jangka panjang masih akan tetap tinggi, kendati perkembangan digital mulai mengganti ketergantungan pada kertas.

Demikian juga lini bisnis produk sawit perseroan. Dengan perkembangan biodiesel nantinya, permintaan terhadap sawit bakal tetap tinggi. Lagi pula, tidak mudah untuk begitu saja menggantikan posisi sawit sebagai bahan baku produksi banyak produk konsumer.

DSSA sendiri juga memiliki rencana untuk penembangan energi baru terbarukan (EBT). Kemungkinan besar, energi baru yang akan dikembangkan adalah biodiesel yang bakal memanfaatkan bahan baku dari perkebunan sawit SMAR.

Pada awal tahun ini, terlihat bahwa kinerja DSSA sangat baik, dengan tingkat pertumbuhan pendapatan hingga 17,2% yoy dan laba bersih melesat hingga 389% yoy. Dengan rencana diversifikasi produk ke arah EBT, prospek bisnis DSSA bakal makin menjanjikan, terutama dengan adanya jaminan bahan baku dari SMAR.

Jika menilik kinerja keuangan Grup Sinarmas pada awal tahun ini, prospek pemulihan kinerja hingga akhir tahun tentu sangat terbuka, meskipun pada paruh kedua tahun ini kembali dihadapi oleh tantangan PPKM Darurat.

Bisnis