7 Alasan Kenapa Kita Harus Investasi di Pasar Modal Indonesia di Tahun 2018

Date:

 

Tahun 2018 mungkin akan menjadi salah satu tahun terbaik untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Setelah tumbuh 20% di tahun 2017, tahun ini IHSG tidak menunjukkan tanda-tanda untuk melambat. Hal ini terlihat dari rutinnya pemecahan rekor IHSG yang terus mencetak all-time high di bulan Januari 2018. Kombinasi antara faktor eksternal dan internal seolah menjadi pondasi kuat untuk pertumbuhan keuntungan berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Berikut kami berikan tujuh faktor utama yang dapat mendorong pertumbuhan IHSG tahun ini.

1. Pertumbuhan ekonomi yang stabil

Setelah tumbuh 5.07% di tahun 2017, banyak pihak yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik lagi di tahun ini. Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani mematok 5.4% untuk pertumbuhan tahun 2018 sesuai dengan target yang dicantumkan dalam APBN 2018. Sementara gubernur BI Agus Martowadojo menargetkan 5.1-5.5% pertumbuhan nasional di tahun 2018.

Asian Development Bank menargetkan 5.3% pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini. Dengan demikian, hampir semua ekonom dan lembaga riset memprediksi Indonesia akan berlari semakin kencang di 2018. Dan tentu saja harapannya hal ini juga akan tercermin dari pertumbuhan IHSG tahun ini.

2. Kondisi politik yang sejuk

Memasuki tahun keempat pemerintahan Jokowi, kondisi politik Indonesia juga semakin stabil. Setelah sempat ricuh dengan kasus penistaan agama beberapa waktu lalu, kini diharapkan kondisi politik akan semakin sejuk dan minim terjadi demonstrasi yang bisa mengganggu kegiatan ekonomi di Indonesia. Adanya pemilihan kepala daerah serentak yang akan terjadi tahun ini juga diharapkan akan mendorong konsumsi domestik dan tercermin dengan meningkatnya belanja iklan dan mempengaruhi kinerja emiten-emiten yang berkaitan dengan pemilu seperti perusahaan-perusahaan media yang listing di bursa.

3. Pulihnya harga komoditas

Setelah melewati tahun-tahun terberat rendahnya harga jual di tahun 2014&2015, dua komoditas utama utama Indonesia (batubara & CPO) mulai menggeliat naik. Harga batubara yang sudah melewati $100 per metric ton (dari awalnya $50-$60) menjadi stimulus untuk emiten-emiten pertambangan (ADRO, BUMI, PTBA, ITMG dan HRUM).

Harga saham-saham tersebut sudah melonjak dari level terendahnya di tahun 2015. Bukan tidak mungkin, level harga saham-saham pertambangan akan kembali ke puncak seiring dengan meningkatnya penjualan dan laba bersih perusahaan.

4. Gencarnya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah

Salah satu trademark pemerintahan Jokowi adalah giatnya pemerintah dalam membangun infratruktur di seluruh Indonesia. Lihat saja, hampir setiap hari kita bisa membaca berita peresmian proyek-proyek infrastruktur yang ada di Nusantara.

Dengan maraknya pembangunan infrastruktur ini, kinerja emiten-emiten konstruksi pelat merah (WIKA, WSKT, WSBP, ADHI) pun semakin moncer. Sektor konstruksi semakin menjanjikan keuntungan di tahun 2018 ini.

5. Peningkatan rating Indonesia

Dengan fakta-fakta di atas, lembaga-lembaga pemeringkat rating internasional pun berlomba-lomba menaikkan rating Indonesia. Mulai dari Moody’s. Fitch dan S&P menaikkan rating Indonesia di mata dunia. Hal ini tentunya menjadi stimulus bagi dana asing untuk kembali membanjiri Indonesia dan menggerakkan ekonomi. Dan tebak sebagian besar dana itu masuk lewat mana? Iya, pasar modal.

6. Pertumbuhan ekonomi global

Membaiknya pertumbuhan ekonomi global diharapkan menjadi stimulus bagi pertumbuhan dalam negeri. Optimisme ini muncul setelah International Monetary Fund (IMF) merevisi naiknya pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini dari 3.7% menjadi 3.9%.

Dengan menggeliatnya pertumbuhan ekonomi global, diharapkan menjadi tenaga tambahan untuk kinerja eskpor Indonesia.

Bagian terakhir dari artikel ini sengaja dikosongkan untuk anda para pembaca bigalpha.id.

Menurut anda, kenapa bursa efek Indonesia menjadi tempat yang potensial untuk berinvestasi? Mari kami dengar pendapat anda di kolom komentar.

Mari kita menjadi tuan rumah di pasar modal sendiri!