Personal Finance

Tak Hanya Kesehatan, Ini Tips Finansial di Era Normal Baru

[Waktu baca: 4 menit]

Pada Juni 2020, sejumlah pihak terutama pemerintah mulai mengkampanyekan situasi kebiasaan atau kenormalan baru (the new normal) setelah pembatasan berbagai aktivitas ekonomi dalam 2,5 bulan terakhir.

Sikap pemerintah itu diambil sebagai bagian dari upaya untuk memulihkan perekonomian yang lesu akibat pandemi virus corona yang muncul di Indonesia pada kuartal I/2020.

Dalam masa normal baru, aktivitas ekonomi diharapkan dapat dilakukan seperti biasa disertai dengan sejumlah perubahan kebiasaan dalam aspek kesehatan.

Salah satu perbedaaan signifikan dalam masa normal baru ini adalah penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, cairan pembersih tangan (hand sanitizer), menjaga jarak dengan orang lain dan sebagainya.

Selain aspek kesehatan, kita juga bisa mengubah berbagai kebiasaan dalam aspek finansial di masa kenormalan baru ini. Pandemi virus corona mengajarkan banyak hal mengenai dana darurat sampai investasi.

1. Pentingnya Dana Darurat

Pandemi corona mengingatkan kita mengenai pentingnya dana darurat. Seperti yang kita tahu, lebih dari 1 juta orang dirumahkan serta diberhentikan dari pekerjaannya akibat pandemi ini. Tidak sedikit pula usaha yang gulung tikar akibat situasi tersebut.

Ketika diberhentikan, dirumahkan atau usahanya tutup, pekerja akan kehilangan sumber pendapatan utamanya. Pada saat itu lah dana darurat akan berperan penting.

Secara umum, dana darurat dimaknai sebagai dana yang telah disiapkan sejak lama untuk mengantisipasi peristiwa yang tidak diharapkan seperti bencana alam, jatuh sakit, krisis ekonomi, kehilangan pekerjaan, kecelakaan dan sebagainya.

Dana darurat dapat berfungsi sebagai penyangga (financial buffer) untuk memenuhi kebutuhan sendiri tanpa harus mengandalkan pinjaman dari pihak lain. Dana darurat ibarat payung yang disiapkan untuk mengantisipasi hujan.

Dalam masa normal baru ini, kita bisa mulai menyisihkan (atau menambah porsi dari) gaji untuk dana darurat. Ingat, risiko kehilangan pekerjaan ternyata dapat terjadi sewaktu-waktu.

2. Sumber Penghasilan Lebih dari Satu

Pandemi mengingatkan bahwa kita dapat dirumahkan, diberhentikan dari pekerjaan, atau dipotong gajinya sewaktu-waktu. Situasi itu tentunya berdampak terhadap kondisi finansial kita.

Tidak ada salahnya kita mulai berpikir mengenai sumber penghasilan selain dari penghasilan utama seperti gaji dari tempat kerja. Penghasilan lain itu, seberapapun besarnya, akan memberikan tambahan bagi pemasukan kita.

Syukur-syukur, penghasilan lain itu nilainya sama besar atau bahkan lebih besar dari penghasilan utama. Dengan demikian, ketika kehilangan pekerjaan, utama kita masih memiliki "keran" lain yang bisa mengalirkan rezeki.

3. Strategi Investasi

Kemunculan pandemi berdampak signifikan terhadap pasar saham di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun lebih dari 30%. Banyak saham yang harganya turun lebih dari 50%.

Situasi ini mengingatkan kita bahwa investasi, terutama saham, memiliki risiko besar seperti terjadinya kejadian tidak terduga seperti pandemi ini. Mau tidak mau, investor perlu mempersiapkan diri menghadapi berbagai risiko yang tidak diharapkan seperti ini.

Oleh karena itu, kita perlu memikirkan ulang mengenai strategi investasi hingga porsi dana yang ditempatkan untuk investasi. Jangan sampai investasi justru menganggu likuiditas pribadi. Ingat, sebelum berinvestasi, kita sudah harus bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dana darurat, membayar utang dan sebagainya.

4. Penggunaan Dompet Digital

Salah satu cara untuk mencegah penularan virus corona adalah dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Kita tidak bisa memastikan bahwa orang yang berinteraksi dengan kita itu terbebas dari virus corona.

Oleh karena itu, sebisa mungkin transaksi dilakukan menggunakan dompet digital sehingga menghindari kontak fisik dengan orang lain. Dengan demikian, kita dapat mempersiapkan diri dengan mengisi saldo dompet digital untuk bertransaksi.

Tentu saja, transaksi menggunakan dompet digital belum dapat dilakukan di semua tempat. Mengingat tidak semua transaksi dapat dilakukan dengan menggunakan dompet digital atau uang elektronik, kita masih membutuhkan uang tunai untuk bertransaksi. 

Dalam kondisi seperti ini, kita bisa mengatur frekuensi mengambil uang tunai di ATM. Dengan kata lain, kita tidak perlu berkali-kali datang ke ATM untuk menarik uang.

 

 

Apabila Anda berencana untuk berinvestasi saham, Big Alpha telah menyusun sebuah e-book kuartalan yang berisi 15 saham pilihan. Klik di sini untuk melakukan pemesanan

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login