Melejit di Kala Pandemi, Ini Rahasia WIIM

Berkah Rio

Saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk. menjadi saham emiten rokok yang berkinerja paling baik sepanjang tahun lalu. Kala itu, saham emiten berkode WIIM ini berhasil melesat 221,43% year-to-date (YtD) dan ditutup di level Rp540 pada akhir tahun.

Sebagai pembanding, kala itu saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) turun 28,33% YtD menjadi Rp1.505, sedangkan PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) turun 22,64% YtD menjadi Rp41.000. Sementara itu, saham emiten rokok tembakau iris PT Indonesian Tobacco Tbk. (ITIC) bahkan anjlok 75% YtD menjadi Rp650.

Emiten rokok lain yang masih berkinerja positif hanya PT Bentoel Internasional Investama Tbk. (RMBA), tetapi itu pun hanya naik 3,03% YtD ke level Rp340.

Sepanjang tahun ini, kondisi juga tidak begitu banyak berbeda. Meskipun seluruh saham emiten rokok sedang memerah, saham WIIM hanya terkoreksi 8,52% YtD sepanjang tahun 2021 hingga hari ini, Jumat (17/9) ke level Rp494.

Sementara itu, saham HMSP turun 34,22% menjadi Rp990, saham GGRM turun 21,65% menjadi Rp32.100, ITIC turun 48,62% menjadi Rp334, dan RMBA turun 10% ke Rp306.

Lantas, apa penyebabnya sehingga saham WIIM lebih baik kinerjanya ketimbang emiten rokok lain? Apakah perseroan tidak terdampak sentimen negatif pelemahan daya beli akibat pandemi serta kenaikan cukai rokok?

 

Kinerja Kuat

Pendorong utama kinerja saham WIIM tahun lalu tampaknya adalah kinerja keuangannya yang berhasil tumbuh dengan pesat, di saat emiten-emiten rokok lainnya justru menderita penurunan kinerja.

Pendapatan WIIM sepanjang 2020 berhasil tumbuh 43,1% secara tahunan atau year-on-year (YoY) menjadi Rp1,99 triliun, sedangkan laba bersihnya melesat 531,6% YoY menjadi Rp172,3 triliun.

Seiring dengan itu, margin laba bersih (net profit margin/NPM) WIIM juga melesat dari 1,96% pada 2019 menjadi 8,64% pada 2020. Lonjakan kinerja yang signifikan ini melegitimasi investor untuk mengapresiasi sahamnya sehingga naik sangat tinggi.

Kondisi yang sama rupanya masih berlanjut pula pada awal tahun ini. Pada paruh pertama 2021, pendapatan WIIM naik 41,9% YoY, sedangkan laba bersih tumbuh 44,6% YoY. Pendapatan WIIM kini mencapai Rp1,2 triliun, sedangkan laba bersihnya Rp63 miliar.

Berikut ini kinerja keuangan WIIM dalam beberapa waktu terakhir:

Dari data tersebut terungkap bahwa alih-alih melemah, kondisi pandemi dan kenaikan tarif cukai yang tinggi pada tahun lalu dan tahun ini justru berdampak positif bagi bisnis WIIM.

Sebagai pembanding, sepanjang 2020 lalu, pendapatan dan laba HMSP turun masing-masing -12,85% YoY dan -37,46% YoY, sedangkan pada paruh pertama tahun ini pendapatannya naik 6,48% YoY, tetapi laba bersihnya turun lagi -15,54% YoY.

Demikian pula kinerja GGRM. Pendapatannya pada 2020 hanya naik 3,58% YoY, tetapi laba bersihnya anjlok -29,71% YoY. Pada paruh pertama tahun ini, kondisi yang sama masih berlanjut. Pendapatannya naik cukup tinggi, yakni 12,92% YoY, tetapi laba bersihnya kembali turun tajam -39,52% YoY.

Pelemahan kinerja keuangan pada dua emiten rokok terbesar di Tanah Air tersebut disebabkan karena melonjaknya beban cukai sejak tahun lalu hingga tahun ini. Tahun lalu, tarif cukai produk hasil tembakau rata-rata naik 23%, sedangkan tahun ini naik lagi rata-rata 12,5%.

Di satu sisi, kenaikan tarif cukai memaksa emiten rokok untuk menaikkan harga jual produk mereka, jika tidak ingin margin mereka tergerus. Di sisi lain, kondisi pandemi menekan kemampuan daya beli masyarakat, sehingga kenaikan harga rokok justru kian menyulitkan mereka untuk membelinya.

Alhasil, pada emiten rokok terpaksa menahan tingkat kenaikan harganya agar tidak terlalu berlebihan, dengan risiko margin menjadi tergerus. Sebagai contoh, NPM GGRM turun dari 9,8% pada 2019 menjadi 6,7% pada 2020, lalu anjlok menjadi 3,8% pada semester I/2021.

Demikian pula NPM HMSP turun dari 12,9% pada 2019 menjadi 9,3% pada 2020 dan 8,7% pada semester I/2021.

Secara umum, produksi rokok di Indonesia sepanjang 2020 yang terdiri atas sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM), dan sigaret kretek tangan (SKT) mencapai 298,4 miliar, turun 11% dibandingkan dengan produksi 2019.

Lantas, apa yang berbeda pada WIIM sehingga pendapatan dan labanya justru meningkat dan marginnya menebal?

 

Strategi WIIM

Jika mengacu pada Laporan Tahunan 2020 WIIM, perseroan menjelaskan bahwa perseroan telah memiliki inisiatif strategis untuk mengoptimalkan peluang di tengah kondisi cukai yang meningkat.

Kenaikan cukai pada 2020 lalu cukup tinggi, mencapai rata-rata 23%. Namun, kenaikan tarif tersebut tidak berlaku merata untuk semua jenis rokok.

Kenaikan tertinggi terjadi di kategori SPM, yakni antara 26,4% hingga 32,4%, lalu SKM antara 22,1% hingga 25,4%. Sementara itu, kategori SKT hanya naik antara 10% hingga 16,4%. Masing-masing kategori memiliki subkategori dengan tingkat kenaikan yang berbeda pula.

Dari sisi nilai cukai, cukai tertinggi pun dikenakan pada kategori SPM, yakni antara Rp470 hingga Rp790, sedangkan SKM antara Rp455 hingga Rp740. Sementara itu, cukai kelompok SKT pada 2020 hanya antara Rp110 hingga Rp425.

Pada tahun ini, kenaikan tarif cukai rata-rata mencapai 12,5%. Namun, kenaikan hanya diberikan pada kelompok SKM dan SPM, sedangkan cukai bagi kelompok SKT tidak dinaikan.

Perbedaan pengenaan cukai ini menyebabkan disparitas harga antara kelompok SPM dan SKM dengan kelompok SKT menjadi makin lebar. SKT menjadi jauh lebih murah ketimbang SPM dan SKM.

Di tengah kondisi pelemahan daya beli selama pandemi ini, hal tersebut menyebabkan terjadinya peralihan konsumsi rokok masyarakat dari segmen SPM dan SKM ke kelompok SKT yang lebih murah. Atau, berpindah dari subkategori (tier) I yang lebih tinggi ke subkategori IIA/IIB yang lebih rendah.

Nah, produk rokok WIIM sendiri adalah produk rokok dari tier dua, yakni dari kategori dan subkategori yang lebih rendah ketimbang HMSP dan GGRM. Dengan demikian, secara umum produk rokok WIIM relatif lebih murah dibandingkan merek-merek milik kedua emiten besar itu.

Sepanjang 2020 lalu, penjualan WIIM dari segmen SKT mencapai 512 juta batang, naik 17,4% dibanding 2019 yang sebesar 436 batang. Sementara itu, SKM mencapai 1,46 miliar batang, melonjak 78,5% YoY dari 818 juta pada 2019.

Mengingat bahwa secara total produksi rokok nasional tahun 2020 lalu turun 11% YoY, itu artinya peningkatan penjualan yang terjadi pada WIIM disebabkan karena adanya peralihan pelanggan dari produk rokok perusahaan lain.

WIIM mencetak kenaikan penjualan dari segmen SKT sebesar 21% YoY menjadi Rp459,2 miliar, sedangkan SKM melesat 63,4% menjadi Rp1,35 triliun.

Ketika tahun ini kenaikan cukai hanya terjadi di segmen SKM dan SPM, WIIM kembali diuntungkan sebab penjualan SKT mereka pun cukup besar. Kondisi ini kemungkinan bakal kembali mendorong berlanjutnya tren peralihan atau downshifting konsumen rokok pada produk yang lebih murah milik WIIM.

Kategori SKT tidak mengalami kenaikan cukai tahun ini karena dinilai memiliki tenaga kerja manusia yang besar. Di tengah tantangan ekonomi saat ini, penting untuk menjaga lapangan kerja bagi masyarakat, sehingga pemerintah tidak menaikkan cukai di segmen ini agar tidak tertekan.

WIIM sendiri memanfaatkan kondisi ini untuk memacu segmen SKT dengan melakukan uji pasar merek baru Wismilak Satya dan Wismilak Filter. Wismilak Satya sudah beredar di beberapa wilayah Pulau Jawa dan mendapatkan sambutan positif dari pasar.

Sementara itu, di segmen SKM perseroan berupaya mengembangkan produk Diplomat Evo. Tiga produk ini menjadi fokus pengembangan WIIM.

Jika cukai rokok kembali meningkat tahun depan, WIIM masih akan memiliki keunggulan kompetitif karena disparitas harga sudah terlanjur melebar jauh. Kenaikan cukai di segmen SKT pun kemungkinan akan tetap terbatas, sebab pemerintah berkepentingan untuk menjaga lapangan kerja di segmen ini.

Itu artinya, pertumbuhan bisnis WIIM yang tinggi sejak tahun lalu kemungkinan besar masih akan bisa berlanjut tahun depan. Seiring dengan itu, kenaikan harga sahamnya pun mendapatkan legitimasi yang cukup kuat.

 

Prospek Saham WIIM

Valuasi saham WIIM jika diukur dengan rasio harga berbanding laba per saham atau price to earning ratio (PER) hanya sekitar 8,19 kali berdasarkan data RTI. Ini level PER yang relatif sangat mudah.

Sementara itu, rasio harga berbanding nilai buku per saham atau price to book value (PBV) juga sangat rendah, yakni 0,83 kali. Itu artinya, harga saham WIIM saat ini sedang terdiskon jika dibandingkan dengan nilai aktual ekuitasnya.

Bandingkan misalnya dengan GGRM dan HMSP yang kini PER-nya masing-masing 13,28 kali dan 13,72 kali, dengan PBV masing-masing 1,01 kali dan 4,38 kali.

Hanya saja, kelemahan utama saham WIIM adalah saham ini kurang likuid. Jumlah transaksi hariannya tidak begitu tinggi. Artinya, kamu mungkin akan kesulitan untuk membeli atau menjualnya di pasar, sebab tidak setiap saat ada pembeli atau penjual yang berminat.

Sebagai contoh, pada sesi pertama perdagangan hari ini, Jumat (17 September 2021), saham WIIM hanya ditransaksikan sebanyak 315 kali, sedangkan GGRM 564 kali dan HMSP 2.804 kali. Ini jelas sangat jauh dibandingkan dengan saham-saham populer di bursa, seperti BBRI yang transaksinya mencapai 25.325 kali pada sesi pertama hari ini.

Saham WIIM juga mungkin terlihat kurang menarik jika mengingat bahwa industri rokok bukanlah industri yang cukup menjanjikan dalam jangka panjang, apalagi dengan keseriusan pemerintah dalam menekan jumlah perokok.

Industri ini bakal selalu ada dalam bayang-bayang kenaikan cukai rokok tiap tahun, sehingga harganya cenderung akan makin tidak terjangkau di masa mendatang. WIIM sendiri belum memiliki rencana diversifikasi bisnis yang cukup menjanjikan, termasuk untuk menjajaki peluang rokok elektrik.

Bisnis