Kinerja Positif TLKM dan Prospek Menjanjikan di Masa Depan

Date:

Kondisi pandemi tak membuat kinerja PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk goyah. Buktinya, hingga paruh pertama tahun ini, emiten dengan kode saham TLKM masih mampu mencetak pertumbuhan laba dua digit berkat permintaan kebutuhan layanan telekomunikasi, terutama internet.

Perusahaan ini baru saja menerbitkan laporan kinerja keuangannya untuk periode paruh pertama 2021 pada awal pekan ini. Hasilnya, pendapatan perseroan tumbuh 3,9% secara tahunan atau year-on-year (YoY) menjadi Rp69,48 triliun, sedangkan laba bersih meningkat 13,3% YoY menjadi Rp12,45 triliun.

Sebagai pembanding, sepanjang 2020 lalu, pendapatan dan laba TLKM tumbuh masing-masing 0,7% YoY dan 11,5% YoY. Artinya, pertumbuhan kinerja keuangan TLKM pada paruh pertama tahun ini sudah lebih baik ketimbang capaian sepanjang 2020 lalu.

Selain itu, kinerja pendapatan dan laba TLKM pada semester I/2021 ini pun sudah lebih baik ketimbang kondisi sebelum pandemi, yakni pada 2019. Untuk diketahui, pendapatan TLKM sempat turun pada semester I/2020 lalu dibanding semester I/2019.

Kala itu, pendapatan TLKM turun 3,6% YoY dari Rp69,34 triliun menjadi Rp66,86 triliun, sedangkan laba juga turun tipis 0,8% YoY dari Rp11,08 triliun menjadi Rp10,99 triliun. Namun, kinerja Telkom meningkat pada paruh kedua 2020 sehingga keadaan berbalik menjadi pertumbuhan positif pada akhir tahun.

Berikut ini perkembangan kinerja pendapatan dan laba TLKM beberapa tahun terakhir:

 

Telkom Indonesia mempunyai sejumlah sumber pendapatan. Tidak semua sumber pendapatan ini membukukan kinerja keuangan yang ciamik sepanjang paruh pertama tahun ini. Beberapa berhasil mencetak pertumbuhan yang sangat tinggi, tetapi yang lain justru anjlok.

Berikut ini sumber-sumber pendapatan TLKM dan kinerjanya pada paruh pertama dalam 3 tahun terakhir:

Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa pendapatan dari lini telepon terus berkurang dari tahun ke tahun, padahal dulunya ini adalah sumber pendapatan terbesar TLKM. Hal ini terbilang cukup wajar, lantaran pengguna telepon sudah mulai beralih ke layanan data internet.

Pendapatan dari data, internet, dan jasa teknologi informasi kini menjadi yang terbesar dan masih tumbuh secara konsisten. Hal ini tidak mengherankan, sebab perseroan memang telah berkomitmen untuk fokus pada jasa digital.

Saat ini, Telkom bahkan memasarkan jasa teleponnya sebagai bagian dari paket combo bersama dengan pembelian paket data. Dengan demikian, jasa telepon diperhitungkan sebagai bonus untuk tiap pembelian paket data dengan jumlah tertentu.

Jika melihat data di atas, lini pendapatan Telkom yang kini tampak sangat menjanjikan adalah layanan Indihome. Pada 2019 lalu, Indihome masih berada di urutan ketiga sebagai kontributor terbesar pendapatan TLKM, tetapi pada paruh pertama tahun ini sudah bergeser ke posisi kedua.

Tingkat pertumbuhannya pun sangat tinggi, bahkan jauh mengungguli pendapatan data, internet, dan jasa IT Telkom, baik dari sisi nilai maupun angka pertumbuhan. Secara nilai, pertumbuhan pendapatan Indihome mencapai Rp2,51 triliun pada paruh pertama tahun ini, sedangkan data, internet, dan jasa IT hanya Rp1,67 triliun.

Kontribusinya terhadap total pendapatan TLKM pun naik dari 15,5% pada semester I/2020 menjadi 18,5% pada paruh pertama tahun ini. Bukan tidak mungkin kontribusinya bakal terus meningkat di masa mendatang.

Adapun, Indihome adalah layanan komunikasi dan data internet rumah dalam satu paket dengan mengandalkan teknologi fiber optik. Layanan ini mencakup tiga jasa, yakni internet rumah (fixed broadband internet), telepon rumah (fixed phone), dan televisi interaktif (Indihome TV).

Layanan ini bersifat pascabayar atau ditagih pada akhir bulan setelah pemakaian oleh pelanggan. Kini, di tengah pembatasan mobilitas yang masih berlanjut, masyarakat semakin banyak melakukan aktivitasnya di rumah. Oleh karena itu, kebutuhan terhadap paket telekomunikasi rumah pun meningkat.

Artinya, selama kondisi pandemi dan pembatasan mobilitas masih berlanjut, TLKM masih berpotensi kembali mencatatkan peningkatan permintaan pada layanan Indihome ini. Perseroan juga sudah banyak melakukan kemitraan dengan konten provider global dan berbuah manis bagi pertumbuhan layanan ini.

Perseroan juga sukses mendorong pelanggan untuk upgrade ke paket layanan yang lebih mahal dengan menawarkan add-ons yang menarik dan bervariasi. Alhasil, rata-rata pendapatan per pelanggan atau average revenue per user (ARPU) pun meningkat. Ini menjadi motor pertumbuhan Indihome.

ARPU Telkom pada kuartal I/2021 lalu ada di level Rp266.000, sedangkan pada kuartal II/2021 meningkat menjadi Rp270.000. Selain dari ARPU, peningkatan pendapatan Indihome juga terjadi berkat kenaikan jumlah pelanggan sebanyak 285 ribu sepanjang semester I/2021 menjadi 8,3 juta orang.

Dengan kinerja keuangan yang positif hingga paruh pertama tahun ini, TLKM sekali lagi membuktikan klaim bahwa sektor telekomunikasi adalah salah satu sektor yang diuntungkan oleh pandemi. TLKM pun sudah berada di jalur yang tepat dengan mengikuti perkembangan zaman untuk menggenjot lini data atau internet.

 

Prospek Bisnis TLKM

Meskipun TLKM berhasil mengerek kinerja di lini internet, khususnya Indihome, kenaikan kinerja ini sejatinya belum cukup untuk mengimbangi tekanan di lini telepon yang kian menurun selama beberapa tahun terakhir.

Pada grafik sebelumnya terlihat bahwa puncak pencapaian laba bersih TLKM adalah pada 2017 lalu, yakni Rp22,15 triliun. Sejak itu, laba perseroan menurun dan belum kembali mencapai level yang sama.

Kinerja yang tinggi pada 2017 tersebut tidak terlepas dari faktor masih kuatnya kinerja pendapatan telepon perseroan. Saat itu, total pendapatan telepon TLKM mencapai Rp43,9 triliun. Namun, pada 2018 anjlok menjadi tinggal Rp36,3 triliun, lalu turun lagi menjadi Rp27,9 triliun pada 2019 dan Rp21,6 triliun pada 2020.

Dengan kata lain, pencapaian pendapatan telepon pada 2020 hanya separuh dari capaian pada 2017. Tidak mengherankan jika akhirnya meskipun pendapatan di lini data atau internet dan Indihome TLKM meningkat pesat, secara total laju pertumbuhan pendapatannya rendah.

Telkom saat ini merupakan pemimpin pasar di industri telekomunikasi Indonesia. Hal ini memungkinkan perseroan memiliki daya tawar terbaik di industri ini. Apalagi, sebagai BUMN yang bergerak di industri strategis, perseroan didukung penuh oleh negara.

Posisinya sangat sulit untuk digeser, sehingga sudah tentu prospek jangka panjangnya akan tetap menjanjikan. Ditambah pula, TLKM adalah emiten yang rutin membagikan dividen, sehingga dapat menjadi mesin uang bagi investor jangka panjang.

Mengingat pertumbuhan jumlah penduduk dan konsumsi internet yang bakal makin membesar di masa mendatang, potensi bisnis TLKM tentu sangat besar. Di sisi lain, tidak mudah bagi pemain baru lain untuk masuk dan merebut kue ini. Kue besar potensi ini adalah milik Telkom Indonesia.

Namun, kinerjanya pertumbuhannya yang tampak kurang menggairahkan menjadikan emiten ini selalu dalam sorotan dan dianggap kurang mampu mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Kritik tersebut pun disampaikan sendiri oleh pemerintah.

Menteri BUMN Erick Thohir bahkan meminta TLKM untuk tidak melulu bergantung pada Telkomsel dan perlu serius untuk membenahi anak usaha lainnya serta mencari peluang pertumbuhan bisnis baru.

TLKM pun dinilai kurang mampu memanfaatkan posisi strategisnya sebagai penyedia infrastruktur dalam bernegosiasi dengan para pemain aplikasi over the top (OTT) asing yang masuk ke pasar Indonesia. Padahal, seharusnya TLKM bisa “menuntut” kerja sama yang saling menguntungkan dengan mereka.

Oleh karena itu, tidak mengherankan juga jika akhirnya pasar kurang begitu mengapresiasi saham TLKM meskipun perseroan bergerak di industri yang diuntungkan oleh pandemi. Sepanjang tahun berjalan, saham TLKM hanya naik kurang dari 2% ke level Rp3.370.

Meskipun demikian, TLKM kini sudah mulai bergerak untuk mengembangkan potensinya. Setidaknya, perseroan telah mulai melakukan refocusing bisnis. Telkomsel, misalnya, akan fokus pada telekomunikasi digital dan telah melepas bisnis menaranya kepada Mitratel, anak usaha TLKM di bidang menara.

Dari transaksi yang terjadi tahun lalu itu, Telkomsel mengantongi Rp10,3 triliun. Dana itu bakal digunakan untuk investasi pengembangan ekosistem digital, mulai dari digital connectivity, digital service, hingga digital platform.

Sementara itu, dalam waktu dekat Mitratel juga bakal segera melantai di Bursa Efek Indonesia melalui aksi penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Perusahaan ini memiliki menara lebih dari 23.000 unit dengan tenancy ratio atau rasio penyewa 1,57 kali.

Sebagai pembanding, emiten menara yang sudah lebih dahulu melantai, yakni PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) hanya memiliki 21.424 menara, sedangkan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG) hanya 16.265 menara.

Pendapatan TOWR tahun 2020 lalu mencapai Rp7,44 triliun, sedangkan TBIG Rp5,33 triliun. Sementara itu, pendapatan Mitratel mencapai Rp13,5. Artinya, total pendapatan bersama antara TOWR dan TBIG bahkan belum mampu menyaingi Mitratel. Kontribusi Mitratel terhadap TLKM mencapai sekitar 10% dari total pendapatan.

Jika IPO Mitratel yang kabarnya akan dimulai pada kuartal III/2021 ini berjalan lancar, perseroan tentu bakal mendapatkan dana segar yang siap dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis yang lebih cepat lagi. Seiring dengan itu, peluang pertumbuhan TLKM menjadi lebih besar pula.

Selain itu, sebelumnya juga sudah ramai kabar TLKM berinvestasi di Gojek. Ini menunjukkan pula keseriusan perseroan untuk masuk ke bisnis digital dan ekosistem super app. Bermain di ekosistem yang lebih besar adalah strategi utama bisnis digital saat ini. 

Strategi ini justru lebih jitu ketimbang TLKM membangun super app sendiri dan berusaha bersaing untuk membangun ekosistem digital baru dari awal. Ongkosnya justru lebih mahal. Ditambah lagi dengan merger Gojek dan Tokopedia menjadi GoTo, ekosistem digital TLKM jelas makin besar.

Jika IPO GoTo sukses, TLKM juga bakal ketiban untung. Tinggal selanjutnya perseroan menentukan strategi bagaimana memanfaatkan semua potensi yang ada secara kreatif agar dapat menciptakan sumber pertumbuhan bisnis baru di masa mendatang.

Jangan sampai potensi yang besar tersebut hanya berakhir sia-sia tanpa ada penciptaan nilai tambah baru. Bukan tidak mungkin bahkan TLKM memperluas pengaruh bisnisnya hingga ke luar negeri. Jika demikian, kita dapat berharap kinerja sahamnya pun akan kian legit di masa mendatang.