Ekonomi Indonesia di Ujung Jurang

Date:

Kita patut khawatir, sebab pandemi tak kunjung usai. Kabar duka selalu datang setiap pagi — entah saudara, kerabat atau teman silih berganti pulang ke pangkuan. Keputusasaan dan angan-angan untuk bangkit terasa sulit digapai. Pandemi Covid-19 di Indonesia rasanya masih panjang. Pada hari ini, Rabu (7/7/2021) hingga pukul 12.00 WIB kasus baru Covid-19 bertambah 34.379 pasien dan kasus kematian menembus angka tertinggi dalam sehari, 1.040 orang harus berpulang.

Bagi sektor ekonomi, pandemi jelas memberi pukulan telak. Hendak merencanakan program pemulihan ekonomi nasional, pandemi justru membuat semuanya berantakan. Kita tentu berharap ekonomi tidak kembali resesi seperti tahun lalu. Semua berharap pandemi lekas berlalu. Namun, pemenuhan harapan tersebut tampaknya harus mundur atau setidaknya belum akan terjadi dalam waktu dekat. Kita mungkin bisa meramalkannya. Akan tetapi, jika pandemi belum juga selesai. Nampaknya sulit untuk berahap bahwa keadaan akan membaik. 

Jika berkaca pada pengalaman puncak kasus baru pada akhir Januari 2021 lalu yang mencapai 14.518 kasus per hari, butuh waktu 3 bulan hingga peningkatan kasus baru berkurang 50% hingga stabil di kisaran 6.000 kasus per hari.

Kini, kasus baru sudah menembus lebih dari 30.000 kasus per hari. Jika laju percepatan penurunannya sama seperti puncak pertama pada Januari 2021 lalu, artinya baru pada Oktober 2021 mendatang kasus baru akan turun di kisaran 15.000 per hari. Butuh lebih lama lagi untuk menekannya di bawah 10.000. Sementara itu, hingga kini kita belum tahu, apakah peningkatan kasus baru harian sudah mencapai puncaknya ataukah belum.

PPKM Darurat memang diharapkan dapat mempercepat penurunan penyebaran virus. Ditambah lagi dengan proses vaksinasi yang telah berjalan, jika ingin cepat pulih, mau tak mau, penurunan peningkatan kasus baru hingga di bawah 10.000 per hari bisa harus cepat terealisasi. Di India, dari puncaknya pada awal Mei 2021 yang mencapai di atas 400.000 kasus per hari, hanya butuh waktu sebulan bagi penurunan kasus baru hingga di bawah 100.000 per hari. Kini, kasus baru di India berkisar pada 30.000 kasus per hari. Artinya, dengan penanganan yang tepat, ledakan kasus baru dapat dikendalikan dalam waktu yang relatif cepat. Tentu, itu yang diharapkan bakal terjadi juga di Indonesia, sehingga PPKM Darurat tidak perlu diperpanjang berjilid-jilid.

Indikasi Pemulihan Sudah Terlihat

Tanda-tanda pemulihan ekonomi Indonesia sebenarnya sudah terlihat sepanjang semester pertama tahun ini. Namun, lonjakan kasus baru Covid-19 saat ini menjadikan semua tanda-tanda positif itu dipertanyakan keberlanjutannya. Pada kuartal I/2021, pertumbuhan ekonomi masih negatif, tetapi sudah jauh lebih baik dibanding kuartal-kuartal sebelumnya, yakni hanya turun 0,74% yoy. Ingat, pada kuartal I tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif 2,97% yoy.

Dari sisi demand, perbaikan terutama terjadi dari sisi ekspor dan impor. Ekspor tumbuh 6,74% yoy, sedangkan impor tumbuh 5,27% yoy. Selain itu, konsumsi pemerintah juga tumbuh positif 2,96% yoy. Kontributor utama ekonomi Indonesia dari sisi demand adalah konsumsi rumah tangga (RT) dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang mencakup bangunan properti seperti rumah dan properti komersial, infrastruktur, mesin, dan peralatan. Konsumsi RT dan PMTB ini berkontribusi hingga 88,91% terhadap PDB dari sisi demand. Pada kuartal I/2021, konsumsi RT masih turun 2,23% yoy, sedangkan PMTB turun 0,23% yoy.

Dari sisi supply, kontributor terbesar PDB masih berkinerja negatif, yakni seperti sektor industri pengolahan (-1,38% yoy), transportasi dan pergudangan (-13,12% yoy), perdagangan besar dan eceran (-1,23% yoy), dan penyediaan akomodasi dan mamin (-7,26% yoy). Sektor-sektor yang tumbuh positif antara lain informasi dan komunikasi (8,72% yoy, jasa kesehatan dan kegiatan sosial (3,64% yoy), pertanian (2,95% yoy), dan real estate (0,94% yoy).

Tanda-tanda pemulihan ekonomi masih berlanjut setelahnya. PMI Markit Indonesia masih terjaga di level ekspansif di atas 50, meskipun per Juni 2021 turun ke level 53,5 dari 55,3 pada bulan sebelumnya. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga di teritori optimistik di level 104,4 per Mei 2021. Per Mei 2021, penjualan kendaraan bermotor melesat masing-masing 1.065,6% yoy untuk roda dua dan 275,7% yoy untuk mobil. Konsumsi listrik naik 16,6% yoy, penjualan ritel naik 12,9% yoy, sedangkan konsumsi semen naik 14,9% yoy.

Selain itu, ketahanan sektor eksternal Indonesia pun masih terjaga dengan baik. Neraca pembayaran tercatat surplus US$4,1 miliar per kuartal I/2021, sedangkan neraca perdagangan per Mei 2021 juga surplus US$2,37 miliar. Arus modal asing masuk pun masih tetap tinggi. Pada Juni 2021, arus masuk di pasar saham mencapai US$342,4 juta, sedangkan di pasar obligasi US$1,23 miliar.

Di pasar keuangan, nilai tukar rupiah masih terjaga di bawah level Rp15.000 per dolar AS, sedangkan IHSG masih stabil di kisaran 6.000-an. Pertumbuhan kredit perbankan juga membaik meski masih negatif di level -1,23% yoy, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) masih melesat 10,73% yoy. NPL di level 3,35%. Sementara itu, simpanan kelas menengah dengan nilai di atas Rp5 miliar per rekening mendominasi sekitar 49,2% dari total simpanan. Nilainya pertumbuhannya melambat dari 16,38% yoy pada September 2020 menjadi 14,68% yoy per April 2021. Ini menunjukkan kelas menengah mulai melakukan konsumsi.

Sejauh ini, lembaga keuangan global pun masih mengestimasikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Indonesia. Per Juni, Bloomberg Consensus memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2021 mencapai 7,3%, direvisi dari sebelumnya 7,5% pada bulan Mei 2021. Secara umum, beberapa lembaga keuangan global memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2021 akan berkisar antara 4,3% hingga 4,9% dan akan meningkat ke kisaran 5,0% hingga 5,8% pada 2022 nanti.

Laju Pemulihan Bakal Terhambat

Semua data tersebut adalah capaian perekonomian Indonesia sebelum kasus pandemi memuncak pada beberapa pekan terakhir. Adanya peningkatan ini tentu bakal berdampak pada pencapaian positif yang telah terjadi selama ini. Adanya PPKM Darurat jelas membatasi aktivitas ekonomi, baik produksi dunia usaha dan konsumsi masyarakat, sehingga tentu estimasi pertumbuhan ekonomi pada semester II/2021 kemungkinan akan terkoreksi.

Pengeluaran pemerintah diharapkan menjadi pendorong utama melalui penguatan berbagai program perlindungan sosial guna mendorong daya beli dan penguatan program kesehatan. Namun, tentu ini tidak cukup untuk mengimbangi tekanan yang terjadi. Pemerintah pun telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal III/2021 menjadi sekitar 3,7% - 4%, lebih rendah dari sebelumnya 6,5%. Sementara itu, untuk setahun penuh 2021 diperkirakan hanya tumbuh 3,7% - 4,5%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 4,5% - 5,3%.

Meskipun demikian, respons pasar terhadap kondisi terkini Indonesia ini tampaknya tidak begitu buruk. IHSG tidak anjlok dalam seperti tahun lalu ketika kasus Covid-19 pertama kali terkonfirmasi di Indonesia. Di pasar surat utang, kondisinya pun relatif stabil. Berdasarkan data World Government Bonds, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun memang cenderung meningkat sejak pertengahan Juni 2021 dari level 6,44% hingga kini di level 6,65% per 6 Juli 2021. Namun, ini tidak sampai menyentuh level tertinggi di 6,89% seperti pada pertengahan Maret 2021 lalu.

Selain itu, pada lelang SUN pekan ini, Selasa (6 Juli 2021), penawaran yang masuk bahkan mencapai rekor baru tahun ini, yakni Rp83,4 triliun. Nilainya meningkat hampir 20% dibanding lelang dua pekan sebelumnya yang senilai Rp69,95 triliun. Pemerintah menyerap Rp34 triliun dari lelang ini. Hal ini menunjukkan masih kuatnya kepercayaan investor terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia. Kepercayaan terhadap SUN mencerminkan kepercayaan terhadap pemerintah Indonesia. Artinya, di tengah peningkatan kondisi krisis saat ini, investor sangat mempercayai langkah kebijakan pemerintah.

Menguji Efektivitas Langkah Pemerintah

Pemerintah telah mengumumkan berlakunya PPKM Darurat sembari mengupayakan percepatan vaksinasi. Hingga 4 Juli 2021 pkl. 18.00 WIB, penerima vaksin dosis I sudah mencapai 32,12 juta, sedangkan dosis II 13,98 juta. Dengan demikian, total penerima vaksin sudah mencapai 46,1 juta dosis. Bulan ini, vaksinasi akan terus diakselerasi menjadi 1,5 juta dosis per hari sehingga diharapkan 181,5 juta penduduk telah selesai divaksin pada akhir tahun ini.

Selain itu, pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga telah menyampaikan sinergi kebijakan ekonomi makro. Kementerian Keuangan memberikan beragam insentif pajak dan kepabeaan sebagai dukungan arus kas. Sementara itu, Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah, suku bunga rendah, dan menjadi pembeli siaga lelang surat berharga negara (SBN).

OJK melanjutkan program relaksasi restrukturisasi kredit, pelonggaran batas maksimum penyaluran kredit (BMPK) sektor kesehatan, dan pelonggaran aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) properti dan kendaraan. Selanjutnya, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menurunkan tingkat bunga penjaminan, relaksasi batas waktu pembayaran premi penjaminan, dan relaksasi batas waktu pelaporan data single customer review.

Sebagai pelengkap atas langkah-langkah yang sudah lama berjalan tersebut, pemerintah juga memberikan dukungan APBN sebagai tindak lanjut PPKM Darurat melalui realokasi anggaran. Berikut ini sejumlah komponen anggaran yang direalokasi dan bentuk-bentuk dukungan APBN bagi PPKM Darurat:

Sumber: Kementerian Keuangan

Dengan tambahan anggaran pada sejumlah pos bantuan sosial, percepatan penyaluran dana bantuan, serta perpanjangan durasi program bantuan sosial, diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat selama PPKM Darurat. Melalui semua langkah ini, pemerintah menargetkan peningkatan kasus baru harian dapat segera kembali ke bawah 10.000 per hari, sembari menahan kemungkinan ekonomi berbalik ke kondisi resesi.

Di atas kertas, semua program ini tentu bakal sangat bermanfaat bagi masyarakat. Namun, implementasinya selama ini selalu menjadi tantangan utama. Jika eksekusinya berjalan lambat atau terjerat korupsi, mimpi pemulihan ekonomi Indonesia mungkin akan makin terhambat.

Selain itu, hingga kini masih ada tuntutan sejumlah insentif lain dari perbagai pihak, antara lain dari kalangan buruh untuk kelanjutan program subsidi gaji. Beberapa sektor yang terdampak berat oleh PPKM Darurat ini, seperti sektor perhotel dan mamin pun berharap ada insentif khusus untuk mereka. Tentu tantangannya adalah untuk mencari titik keseimbangan antara optimalisasi bantuan sosial dengan risiko defisit anggaran yang melebar. Adanya insentif pajak selama ini sudah tentu menekan pendapatan negara, sedangkan belanja bantuan sosial yang meningkat menambah besar pengeluaran.

Dalam PPKM Darurat, pemerintah masih memperbolehkan operasional konstruksi dengan protokol kesehatan ketat. Bangunan merupakan komponen terbesar dalam pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB), yakni lebih dari 70%. Dengan begitu, diharapkan ekonomi tetap bergulir. Selain itu, pulihnya kinerja ekonomi sejumlah negara tujuan ekspor Indonesia, seperti China, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa diharapkan dapat mendorong laju ekspor Indonesia. Hal ini diharapkan dapat menjadi penyeimbang bagi tekanan ekonomi Indonesia.

Kita berharap skenario terbaiklah yang bakal terjadi di bulan-bulan mendatang. Namun, segala kemungkinan buruk tetap saja terbuka untuk terjadi.

Seperti larik dalam puisi Chairil Anwar, menyatakan “nasib adalah kesunyian masing-masing.” Pemulihan ekonomi akan bergantung pada cara kita menangani pandemi. Ini bukan soal adaptasi, kita butuh lebih dari sekedar komitmen. Semoga pandemi lekas berlalu dan nasib baik selalu menaungi Indonesia.

Ekonomi