Ekonomi Makro

Dampak Corona, 3 Startup Ini Gulung Tikar

[Waktu baca: 3 menit]

Virus corona menghantam banyak organisasi bisnis, tidak terkecuali berbagai perusahaan rintisan (startup) yang masih berusia muda.

Sejumlah perusahaan tidak lagi hanya merumahkan atau memberhentikan karyawannya melainkan memberhentikan kegiatan usaha perusahaannya.

Tidak sedikit dari berbagai perusahaan itu mendapatkan modal dari para investor internasional. Namun, situasi ekonomi terkini benar-benar mengubah segalanya.

Berikut ini berbagai perusahaan rintisan yang telah mengumumkan penutupan usahanya setelah virus corona mencuat di seluruh dunia, termasuk Indonesia:

1. AiryRooms

AiryRooms adalah perusahaan teknologi yang mengelola kamar-kamar berkualitas dengan harga terjangkau. Dengan karyawan lebih dari 300 orang, AiryRooms  merupakan Accomodation Network Orchestrator (ANO) yang bermitra dengan lebih dari 1.000 hotel di lebih dari 90 kota di Indonesia. 

Dalam pengumuman di situs resminya, Airy akan berhenti beroperasi setelah tanggal 31 Mei 2020. Manajemen Airy meminta para pelanggan yang telah memesan kamar atau penerbangan di atas tanggal tersebut untuk menghubungi layanan pelanggan untuk pengembalian dana.

Seperti diketahui, perhotelan adalah salah satu industri yang terkena pukulan paling keras oleh kemunculan virus corona karena masyarakat mengurangi akvititas berpergian ke luar kota dan menginap di hotel.

Berbagai hotel melaporkan tingkat hunian mengalami penurunan drastis hingga di atas 50%. Sektor pariwisata yang menopang industri perhotelan juga mengalami tekanan. Menurut data BPS, jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia turun 30%.

2. Stoqo

Stoqo adalah startup yang menjual sembako secara online untuk bisnis kuliner melalui aplikasi di smartphone. Berbagai produk yang dijual Stoqo antara lain beras, telur, minyak goreng, gula, tepung, susu, termasuk daging segar hingga sayuran segar.

Menurut situs Crunchbase, investor Stoqo antara lain Monk's Hill Ventures, Accel dan Alpha JWC Ventures. Stoqo adalah startup yang menjalankan usaha dengan konsep B2B (business to business).

Pengumuman pemberhentian operasi itu diumumkan Stoqo di website perusahaan. "Dengan berat hati, kami mengumumkan bahwa STOQO telah berhenti beroperasi," tulis manajemen perusahaan.

Manajemen menyatakan situasi yang dipicu oleh pandemi COVID-19 telah menyebabkan penurunan pendapatan secara drastis bagi perusahaan. Stoqo menyatakan pihaknya melayani dan memberdayakan usaha kecil dan menengah di Indonesia.

"Kami masih percaya pada pentingnya pemberdayaan UKM di Indonesia dan kami berharap akan ada kesempatan untuk kembali mendukung misi ini di lain hari," tulis manajemen perusahaan.

Seperti diketahui, UKM adalah skala usaha yang sangat terdampak dari virus corona. Tidak seperti 1998, situasi karena corona pada 2020 menghantam bisnis UKM karena masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah secara drastis.

3. Eatsy Indonesia

Perusahaan rintisan yang bergerak di bidang layanan pemesanan makanan, Eatsy, juga menghentikan kegiatan usaha di Indonesia mulai 1 April 2020. 

Dikutip dari Tech in Asia, pemberitahuan pemberhentian operasional perusahaan rintisan asal Singapura di Indonesia ini disampaikan di aplikasi mereka.

Menurut Tech in Asia, tidak ada batas waktu sampai kapan penghentian tersebut berlangsung. Namun, pandemi corona menjadi alasan bagi perusahaan itu untuk tutup.

Berdasarkan sejumlah pemberitaan, Eatsy baru beroperasi di Indonesia sejak November 2019. Manajemen Eatsy berharap pengalaman peningkatan penjualan mitra Eatsy di Singapura juga dapat terjadi di Indonesia. Namun, pandemi mengubah cerita tersebut.

 

Apabila Anda berencana untuk berinvestasi saham, Big Alpha telah menyusun sebuah e-book kuartalan yang berisi 15 saham pilihan. Klik di sini untuk melakukan pemesanan.

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login