Ekonomi

Naik Turun Hidup dari Papan Luncur

[Waktu baca: 7 menit]

Naufal membalas pesan saya dengan antusias saat saya mengajaknya untuk berbincang mengenai apa yang disukainya: skateboard.

Iya, sudah sejak lama saya mengamati kesehariannya di sosial media yang kerap bermain dengan papan luncur. Lantas, ada beberapa pertanyaan yang bercokol di kepala saya. Salah satu yang paling besar ialah apakah yang ia lakukan ini sekadar hobi semata, atau justru skateboard lah yang membiayainya untuk hidup layak dan berbahagia di ibu kota?


Foto: Rizqona Faqihul Ilma

***

Pembahasan mengenai kancah skateboard di Tanah Air memang jarang sekali muncul ke permukaan dan menarik perhatian khalayak. Belum lagi dengan berbagai stigma dan stereotip yang dilekatkan pada mereka; perusak fasilitas umum, berandalan, pelanggar hukum, sampai pada kehidupan dengan gelimang alkohol dan obat-obatan terlarang, membuat jarang sekali ada diskursus yang menyedot atensi banyak orang tentang kegiatan ekstrem ini. Yang padahal, hal-hal semacam itu tidak saya temui, setidaknya pada rekanan saya yang memainkan olahraga ini.

Namun sekalinya muncul, lagi-lagi persoalan tentang pelbagai macam hal yang seakan mendukung kesan negatif yang begitu erat di kening para skater yang jadi bahasan. Ialah sekelompok pemain skateboard yang berselisih paham dengan beberapa orang Satpol PP DKI Jakarta awal Maret lalu saat sedang bermain di trotoar Jalan M.H. Thamrin.

Meski berakhir dengan kesepakatan baik antara Satria Vijie –skater profesional– dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, potongan video ketegangan tadi yang mengundang komentar pro-kontra membawa saya untuk menghubungi Naufal, kawan lama yang sekarang sedang berusaha meraih inginnya untuk hidup seutuhnya dari papan luncur.

***

Berdasarkan data yang dikumpulkan The Boardr –perusahaan bidang skateboard dan BMX yang membuat banyak kegiatan dan kompetisi skateboard sekaligus mengumpulkan data pemain skateboard sejagat– sampai saat ini terdapat hampir 26.000 skater profesional di seluruh dunia. Dengan pendapatan tertinggi dari hadiah lomba bisa mencapai sekitar US$ 1 juta per orang, seperti yang didapatkan Nyjah Huston, salah satu skater paling andal berkebangsaan AS. Tentu itu belum termasuk pendapatan dari sponsor yang jelas melimpah ruah. 

Suguhan realita di gelanggang papan luncur ini jelas bikin para pemain pemula ataupun amatir tergiur. Melihat kesejahteraan para skater yang semakin mumpuni dari masa ke masa, rasanya mencari penghidupan layak dari skena skateboard jadi keinginan yang patut buat diperjuangkan.

Jika kita sedikit mundur pada awal tahun 1990-an, kehidupan para skater ternama bahkan masih jauh dari kata glamor. Kepemilikan mobil Honda Civic yang ekonomis dan sederhana jadi gambaran paling pas untuk mendeskripsikan kehidupan para skater pro. Pun sepuluh tahun kemudian, di awal tahun 2000, skater kondang macam Cairo Foster juga masih harus patungan untuk sekadar menyewa tempat tinggal di pinggiran Kota San Fransisco. Sebuah kondisi yang terlampau berbeda dibanding apa yang dirasakan masa kini.

Perkembangan ini bisa dinilai sangat positif, terlebih jika kita mengingat permainan ini mulanya lahir dari keisengan semata. Saat beberapa pemain selancar air asal California, Amerika Serikat, kebingungan lantaran kegemaran mereka harus bergantung pada pasang surutnya air laut yang memaksa mereka menciptakan cikal bakal skateboard yang lebih mirip otoped, sidewalk surfing.

Singkat cerita, wujud skateboard terus berevolusi hingga menemukan bentuk terbaiknya pada circa 1990 setelah berulang kali sepi peminat karena dirasa terlalu mudah dimainkan dan di saat bersamaan banyak menimpa celaka para penggunanya.

“Zaman dulu papannya masih papan ikan. Eranya itu sampai tahun 1990. Setelah itu akhirnya konstruksi disempurnakan lagi dengan penambahan tail (lengkung depan pada papan),” kata Toni Sruntul, salah satu pentolan skater di Indonesia kepada Majalah Historia Online.

Perlahan namun pasti, permainan skateboard mulai menyebar ke berbagai negara. Indonesia kebagian jatahnya pada 1976 saat belasan ekspatriat yang tinggal di Jakarta mulai memainkan skateboard di jalanan ibu kota. Mereka yang dikenal dengan sebutan “anak Menteng”, bersamaan dengan para mahasiswa yang bersekolah di ‘tanah suci’ para skater, Amerika Serikat, turut memperkenalkan olahraga ini di bumi nusantara. Komunitas skateboard di kawasan selain Jakarta juga mulai bermunculan.

“Setelah itu bermunculan komunitas-komunitas skateboard: Geng Polonia, Geng Monas, Geng Blok M Melawai, dan Geng Detroid Bandung,” tambah Toni.

Sejak itu, geliat aktivitas skateboard di Indonesia perlahan tumbuh subur. Kendati belum sepenuhnya mendapat perhatian yang cukup dan angin segar, setidaknya hingga Asian Games 2018, para skater maupun para pegiatnya tetap mampu unjuk gigi di panggung internasional. Baik melalui skater belia kebanggaan bangsa, Sanggoe Dharma Tanjung yang sudah memboyong berbagai prestasi internasional sejak 2014, hingga merek fesyen asal Bandung, Ouval Research yang tumbuh dari komunitas lokal skateboard pada 1997 dan wanginya semerbak hingga mancanegara.

***

Foto: Rizqona Faqihul Ilma

Berlangsungnya Asian Games 2018 lalu di Jakarta dan Palembang tidak dapat diingkari membawa berkah tersendiri untuk para skater dalam negeri. Sebab, saat itu, skateboarding resmi dijadikan sebagai salah satu cabang dalam ajang olimpiade rutin empat tahunan tingkat Asia itu. Alhasil, dunia skateboarding mendapatkan sorotan dari jutaan pasang mata sekaligus peluang-peluang baru.

“Iya, [Asian Games 2018] berdampak banget,” sebut Naufal saat beristirahat di tengah bermain skateboard. “Makin banyak, ya [orang baru yang mulai main skateboard]. Terus orang-orang makin pengen jadi pemain pro, karena kemarin kan pemerintah ngasih bonus 1 M ya buat yang menang [di Asian Games 2018]. Itu jadi semacam jaminan dan motivasi tersendiri, sih,” tambah Naufal.

Namun, ia sendiri merasa jalannya untuk menjadi atlet profesional sudah teramat sulit digapai. Selain usia yang menurutnya sudah terlampau tua untuk menapaki jalan sebagai seorang atlet, kesibukannya sebagai seorang graphic designer di sebuah perusahaan e-commerce juga menjadi hambatan lain.

“Sebenarnya bisa, ya [menjadi atlet profesional], kalo nganggur. Tiap hari main, tuh. Tapi ya di usia segini udah susah mau beneran nganggur karena ada tuntutan hidup. Ditambah umur gua juga udah telat,” kata Naufal sambil menyantap kudapan dari restoran cepat saji di bilangan Jatiwarna, Bekasi.

Cerita serupa juga disampaikan Cahyo, pemain skateboard lain yang saya hubungi. Sama seperti Naufal, Cahyo juga enggan untuk menekuni karier sebagai atlet papan luncur profesional. Namun, alih-alih alasan usia seperti yang diucap Naufal, Cahyo merasa jalan hidupnya di panggung skateboard bukan sebagai atlet.

“Alirannya gak ke situ sih,” kata Cahyo diselingi tawa.

Dalam skena skateboard, nasib Cahyo bisa dibilang memang lebih mujur dibandingkan Naufal. Di tahun kedelapannya menggeluti skateboard saban hari, Cahyo sudah mendapatkan sponsor maupun endorsement dari beberapa brand perlengkapan skate maupun apparel skate.

“Ada papan [skate], [yang dikirim dari sponsor] sekitar sebulan atau 40 hari sekali, lah dapet satu papan. Kalo trucks-nya (komponen dalam papan skateboard) dapet juga, entah dua bulan, entah sebulan setengah sekali gitu kalo trucks,” papar Cahyo.

Tapi tentu saja. Kehidupan masing-masing orang sejatinya memang tidak untuk dibandingkan satu dengan yang lain. Toh, semua punya jalan dan kisah jatuh-bangun masing-masing dalam menggeluti papan luncur. Mulai dari yang harus berhadapan dengan pihak berwajib, sampai mengalami patah tulang di bagian tubuh.

*** 

Perkenalan kali pertama Naufal dengan papan luncur terjadi kurang lebih 10 tahun lalu, saat masih berseragam putih biru. Saat itu, ia yang bersekolah di asrama mendapati rekannya membawa papan skateboard. Setelah sekali dua kali ia mencoba, ia ketagihan dan terus berlatih sampai sekarang.

Keahlian yang ia raih tidak sekonyong-konyong hadir tanpa halang rintang. Harga papan luncur yang tidak murah dan juga orang tua yang khawatir mengingat skateboard bukanlah olahraga yang minim risiko, harus ia taklukkan sebisa mungkin. Belum lagi benturan dan cedera yang ia terima; keseleo dan masalah di pergelangan kaki saat mempelajari teknik ollie –teknik dasar skateboard– sampai harus mengalami patah tulang jempol kaki akhir 2020 lalu.

“Gara-gara gua jatuh itu bikin gua jadi mikir mulu. Dulu [main trik skate] lompat dari tangga itu biasa aja. Cuma semenjak jatuh kaya udah kesugesti duluan gitu dan mikir. Kalau jempol kaki udah terasa sakit, udah deh gak jadi [main],” cerita Naufal yang tentu saja membuat saya bergidik.

Setali tiga uang, Cahyo yang menjejakkan kaki di atas papan luncur delapan tahun lalu juga merasakan cedera berulang kali. Oktober lalu tangan kanannya juga harus mengalami fraktur. Ankle-nya pun sedang bengkak cukup besar saat saya berbincang. Mau tidak mau, ia harus ditinggal kawan-kawannya menuju skate park lantaran kakinya yang belum bisa diajak bekerja sama.

***

Cahyo menjawab mantap saat ditanya optimismenya untuk hidup dari skateboard sepenuhnya. Meski belum bisa memenuhi hajat hidupnya sehari-hari, ia yang berprofesi sebagai guru bimbel mata pelajaran fisika yakin kalau semesta mendukungnya untuk memperoleh penghidupan dari skate.

“Ada yang gajinya sudah dua digit, dia keluar [dari kantor]. Akhirnya dia fokus dan karena udah rejeki juga kan, dia keluar dari kantor, berarti rejekinya pindah ke skatenya itu. Dan akhirnya gua berguru sama dia, ‘gimana sih biar bisa hidup dari skate?’ Ya gua juga mikirnya ke situ juga si,” papar Cahyo dengan percaya diri.

Dengan sponsor yang ia dapatkan sekarang, juga brand perlengkapan skateboard Croud Hardware miliknya, ia percaya “Kalau udah rejeki gak ke mana. Tinggal lu mau ngambilnya dari mana.”

Naufal juga menjawab tanpa ragu saat saya ajukan pertanyaan serupa; tentang keyakinannya bisa hidup seutuhnya dari skateboard. Ia yang juga tengah mengembangkan brand fesyen skateboard, Differ Jakarta, masih menaruh harap pada dunia papan luncur, meski bukan sebagai atlet.

“Kalo gua punya anak, pasti gua ajak main skateboard dari kecil. Sampai dapat sponsor lah setidaknya,” terang Naufal dengan penuh sesal atas keterlambatannya mengenal skateboard.

Meski mereka berdua menginsafi pasar skateboard yang masih sangat tersegmentasi, mereka tampak yakin dan bahagia dengan naik-turunnya mengais penghidupan dari skateboard. Seperti naik-turunnya mereka saat bersenang-senang di atas papan luncur.
 

Tags in: Hobi

Related articles

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login