Daripada Memiles, Ini Investasi yang Lebih Aman

PUBLIK kembali digegerkan dengan sejumlah kasus investasi bodong pada awal Januari 2020. Salah satu kasus itu adalah Memiles.

Logo Memiles. Foto dari laman Memiles di Facebook.

Mengutip CNN Indonesia, Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tongam Lumban Tobing menyatakan Memiles adalah investasi bodong berkedok aplikasi penyedia jasa iklan. 

Masyarakat ditawarkan untuk top up dana investasi dengan iming-iming keuntungan selangit. masyarakat ditawarkan untuk top up dana investasi dari Rp50 ribu hingga Rp200 juta. Dari situ, mereka dijanjikan bonus, seperti ponsel, motor, hingga mobil.

OJK dan badan pemerintah lainnya menetapkan Memiles sebagai investasi bodong. Polisi menyatakan sejumlah figur publik seperti artis Ello, Eka Deli, Adjie Notonegoro hingga cucu Presiden Soeharto, Ari Sigit, tersangkut kasus ini. 

Memiles bukan kasus investasi bodong pertama di negeri ini. Hampir setiap tahun, OJK mengumumkan investasi bodong. Pada Desember 2019, Satgas Waspada Investasi mengumumkan penghentian 182 entitas investasi bodong.

Investasi Yang Aman

Apakah setiap investasi itu bodong? Tentu tidak. Ada bentuk investasi lain yang bisa diambil oleh investor pemula yang menginginkan sebuah kepastian return yang aman. Salah satu investasi itu adalah surat berharga negara yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia.

Pada akhir Januari 2020, pemerintah melalui Kementerian Keuangan menerbitkan Savings Bond Ritel (SBR) 009 yang dapat dibeli oleh masyarakat. Surat utang ini bisa dibeli dengan uang minimal Rp1 juta dan maksimal Rp3 miliar.

Jangka waktu investasi SBR-009 (9 adalah nomor seri surat utang ini) adalah selama 2 tahun. Dalam 2 tahun, uang yang kita investasikan tidak bisa diambil. Namun, pemerintah menyediakan fasilitas pencairan awal (early redemption).

Dengan fasilitas itu, investor (pemilik surat utang) yang berinvestasi dengan uang minimal Rp2 juta dapat mendapatkan pelunasan pokok sebelum jatuh tempo. Jumlah maksimal yang dapat diajukan untuk early redemption adalah 50%.

Bunga 6,30% Per Tahun

SBR 009 ini memiliki bunga sebesar 6,30% per tahun. Besaran bunga ini ditetapkan menyesuaikan dengan suku bunga acuan bank sentral (BI 7 Day Reverse Repo Rate) yang kini sebesar 5%. Tingkat bunga yang ditetapkan ini adalah mengambang dengan batas bawah (floating with floor), dengan batas bawah yang ditetapkan adalah 6.3%

Dengan selisih 130 basis points (atau 1,3%), maka bunga SBR ditetapkan 6,3% (5% + 1,3%). Bagaimana apabila bank sentral menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,5% di 2020? Jika demikian, kupon atau bunga yang kita terima akan meningkat menjadi 6,8% (5,5% + 1.3%).

Kondisi itu tidak berlaku apabila Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan menjadi di bawah 5%. Apabila suku bunga acuan diturunkan menjadi 4,5% maka bunga atau kupon yang kita terima tetap 6,3% sesuai dengan batas bawah yang ditetapkan. Bunga sebesar 6,3% itu lebih besar dibandingkan dengan bunga deposito bank kebanyakan.

Perlu diingat, bunga yang kita terima itu akan dipotong pajak sebesar 15%. Besaran pajak itu lebih kecil dibandingkan dengan pajak deposito sebesar 20%.

Simulasi

Berikut ini simulasi investasi SBR-009 dengan nominal sebesar Rp10 juta, bunga 6,3% dan pajak 15%.

Risiko

Tentu saja, tidak ada investasi tanpa risiko. Sama seperti investasi di instrumen lain seperti deposito atau saham, investasi di SBR 009 juga memiliki risiko. Secara umum, ada tiga risiko investasi di instrumen keuangan yang harus diperhatikan yaitu risiko gagal bayar, risiko tingkat bunga dan risiko likuiditas.

SBR tidak memiliki risiko gagal bayar (default risk) karena Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara mengatur jaminan negara untuk membayar kupon dan pokok surat utang, termasuk SBR 009 ini, sampai jatuh tempo. Dana pembayaran kupon dan pokok itu disediakan dalam APBN.

SBR juga tidak memiliki risiko tingkat suku bunga karena surat utang ini mengikuti pergerakan suku bunga acuan dengan jaminan tingkat kupon minimal (floor) sampai jatuh tempo. Lalu apa risiko surat utang ini?

Risiko yang perlu diperhatikan oleh investor adalah risiko likuiditas (liquidity risk). Ini adalah risiko dimana investor tidak dapat menjual atau mencairkan SBR 009 sewaktu-waktu. Dengan kata lain, apabila investor sedang “butuh duit”, uang yang ditanam di SBR 009 ini tidak bisa ditarik sewaktu-waktu seperti menarik tabungan di ATM.

SBR 009 ini juga tidak bisa diperjualbelikan di pasar sekunder seperti Obligasi Ritel Negara atau Sukuk Ritel. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, investor memiliki opsi pencairan uang lebih awal dengan fasilitas early redemption.

Jadwal

Berikut ini jadwal pembelian SBR:

  • 27 Januari 2020: Pembukaan masa penawaran
  • 13 Februari 2020: Penutupan masa penawaran
  • 17 Februari 2020: Penetapan hasil penjualan
  • 19 Februari 2020: Settlement/penerbitan
  • 24 Februari 2021-4 Maret 2021: Periode pengajuan early redemption
  • 10 Maret 2021: Settlement early redemption

“Toko” SBR 009

Di mana kita bisa membeli SBR 009? Pemerintah sudah menunjuk beberapa mitra distribusi (midis), mulai dari bank, perusahaan sekuritas, start-up peer-to-peer (P2P), fintech dan sebagainya. Semua perusahaan ini sudah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan.

Berikut ini daftar midis SBR 009:

Untuk Apa Investasi di SBR 009?

Selain untuk mendapatkan keuntungan, investasi di surat utang adalah salah satu cara kita berpartisipasi dalam pembangunan negara ini. Pemerintah membutuhkan uang untuk membangun negara, apalagi mengingat masifnya pembangunan infrastruktur yang digaungkan oleh pemerintahan Jokowi.

Uang itu bisa diperoleh dari penerimaan negara, termasuk pajak yang kita bayarkan. Namun, penerimaan negara (pajak, bea cukai, pendapatan negara non-pajak dan sebagainya) saja tidak cukup. Pemerintah membutuhkan sumber dana lain.

Salah satu sumber dana itu adalah utang yang “dicari” menggunakan penjualan Surat Berharga Negara, termasuk SBR 009. Dana yang diperoleh dari utang itu akan digunakan oleh pemerintah untuk pembangunan, termasuk pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia dan juga pembangunan infrastruktur.

Berdasarkan nominal minimal investasinya, kita bisa berpartisipasi “hanya” dengan Rp1 juta dan kita akan mendapatkan bunga sebesar 6,30% per tahun. 

Kali ini negara membutuhkan uluran tangan kita untuk ikut berkontribusi ke dalam pembangunan negara. Kamu ikut?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *