Emiten Penyokong Gundala

Jika Hollywood punya Marvel Cinematic Universe (MCU), maka Indonesia baru saja kelahiran BCU alias Bumilangit Cinematic Universe. BCU baru saja di-kick off dengan rilisnya Gundala sebagai pembuka kran bagi film-film superhero lokal lainnya, seperti Godam, Tira, Aquanus, dan masih banyak lagi.

Superhero ini bukan karbitan atau anak kemarin sore. Gundala adalah adaptasi dari komik ciptaan Harya Suryawinata (Hasmi) yang pertama kali muncul pada tahun 1969, yang juga sempat diangkat ke layar lebar pada tahun 1981.

Momen rilisnya terbilang cukup cerdik, yakni beberapa bulan setelah Avengers: Endgame menutup fase 3-nya, fase di mana setelahnya superhero seperti Captain America atau Ironman tidak akan muncul lagi di layar lebar. Para penonton Indonesia merasa kangen dengan kehadiran superhero papan atas dan lahirnya BCU seolah menjadi pelepas dahaga.

Film Gundala bercerita tentang Sancaka yang mendapat kekuatan super setelah disambar oleh petir. Disutradarai oleh Joko Anwar dan dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Tara Basro, Bront Palarae, Ario Bayu, dan Rio Dewanto. Film ini diproduksi oleh Screenplay Films bersama Legacy Pictures.

Dengan deretan bintang dan sutradara papan atas, biaya produksi Gundala pastilah tidak murah. Dilansir dari berbagai sumber, film ini menghabiskan biaya sekitar Rp 30 milyar. Lalu dari mana biayanya? Siapa petir yang menyambar film Gundala hingga dapat lahir ke layar lebar?

Setidaknya, ada 3 emiten yang tercatat sebagai penyokong BCU.

Yang pertama, tentu saja EMTK selaku induk perusahaan dari Screenplay Films. EMTK merupakan  yang membawahi juga beberapa perusahaan media seperti SCTV, Indosiar, Kapanlagi Network, Nexmedia, dan Vidio. Selain media, EMTK juga induk perusahaan bagi Blackberry, dan salah satu e-commerce unicorn Indonesia; Bukalapak.

Screenplay Films merupakan perusahaan film yang lahir sejak 2015. Sebelumnya, mereka banyak bermain di judul-judul remaja, seperti London Love Story, Magic Hour, atau Surat Cinta Untuk Starla. Meski bukan pemain lama seperti Miles atau Starvision, tangan dingin Screenplay Films sudah berhasil melahirkan film-film dengan jumlah penonton di atas 1 juta.

Yang kedua, adalah emiten VIVA, perusahaan media milik keluarga Bakrie. Dikutip dari berbagai sumber, hal ini dilakukan VIVA sebagai bagian dari strategi diversifikasi yang dilakukan perusahaan agar tidak hanya mengandalkan pendapatan dari bisnis televisi free to air (FTA) yang saat ini masih dominan. VIVA merupakan induk perusahaan dari stasiun televisi antv, tvOne, serta portal berita online viva.co.id.

“Investasinya cukup signifikan, ada beberapa investor yang garap bisnis ini, Gundala dan tentunya akan ada series superheroes yang muncul di awal tahun dan pertengahan tahun depan,” kata Direktur Visi Media Asia Neil Ricardo Tobing, saat paparan publik di Menara Bakrie, Selasa (29/5/2019).

Neil mengatakan perseroan berinvestasi melalui anak usahanya, Bakrie Global Ventura. Sayangnya, Neil Enggan menyebut berapa nilai investasinya.

Yang ketiga, yang terakhir, ada ABBA, perusahaan media milik Erick Tohir yang juga menjabat sebagai Executive Producer BCU. ABBA merupakan induk perusahaan dari beberapa media cetak (Republika, Golf Digest), media eletronik (Jak FM, Gen FM), serta media luar ruang (Mahaka Advertising, Alive!). ABBA juga memiliki usaha penerbitan buku, yang merupakan rumah dari salah satu buku best seller sepanjang masa di Indonesia; Ayat-ayat Cinta.

Kolaborasi 3 kartel media ini bukan tanpa sebab. Dengan ambisi merilis 7 film superhero lokal secara beruntun tentu akan mengundang animo dari masyarakat. Dan animo ini tentunya berujung pada datangnya sponsor dan terbukanya kesempatan-kesempatan lainnya.

Dan mari kita berhitung pendapatan dari tiket. Dalam 4 hari setelah rilis, film Gundala telah ditonton lebih dari 700,000 orang. Jika mengambil umur tayang 3 minggu dan rata-rata harga tiket sebesar Rp 30,000, maka film Gundala bisa mengeruk pendapatan sebesar Rp 110 milyar. Bayangkan itu dan kalikan dengan rencana 7 film ke depan.

Memang, ada jatah bioskop selaku distributor di sana. Namun angka ini bisa menjadi acuan bagi ketiga kartel media di atas untuk menarik sponsor atau investor lainnya yang bisa bahu membahu menutup biaya produksi rentetan film dalam BCU.

Jadi, kapan kalian akan nonton Gundala?

PS: Kami menerbitkan e-book kuartalan yang berisi analisa mendalam 15 emiten pilihan yang bisa kamu peroleh di sini. Bagi kamu yang ingin pembahasan salah satu saham tertentu secara eksklusif, kamu bisa memesannya di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *