Strategi Investasi Menghadapi Krisis

Pelemahan kondisi ekonomi adalah hal yang tidak terhindarkan dan biasa terjadi dalam sistem perekonomian suatu negara. Sistem ekonomi memiliki siklus yang membuat ekonomi suatu negara menguat dan melemah secara berulang pada rentang waktu yang tidak dapat diprediksi.

Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu membedakan pengertian antara pelemahan kondisi ekonomi dengan krisis ekonomi yang seringkali sulit dibedakan oleh banyak orang.

Krisis ekonomi atau resesi ekonomi adalah kondisi ketika ekonomi suatu negara tidak bertumbuh atau memiliki angka pertumbuhan ekonomi yang bernilai negatif paling tidak selama 2 kuartal dalam setahun. Terakhir kali Indonesia mengalami resesi ekonomi adalah pada tahun 1997/1998 ketika mayoritas sektor swasta tidak mampu membayar kewajiban utangnya. Saat itu, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar -13.13%.

Sedangkan kondisi pelemahan ekonomi atau kelesuan ekonomi adalah kata lain dari pertumbuhan ekonomi yang melambat, atau ketika pertumbuhan ekonomi suatu negara lebih rendah dari periode sebelumnya, tetapi masih positif. Indonesia beberapa kali mengalami kondisi ini di antaranya pada tahun 2008 dan tahun 2013, yang dipicu oleh krisis ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu lebih lambat ketimbang tahun 2007 dan tahun 2012, namun tetap tumbuh positif.

Sepanjang tahun ini, beberapa negara di dunia tengah mencatatkan perlambatan ekonomi, termasuk Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I dan II bahkan lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi pada periode yang sama tahun lalu. Meskipun belum dapat dikatakan sebagai krisis, tetapi kelesuan ekonomi ini patut diwaspadai.

Selain itu, hal yang mengkhawatirkan juga datang dari beberapa lembaga internasional yang memproyeksikan bahwa terdapat potensi resesi ekonomi AS pada tahun depan yang didukung oleh pelemahan beberapa indikator makroekonomi dan terus berlanjutnya perang dagang.

Potensi resesi yang terjadi di AS juga diprediksi dapat menghambat perekonomian global secara menyeluruh. Seperti halnya resesi pada 2008, krisis yang bermula dari sektor perumahan di AS merambat ke berbagai negara hingga berujung pada kebangkrutan Yunani pada saat itu.

Bagaimana dengan pasar modal Indonesia?

Perlu diakui, kinerja pasar modal cukup sensitif dengan kondisi ekonomi, baik kondisi ekonomi nasional maupun global. Sebagai informasi, nilai IHSG turun cukup dalam ketika krisis pada tahun 1998 dan tahun 2008. Tidak sedikit investor yang memutuskan untuk tidak lagi berinvestasi di pasar modal karena trauma akan kerugian yang dialami pada krisis tahun 2008.

Prediksi akan terjadinya resesi ekonomi tentu memberikan kekhawatiran mengenai pergerakan pasar saham nasional ke depannya. Kondisi ekonomi yang melemah dapat meningkatkan risiko kerugian investasi. Dikhawatirkan, perlambatan ekonomi ini akan berdampak buruk bagi portofolio investor.

Namun, investor tidak perlu khawatir secara berlebihan. Meskipun tidak dapat dihindari, risiko tersebut tetap dapat dihadapi. Keberhasilan investasi di tengah krisis sangat ditentukan oleh penerapan strategi investasi yang disiplin sebagai berikut:

  1. Sesuaikan Profil Risiko

Setiap orang tentu memiliki preferensi risiko yang berbeda. Sebagian investor merasa lebih puas apabila menempatkan sebagian besar asetnya pada instrumen yang berisiko, sementara ada pula investor yang lebih memilih untuk tidak berteman dengan risiko. Tidak ada yang benar dan salah, setiap orang tentu punya karakter yang berbeda. Penting bagi setiap orang untuk mengenal profil risikonya masing-masing sebelum mulai berinvestasi, dan ketika tanda-tanda krisis ekonomi mulai terlihat, profil risiko yang kita miliki penting untuk disesuaikan.

Sebagai contoh, ketika kondisi ekonomi stabil kita menempatkan 60% dari total dana investasi kita ke dalam deposito perbankan, 10% dialokasikan untuk obligasi, sedangkan 30% sisanya dialokasikan untuk investasi saham.

Namun, ketika kondisi ekonomi mulai tertekan, jumlah alokasi ini perlu disesuaikan dengan mengurangi alokasi investasi saham menjadi tinggal 20% untuk kemudian dialihkan kepada investasi yang minim risiko atau dialihkan sebagai persiapan dana darurat.

Penyesuaian risiko dan alokasi pada investasi yang risikonya rendah perlu dilakukan untuk menghindari potensi kerugian, sebab pasar sangat sulit dikontrol dan diprediksi ketika terjadi krisis.

Tetapi, bukan berarti dana investasi saham harus ditarik seluruhnya untuk menghilangkan risiko. Investor yang cerdas tidak akan menarik diri dari pasar bahkan ketika terjadi krisis, sebab investor yang cerdas selalu bisa melihat potensi investasi yang tidak disadari oleh banyak orang.

  1. Diversifikasi

Ketika krisis terjadi, tentu haram apabila kita hanya memegang satu atau dua jenis saham. Perlu ada diversifikasi pada beberapa jenis saham pada sektor yang berbeda. Hal ini diperlukan untuk menghindari kerugian yang besar dari pergerakan saham yang searah. Sehingga kita dapat mengurangi risiko kerugian ketika salah satu sektor mengalami penurunan, sebab dapat diimbangi oleh sektor lain yang mengalami peningkatan.

Diversifikasi tentu tidak selamanya diperlukan, ketika Anda yakin pada suatu saham yang ditunjang oleh kondisi fundamental yang kuat dan kinerja historis yang telah terbukti, maka diversifikasi cenderung tidak perlu dilakukan. Sebab menurut Warren Buffet, diversifikasi hanya dilakukan oleh investor yang tidak memahami dan meyakini apa yang mereka lakukan.

Tetapi, kondisinya tentu berbeda ketika krisis terjadi. Prinsip Warren Buffet yang cenderung tidak menyukai diversifikasi bahkan dinilai gagal ketika menghadapi krisis 2008, saat itu kinerja investasi perusahaan Warren Buffet “dihukum” pasar dengan mengalami kerugian sebesar 9.7% dalam setahun.

Diversifikasi adalah langkah proteksi yang paling efektif dalam menghadapi kondisi pasar yang sulit dikontrol ketika krisis terjadi.

  1. Kondisi Fundamental adalah Prioritas

Dalam kondisi ekonomi yang stabil, mungkin kita punya pengalaman dalam berinvestasi pada perusahaan yang punya kondisi fundamental buruk. Hal itu dilakukan dengan harapan harga sahamnya akan meningkat secara tidak rasional karena isu yang beredar di pasar atau berbagai faktor lain di luar kinerja keuangan perusahaan.

Saat tanda resesi mulai terjadi, kita wajib menghindari perilaku investasi seperti ini. Kita perlu menempatkan investasi pada perusahaan yang memiliki dasar fundamental yang kokoh.

Sederhananya, ketika hembusan angin akan datang, tempat tinggal yang dibangun di atas pasir tentu akan jauh lebih cepat hancur dibandingkan tempat tinggal yang memiliki pondasi bangunan yang kokoh. Demikian juga dengan investasi, investor yang cerdas perlu mempersiapkan diri dalam membangun pondasi yang kuat sebelum badai datang.

Investasi harus ditempatkan pada perusahaan yang punya kinerja keuangan yang kuat dan berada di sektor yang masih bisa tumbuh meskipun krisis terjadi.

  1. Timing

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, kita tidak perlu buru-buru keluar ketika krisis terjadi. Investor hanya perlu mengurangi jumlah yang diinvestasikan sementara waktu. Ya, hanya sementara waktu, sebab kita harus masuk kembali dan meningkatkan jumlah investasi kita pada waktu yang tepat.

Mengapa kita harus investasi lebih besar lagi ketika ada krisis?

Sebab krisis tidak akan terjadi selamanya. Akan ada saatnya ketika kondisi ekonomi mulai mereda, dan dalam proses pemulihannya pasar akan kembali meningkat signifikan setelah mencapai titik terendahnya.

Sumber: Yahoo Finance

Misalnya seperti krisis yang terjadi pada tahun 2008 yang pergerakannya dapat dijelaskan melalui gambar di atas. Pada saat itu, IHSG mencapai titik terendahnya di angka 1,146 pada  November 2008. Sejak saat itu IHSG terus menunjukkan tren peningkatan hingga mencapai rekor di angka 4,130 pada Juli 2011.

Peningkatan yang luar biasa, bukan?  Tidak sedikit investor yang meraup banyak keuntungan setelah memutuskan untuk masuk ke pasar ketika setiap orang memilih untuk bersikap pesimistis. Persoalan yang terpenting adalah penentuan waktu yang tepat untuk kembali masuk ke pasar. Investor harus pandai dalam menilai apakah resesi ekonomi mulai mereda atau akan terus berlanjut.

Strategi ini juga diterapkan oleh Warren Buffet dalam menghadapi krisis tahun 2008. Meskipun mengalami kerugian, Warren Buffet tetap menginvestasikan modalnya pada saham-saham yang punya dasar fundamental yang kuat. Terbukti, perusahaan Warren Buffet berhasil mendapatkan keuntungan bersih lebih dari US$ 10 miliar dari 2009 hingga 2011. Keuntungan ini didapatkan dari perusahaan-perusahaan blue-chip seperti; Goldman Sachs, Bank of America, dan Dow Chemical.

Tanda-tanda resesi atau krisis ekonomi memang sudah terlihat di berbagai negara. Terlepas dari krisis betul-betul akan terjadi atau tidak, tentu kita perlu bersikap bijak dengan melakukan persiapan dalam mengantisipasi risiko.

Kesimpulannya, krisis bukanlah hal yang menakutkan. Krisis sangat bisa dihadapi, dan ketika krisis betul-betul terjadi, you know what to do.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *