Untung Rugi Reksadana

Mari kita mulai dulu dengan definisi reksadana.

Reksadana (mutual fund), adalah produk investasi yang merupakan kumpulan dana dari masyarakat, yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI) untuk diinvestasikan ke dalam berbagai instrumen di pasar modal.

Reksadana ada beberapa jenis, namun di tulisan ini, kami hanya akan membahas empat jenis reksadana yang paling umum. Mari kita mulai dari yang risikonya paling kecil hingga yang paling besar. Perlu diingat, risiko selalu berbanding lurus dengan potential return. Risiko yang besar, pasti akan menghasilkan potensi pengembalian yang besar, dan begitu juga sebaliknya.

  1. Reksadana Pasar Uang
    Yaitu reksadana yang 100% diinvestasikan pada instrumen jangka pendek seperti obligasi dan deposito perbankan. Reksadana ini cocok untuk dijadikan instrumen investasi dalam jangka waktu pendek (kurang dari 1 tahun).
  2. Reksadana Pendapatan Tetap
    Reksadana yang menempatkan investasinya 100% ke instrumen obligasi. Cocok untuk dipegang dalam jangka waktu 1-3 tahun.
  3. Reksadana Campuran
    Reksadana yang menempatkan maksimal 79% pada instrumen saham, obligasi, dan deposito. Reksadana ini cocok untuk investasi jangka menengah antara 3-5 tahun.
  4. Reksadana Saham
    Reksadana yang menempatkan 80% dari dananya di saham. Cocok untuk investasi jangka panjang, di atas 5 tahun.

Prosesnya bagaimana?

Sebuah perusahaan sekuritas menerbitkan reksadana seharga Rp100 dengan 1 juta unit penyertaan. Jika semua reksadana itu laku terjual, maka akan didapatkan uang sebesar Rp100 juta yang nantinya diinvestasikan oleh Manajer Investasi ke instrumen yang telah ditentukan (tergantung jenis reksadananya).

Let’s say, dalam waktu 1 bulan, uang Rp100 juta tadi sudah berhasil menjadi Rp120 juta. Dan kini, harga reksadana tersebut menjadi Rp120 per unit penyertaaan. Harga yang berubah-ubah ini adalah yang disebut dengan Nilai Aktiva Bersih (NAB), atau dalam Bahasa Inggris disebut Net Asset Value (NAV).

Pada kenyataannya, untuk contoh kasus di atas, NAB tidak akan persis Rp120 per unit penyertaan karena masih harus dikurangi biaya operasional reksadana tersebut. Biaya operasional reksadana mencakup fee Manajer Investasi, biaya bank kustodian (bank tempat menyimpan/bertransaksi reksadana tersebut), pajak, dan biaya-biaya lain.

NAB ini akan di-publish secara harian, baik itu di situs sekuritas terkait, atau marketplace reksadana seperti Bareksa atau Infovesta. Jadi, kamu sebagai investor bisa mengetahui berapa nilai investasi (kenaikan/penurunan) yang kamu miliki dengan mengalikan NAB dengan jumlah unit yang kamu punya. Dan biasanya juga, masing-masing perusahaan sekuritas yang menerbitkan reksadana juga menerbitkan prospektus yang berisi detil komposisi penggunaan dana yang dibelikan instrumen apa saja oleh Manajer Investasi.

Belakangan, reksadana sering kali disebut-sebut sebagai instrumen investasi paling cocok untuk pemula. Benarkah demikian?

Jawabannya: Ya dan Tidak. Hal ini benar-benar tergantung dari investornya.

Keunggulan reksadana yang bisa kami lihat ada beberapa:

1. Pilihan produk reksadana yang tersedia.

Ada puluhan sekuritas dan bank di luar sana yang menjual reksadana dengan berbagai merk. Setiap reksadana mempunyai keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Ada banyaknya variasi yang tersedia tentu menjadi sebuah keunggulan bagi calon investor untuk memilih.

2. Tanpa repot.

Dana investasi yang kita keluarkan dikelola oleh seorang Manajer Investasi yang sudah memiliki pengalaman dan sertifikasi yang sesuai. Dan requirements ini cukup ketat dan diawasi OJK. Jadi, bagi kamu yang tidak suka mengawasi pasar, tidak punya waktu atau terlalu sibuk, reksadana adalah pilihan yang cocok.

3. Proses pencairan yang relatif lebih cepat.

Dibandingkan dengan instrumen investasi lain seperti tanah atau properti, tentu reksadana bisa dilakukan lebih cepat. Rata-rata reksadana bisa dicairkan T+7 ( 7 hari kerja, di mana Sabtu, Minggu, dan tanggal merah tidak dihitung).

Namun begitu, kami di Big Alpha tidak terlalu merekomendasikan reksadana karena alasan-alasan berikut:

1. It will cost you.

Dalam reksadana, terdapat biaya-biaya ekstra yang sebenarnya bisa kita eliminasi jika kita langsung berinvestasi secara pribadi. Mulai dari management fee, legal fee, auditor & notary fee, subscription/top up fee, redemption fee, switching fee, dll. Biaya yang paling umum adalah management fee dan bank custodian fee.

Rata-rata, biaya ini berkisar antara 2%-3% per tahun.

Mungkin angka ini terdengar kecil, tapi angka ini akan berdampak secara signifikan dalam jangka panjang. Sebagai contoh, jika uang Rp1M diinvestasikan dengan return 10% per tahun maka di akhir tahun ke-20, uang tersebut akan menjadi sekitar Rp6.7M.

Jika asumsi yang sama kita gunakan, tapi dengan tambahan management fee sebesar 2% per tahun, maka uang yang kita dapatkan di akhir tahun ke-20 hanya Rp4.2M. Coba hitung sendiri menggunakan kalkukator reksadana di sini.

Dan bagian paling buruknya, banyak investor reksadana tidak menyadari hal ini, baik biayanya maupun dampaknya secara jangka panjang.

2. Active Investing.

Hampir sebagian besar reksadana itu adalah active investing, artinya Manajer Investasi yang mengelola dana kita selalu aktif bertransaksi di pasar modal. Hal ini tentu menimbulkan biaya transaksi yang pada akhirnya akan dibebankan kepada unit penyertaan.

3. Underperformed.

Dengan segala metodologi active investing yang digunakan, tentu kita berharap reksadana kita akan memiliki performa yang lebih baik dari index yang dijadikan acuan, bukan? Sayangnya tidak selalu seperti itu. Ada banyak sekali reksadana saham (sebagai contoh) yang memiliki performa lebih buruk daripada index acuan yang digunakan seperti IHSG atau Index LQ45.

Silakan bandingkan sendiri jika tidak percaya. Pilih produk reksadana yang kamu incar, lalu bandingkan performanya terhadap index, apakah berhasil mengalahkan pasar? Jika dengan membayar segala macam fee tersebut di atas namun ternyata tidak berpengaruh terhadap kinerja reksadana tersebut, mengapa kita harus membayar lebih mahal?

4. Investing is not a rocket science.

Investasi bukanlah hal yang super rumit yang membutuhkan analisa yang berlebihan. Ingin beli obligasi contohnya, caranya sudah cukup mudah. Obligasi pemerintah bahkan dijual secara retail setiap tahun.

Ingin beli saham juga sudah tidak kalah mudah. Puluhan perusahaan sekuritas sudah siap melayani bahkan dengan initial deposit yang cukup terjangkau dan aplikasi yg sangat mudah.

Pada dasarnya investasi adalah proses kalkulasi return & risiko yang bisa dilakukan sendiri. Dan sudah terbukti, strategi buy and hold secara jangka panjang memberikan return yang lebih baik daripada active investing. Tapi terkadang, orang-orang sudah malas dan takut duluan untuk belajar.

Jadi, dengan segala plus dan minusnya yang kami bahas di atas, apakah reksadana instrumen yang cocok untuk kamu?

The choice is yours!

***

PS: Kami di Big Alpha sudah menyusun e-book analisa fundamental yang kami anggap undervalue. Untuk period Q2 2019, kamu bisa mendapatkannya di sini. Dan untuk bundle Q1&Q2 2019, kamu bisa mendapatkannya di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *