Memilih Saham dengan Analisa Fundamental Perusahaan

Seperti yang kita bahas pada artikel sebelumnya, saham merupakan instrumen yang memberikan return terbesar jika dibandingkan dengan instrumen investasi lain baik jika dihitung secara aritmetik ataupun geometrik. Namun, tingkat keuntungan saham juga linear dengan tingkat risiko yang dimiliki. Tidak heran apabila risiko penurunan return pada saham juga lebih tinggi dibandingkan dengan instrumen investasi lain.

Salah satu prinsip dalam investasi mengatakan “buy what you know, and know what you buy.”. Namun bagi kami, investor tidak cukup hanya mengetahui. Lebih dari itu, investor perlu memahami betul saham perusahaan yang mereka putuskan untuk dibeli. Risiko dalam investasi saham dapat diantisipasi dengan prinsip “buy what you understand, and understand what you buy”.

Salah satu cara terbaik untuk memahami kondisi perusahaan adalah dengan menggunakan analisa fundamental. Analisa fundamental adalah proses pengambilan keputusan investasi yang didasari oleh kondisi makroekonomi, industri secara keseluruhan, serta kinerja perusahaan terkait.

Analisa fundamental membantah stigma yang mengatakan bahwa investasi saham sama halnya dengan “bermain judi” atau “hoki-hokian aja”. Sebab perlu dipahami, pergerakan saham tidak mengacu kepada keberuntungan yang tidak berdasar, tetapi didasari oleh kualitas kinerja perusahaan yang pergerakannya dapat diprediksi melalui analisa fundamental.

Analisa fundamental memberikan investor pemahaman, perusahaan mana yang layak untuk dibeli, dan perusahaan mana yang tidak layak untuk dibeli. Perusahaan yang punya kinerja keuangan dan non-keuangan yang baik akan memberikan return yang positif, sedangkan perusahaan yang punya kinerja buruk akan “dihukum” oleh pasar.

Kriteria Perusahaan yang Memiliki Fundamental Baik

  • Dipimpin oleh Manajemen yang Berkualitas

Salah satu hal paling mendasar dalam memilih perusahaan adalah dengan memahami latar belakang direksi, komisaris, dan pemilik saham mayoritas yang mengelola perusahaan tersebut. Meskipun tidak secara langsung mempengaruhi kinerja bisnis dan keuangan perusahaan, namun latar belakang manajemen dapat menentukan kualitas arah perusahaan ke depan.

Sebagai contoh, terdapat salah satu grup keluarga yang menguasai konglomerasi bisnis di Indonesia selama puluhan tahun, bahkan perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan grup ini sempat menguasai pasar modal hingga mencapai puncaknya pada tahun 2006. Tidak jarang perusahaan yang dikelola oleh grup ini menghiasi indeks LQ45 atau indeks yang diisi oleh saham yang paling laku di pasar.

Namun, setelah melalui masa keemasannya, grup ini lebih banyak terlibat dalam masalah keuangan. Persoalan utang yang terus menumpuk dari tahun ke tahun, korupsi di tubuh perusahaan, hingga perusahaan yang terus merugi membuat perusahaan-perusahaan ini tidak lagi dilirik oleh investor. Bahkan beberapa perusahaan dikategorikan sebagai saham “gocap” atau saham yang paling tidak laku di pasar.

Sebagai investor, latar belakang pengelola perusahaan penting untuk menentukan prospek perusahaan. Apabila manajemen memiliki latar belakang yang bermasalah, tentunya investor tidak ingin mempercayakan asetnya untuk diinvestasikan pada pengelola perusahaan yang bermasalah.

  • Kinerja Pertumbuhan Pendapatan yang Stabil

Kondisi fundamental yang dimiliki oleh suatu perusahaan akan tercermin pada kinerja pendapatan dan laba perusahaan tersebut. Perusahaan yang secara fundamental baik akan mencatatkan pendapatan dan profit yang stabil dan terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Sedangkan perusahaan yang fundamentalnya buruk kerap mengalami penurunan pendapatan dan sulit untuk menghasilkan profit.

Sebagai contoh, kita akan melihat grafik kinerja pendapatan dan laba bersih (Bank Rakyat Indonesia) BBRI dan (Krakatau Steel) KRAS dalam 5 tahun terakhir sebagai berikut:

Secara historis, BBRI mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang stabil dan konsisten menghasilkan laba bersih dari tahun ke tahun. Sehingga secara fundamental, investor dapat mempercayakan asetnya pada perusahaan ini untuk diinvestasikan sebagai mesin pencetak uang bagi investor.

Berbeda dengan BBRI, KRAS cenderung mengalami perolehan pendapatan yang kurang stabil dari tahun ke tahun. Bahkan dalam 5 tahun terakhir perusahaan tidak dapat menghasilkan profit. Apabila anda menemukan perusahaan dengan grafik pendapatan seperti ini, artinya perusahaan tersebut tidak memiliki kondisi fundamental yang baik. (Artikel ini tidak dalam kapasitas untuk mendiskreditkan suatu emiten, melainkan ditujukan sebagai pembelajaran untuk investor. Perlu dipahami bahwa persoalan yang dialami oleh Krakatau Steel lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal yang tidak akan dibahas di artikel ini)

  • Nilai Rasio Keuangan Lebih Baik Ketimbang Rata-Rata Industri dan Sektornya

Perusahaan yang secara fundamental baik, tentunya akan mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan rata-rata industri. Bahkan tidak jarang perusahaan yang memiliki kondisi fundamental baik berperan sebagai market leader di industri tersebut.

Untuk melakukan perbandingan pada industri, investor tidak lagi perlu menganalisa setiap emiten yang beroperasi pada industri tersebut. Investor kini dapat terbantu oleh berbagai platform investasi yang memberikan perbandingan kinerja antara perusahaan dengan industri secara keseluruhan.

Sebagai contoh, kita akan menggunakan analisa perbandingan (Unilever Indonesia) UNVR yang disediakan oleh Reuters:

Sumber: Reuters

Berdasarkan kemampuan perusahaan dalam mencetak laba, UNVR memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan rata-rata industri dan sektornya. Misalnya pada rasio Net Profit Margin (NPM, kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih), UNVR memiliki nilai NPM sebesar 21.62% lebih baik dibandingkan industri sebesar 21.58%, bahkan jauh di atas sektor sebesar 14.10%.

Industri dan sektor punya pengertian yang sedikit berbeda. Industri adalah kumpulan perusahaan yang kondisinya mirip dengan UNVR, sedangkan sektor adalah kumpulan perusahaan yang beroperasi di segmen bisnis yang sama dengan UNVR. Dapat dikatakan, perusahaan yang punya kinerja keuangan di atas rata layak untuk dibeli oleh investor karena memiliki kondisi fundamental yang juga di atas rata-rata.

Tidak hanya rasio profitabilitas, investor juga perlu membandingkan rasio harga, rasio likuiditas, rasio utang, dan rasio efisiensi perusahaan dengan industri dan sektor, yang akan dibahas pada artikel-artikel berikutnya.

  • Pertumbuhan Arus Kas Operasional yang Konsisten

Arus kas adalah salah satu alat yang digunakan untuk mengukur kualitas fundamental perusahaan. Seperti yang telah dibahas pada artikel sebelumnya, arus kas operasional merupakan tolak ukur bagaimana kemampuan perusahaan dalam menghasilkan uang melalui model bisnisnya secara terus menerus.

Perusahaan yang secara fundamental baik, akan mencatatkan nilai arus kas operasional yang stabil dan tumbuh secara konsisten. Sedangkan perusahaan yang punya kondisi fundamental meragukan, cenderung memiliki nilai arus kas operasional yang fluktuatif, sulit untuk bertumbuh, atau bahkan menghasilkan nilai arus kas negatif dalam beberapa periode.

Dari beberapa indikator tersebut, secara umum kita dapat menentukan saham apa yang layak untuk dibeli dan dipertahankan secara jangka panjang. Meskipun masih ada banyak indikator dalam analisa fundamental yang belum sempat dibahas dalam artikel ini, tetapi empat indikator tersebut setidaknya telah memberikan gambaran penting mengenai kualitas saham suatu perusahaan.

Apakah saham yang kamu pegang sekarang memenuhi empat indikator di atas?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *