IPO Bali United (BOLA), Menarik?

Hari ini, ada sebuah sejarah baru tercipta di pasar modal Indonesia. Untuk pertama kalinya, saham sebuah klub sepakbola melantai di bursa melalui proses yang kita sebut Initial Public Offering (IPO).

Klub itu bernama: Bali United, atau PT. Bali Bintang Sejahtera Tbk. 

Saham Bali United diperdagangkan di bursa dengan kode BOLA. Langkah ini cukup menarik, mengingat Bali United adalah klub sepakbola pertama di ASEAN yang mendaftarkan sahamnya ke bursa untuk diperdagangkan.

Dan di hari pertama sahamnya diperjualbelikan, harganya langsung meroket 69%, atau naik 121 poin dari harga IPO nya di Rp175 per lembar saham.

Lalu apakah saham BOLA ini menarik untuk investor saham? Apa yang membuatnya berbeda dengan saham-saham lain yang ada di bursa?

Untuk itu mari kita membedah perusahaan ini lebih jauh dengan membaca prospektusnya. Dan pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Siapa Bali United ini? Dan apa tujuan perusahaan untuk masuk ke bursa?

Perusahaan ini baru berdiri lima tahun lalu sebagai klub sepakbola yang menjalankan usahanya sebagai klub olahraga sepakbola. Lini usahanya secara gamblang bisa dibagi menjadi tiga bagian.

  1. Usaha sebagai klub bola
  2. Menjual barang-barang eceran peralatan olahraga (merchandising)
  3. Aktivitas konsultasi manajemen.

Tapi yang merupakan core business perusahaan adalah poin nomor 1 dimana kegiatan operasional utama perusahaan akan seputar pengolaan klub sepakbola, akademi, sport agency dan lain-lain.

BOLA melepas harga sahamnya di harga Rp175 per lembar saham dengan harapan mengumpulkan uang tunai sebesar Rp350 miliar dari pasar modal. Uang tunai ini ditujukan untuk berbagai macam tujuan, antara lain:

  1. Sekitar 19.1% akan digunakan sebagai belanja modal, yakni pengembangan fasilitas dan peralatan di stadion, pengembangan fasilitas latihan dll.
  2. Sekitar 20.4% akan digunakan untuk memperkuat struktur modal kepada anak perusahaan. Yakni anak-anak perusahaan yang bergerak di bidang hospitality (café dan restoran), media, gaming house dan radio.
  3. Dan sisanya sekitar 60.5% akan digunakan sebagai modal kerja perusahaan, yakni dimaksudkan untuk merekrut pemain atau pelatih, penyelenggaraan event dll.

Oke, setelah memahami maksud penggunaan dana hasil IPO, mari kita lanjut ke pertanyaan berikutnya: Apakah saham BOLA layak untuk dibeli?

Sebelum itu, kami ingin mengingatkan sebuah konsep yang sudah berulang kali kami tulis di sini, yakni pada dasarnya, membeli saham adalah membeli kepemilikan sebuah perusahaan. Dan harga saham secara jangka panjang akan mengikuti kinerja fundamental perusahaan tersebut.

Dengan memahami konsep tersebut, maka harga saham Bali United (BOLA) akan naik jika, dan hanya jika, klub tersebut mencatatkan kinerja yang baik. Dan barometer kinerja yang baik untuk sebuah klub sepakbola bukanlah dengan membuat makanan yang enak bagi pengunjung restorannya, bukan juga dengan membuat acara yang bagus untuk radio anak perusahaan, atau dengan membuat merchandise dengan kualitas terbaik.

Satu-satunya capaian kinerja sebuah klub bola adalah prestasi dan popularitas klub tersebut. Prestasi itulah yang pada akhirnya merembet ke hal-hal yang lain seperti bertambahnya fans, meningkatnya penjualan merchandise, ramainya café milik perusahaan dan lain-lain.

Peningkatan prestasi itulah yang akan mengerek pendapatan perusahaan yang didapat dari penjualan tiket pertandingan, sponsor, pendapatan hak siar, peningkatan jumlah pertandingan dll.

Dan untuk Bali United sendiri, pendapatan mereka di tahun 2018 naik drastis dibandingkan tahun 2017 akibat membaiknya prestasi mereka dimana mereka berhasil menduduki posisi runner-up Liga 1 tahun lalu.

Di tahun 2018, pendapatan mereka sebesar Rp115 miliar atau naik 119% dari pendapatan mereka di tahun 2017 sebesar Rp52.5 miliar.

Dan posisi balance sheet mereka juga tidak terlalu buruk, dimana aset mereka lebih besar daripada tingkat utang mereka. Hal ini berarti kondisi likuiditas BOLA dalam kondisi yang cukup baik. Aset mereka mayoritas berisi oleh kas dan setara kas, investasi jangka pendek, persediaan, dan piutang pihak ketiga dimana kewajiban mereka berisi utang usaha, dan beban akrual gaji pemain.

Total aset mereka sejumlah Rp146 miliar dimana total liabilitas mereka sebesar Rp28 miliar.

Berarti saham BOLA layak dibeli, dong?

Tunggu dulu!

Saat ini saham BOLA dijual sudah di harga Rp296 per lembar saham, dengan 6 miliar jumlah saham yang beredar, kapitalisasi pasar BOLA sudah mencapai Rp1.78 triliun!

Padahal asetnya hanya berjumlah Rp146 miliar. Jadi total aset perusahaan ini tidak sampai 10% dari nilai perusahaannya di pasar. Dengan demikian, BOLA dijual hampir 14 kali nilai bukunya (PBV).

Dengan laba sebesar Rp5 miliar tahun 2018 yang lalu, dan dengan jumlah saham yang beredar sebanyak 6 miliar lembar saham, berarti laba per lembar saham (Earning Per Share) BOLA hanya sekitar Rp1 per lembar.

Dengan demikian, PE ratio BOLA sudah 296x, atau anda membeli sebuah saham dengan harga 296 kali laba bersih yang akan anda terima per tahun.

Dengan bahasa sederhana, untuk memahami PE ratio, jika kinerja perusahaan ini stagnan tanpa ada perbaikan untuk tahun-tahun ke depannya, maka dibutuhkan waktu 296 tahun bagi investor hanya untuk mengembalikan modalnya saja.

This is unbelievably expensive!

Dengan rasio seperti ini, BOLA (Bali United) sudah dihargai jauh lebih mahal dari HMSP (Sampoerna) sekali pun.

Tapi itu dengan asumsi BOLA tidak bisa mengembangkan prestasinya.

But let’s be real for a moment, sejauh apa klub sepakbola di Indonesia bisa mengembangkan prestasinya dengan kondisi saat ini?

Untuk meningkatkan pendapatan, baik itu dari tiket maupun sponsor, prestasi Bali United harus lebih baik dari tahun lalu di mana mereka bisa menjadi runner-up Liga. Berarti tahun ini Bali United harus bisa menjadi juara liga.

Dan ketika nanti Bali United bisa juara liga, maka mungkin akan bisa juara AFC Champions League (kompetisi antar juara di liga negara-negara Asia), maka mungkin akan bisa melaju ke Piala Dunia Antar Klub bertemu juara Eropa, juara Amerika dan lain-lain.

Jika Bali United belum bisa juara liga, berarti mereka tetap akan berlaga dan berusaha untuk melaju jauh di piala AFC (liga kelas dua di bawah level AFC Champions League) di mana tahun lalu, Bali United duduk di posisi buncit klasemen grup G di Piala AFC.

Maka ketika kondisi yang disebutkan di atas bisa diraih, BOLA akan kelimpahan sponsor dan pendapatan mereka akan meningkat drastis.

Tapi mengingat target itu masih terlalu jauh untuk digapai, dalam jangka pendek mari berharap BOLA akan menjadi sebuah klub yang dijalankan professional, dimana profitabilitas mereka bisa naik dengan perlahan seiring dengan membaiknya prestasi dan efisiensi yang mereka lakukan.

Bagaimanapun, langkah BOLA untuk listing di bursa adalah langkah yang sangat baik untuk menjadi contoh bagaimana sebuah klub bola hendaknya dikelola. Dengan mengambil langkah seperti ini, para supporter juga bisa menjadi bagian dari klub tercintanya dengan ikut membeli saham klub tersebut.

Dengan listing di bursa, ada serangkaian peraturan yang harus dipenuhi sebagai perusahaan publik yang akan membuat Bali United lebih transparan, dan dikelola secara profesional.

Semoga langkah ini bisa ditiru oleh klub-klub bola daerah lain, demi iklim persepakbolaan nasional yang lebih baik. Sehingga mimpi kita untuk melihat timnas berlaga di Piala Dunia semakin dekat.

Tapi untuk membeli sahamnya sekarang? Jangan, masih sangat mahal!

Atau kalian ada pendapat lain?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *