Analisa Saham PT. Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE)

Pada saat kami menyusun e-book Q4 2018 yang lalu, ada satu perusahaan yang harusnya menjadi penghuni terakhir dari 15 emiten yang masuk ke dalam e-book tersebut.

Emiten tersebut adalah PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE). Emiten ini menarik buat kami karena mereka mencatatkan kinerja yang sangat baik di 2018. Tapi karena dalam beberapa minggu terakhir saham ini sudah rally, dan ada saham lain yang mencatatkan kinerja sama baiknya tapi belum naik terlalu jauh, WEGE harus tersisih dari e-book tersebut.

Tapi kami tetap merasa WEGE adalah ‘barang bagus’ yang layak untuk dimiliki. Potensi kenaikannya tetap terbuka mengingat kinerjanya yang apik.

Okay, let’s start from the beginning.

Dari namanya, harusnya kita sudah tau bahwa perusahaan ini adalah anak perusahaan konstruksi milik pemerintah, Wijaya Karya (WIKA) yang juga listing di bursa. WEGE bergerak dalam jenis usaha konstruksi, pengelolaan dan penyewaan gedung/kawasan niaga terpadu, investasi properti dan industri pendukung konstruksi bangunan gedung.

Mayoritas dari proyek yang sudah diselesaikan WEGE adalah pembangunan bandara, gedung rumah sakit, gedung kampus, dan beberapa apartemen di beberapa kota besar di Indonesia.

Kalau Alpha Investors sudah rutin membeli dan membaca e-book yang kami keluarkan, pasti kalian semua bisa menarik benang merah dari emiten-emiten yang kami analisa.

Semua emiten-emiten yang biasanya kami analisa mempunyai beberapa karakteristik yang sama, yang juga bisa kami temukan di emiten ini. Karakteristik tersebut apa aja? Mari kita bahas satu per satu:

  1. Cash Rich

Ini selalu menjadi salah satu indikator yang paling kami sukai. Sebuah perusahaan yang memiliki uang tunai berlimpah, menandakan keuangannya sehat dan tidak memiliki risiko likuiditas (kemampuan untuk membayar kewajiban jangka pendek). Dengan tumpukan uang tunai yang dimiliki, mereka bisa melunasi utang, mengakuisisi perusahaan lain, mengembangkan bisnis mereka atau bahkan buyback saham mereka yang ada di pasar. WEGE pun demikian, per 31 Desember 2018, uang tunai milik WEGE sebesar Rp1.7 triliun.

Uang tunai yang mereka punya ini, sudah hampir mencapai 50% dari kapitalisasi mereka di pasar yang mencapai Rp4 triliun.

  1. Minim Hutang.

Karakteristik ini menjadi penting untuk melihat solvabilitas (kemampuan membayar kewajiban jangka panjang) dan going concern perusahaan ke depan. Apakah dia akan terus profit untuk tahun-tahun mendatang? Bagaimana jika kinerja mereka memburuk? Apakah dia akan tetap mampu membayar cicilan utang beserta bunganya?

Tingkat utang yang tinggi dapat menyebabkan kondisi keuangan perusahaan menjadi tidak stabil, karena beban bunga yang harus dibayar bagaimana pun kondisi bisnis perusahaan ke depannya.

Perusahaan yang memiliki tingkat utang bank yang rendah menjadi indikator keuangan yang kami amati berikutnya.

And guess what, saat ini WEGE tidak memiiliki utang bank sama sekali. Berdasarkan laporan keuangan terakhir mereka, utang yang dimiliki WEGE hanya berupa utang usaha kepada para supplier-nya. Padahal, di akhir tahun 2017 WEGE masih memiliki utang bank sebesar Rp564 miliar. Artinya, WEGE berhasil membabat habis utang bank mereka hingga tidak bersisa di akhir tahun 2018.

Ini juga menandakan kemampuan WEGE untuk mencatatkan nilai tunai yang sangat besar. Dan benar saja, net CFO (cash flow from operating activities) WEGE tahun 2018 mencapai Rp878 miliar.

Uang tunai sebesar Rp878 miliar ini adalah uang yang diterima dari pelanggan, hasil dari aktivitas operasi core bisnis perusahaan. Bukan cuma laba secara akuntansi saja.

  1. Laba bersih yang bertumbuh.

Akibatnya, hal ini tercermin dari laba bersih perusahaan tahun lalu. Net profit WEGE naik 50% dari Rp294 miliar di tahun 2017, menjadi Rp444 miliar di tahun 2018.

  1. Dihargai murah di pasar (menawarkan value lebih).

Di harganya sekarang, Rp418 per lembar, kapitalisasi WEGE ‘hanya’ Rp 4 triliun. Artinya, WEGE dijual di pasar sebesar Rp 4 triliun saja, padahal aset lancarnya sudah di angka 5.2 triliun. Aset lancar yang mereka miliki memang jauh melebih aset tidak lancar (tanah, bangunan dll) yang tercatat sebesar Rp616 miliar.

FYI, aset lancar adalah aset yang tingkat likuiditasnya berumur kurang dari 1 tahun, seperti uang tunai, piutang, uang muka, dll. Jadi bayangkan membeli sebuah perusahaan seharga 4 triliun, lalu aset lancarnya 5.2 triliun.

Udah untung 1.2 triliun tanpa modal. Amazing, isn’t it?

  1. ROE yang sudah double digit.

Di tahun 2018, Return On Equity (ROE) WEGE sudah mencapai 21%. Level ROE ini bisa dianggap bagus sekali karena sulit menemukan ROE sebesar ini untuk perusahaan konstruksi (dan turunannya) yang ada di bursa.

Jadi, kira-kira berapa laba WEGE tahun 2019 nanti? Dan berapa harga sahamnya?

Kita bisa menghitungnya menggunakan angka dari laporan keuangan WEGE tahun 2018.

Di tahun 2019 ini, WEGE menargetkan untuk tumbuh sekitar 25% dibandingkan tahun lalu. Mereka menargetkan pendapatan sebesar Rp7.72 triliun dibandingkan dengan Rp5.8 triliun di 2018.

Net Profit Margin (NPM) WEGE ada di level 7.63% di tahun 2018.

Dengan asumsi level NPM itu tetap sama di tahun ini, dan target pendapatan WEGE tahun ini sebesar Rp7.72 triliun tercapai. Maka laba WEGE tahun 2019 kira-kira akan sebesar Rp589 miliar atau sekitar Rp61 per lembar sahamnya (Earning Per Share, laba bersih dibagi dengan jumlah saham yang beredar sebesar 9.57 miliar lembar).

EPS WEGE di 2018 kemarin adalah Rp46, dan harganya sahamnya sekarang adalah Rp418 yang mencerminkan PE ratio 9x. Dengan menggunakan PE ratio yang sama, maka saham WEGE pun akan meningkat ke Rp550, dengan asumsi kinerjanya sesuai harapan (menggunakan asumsi EPS 2019 forecast sebesar Rp61 per lembar tadi).

So there you go, perusahaan konstruksi milik negara, tidak punya utang, uang tunai berukuran jumbo, cashflow positif, dan sedang dijual murah.

Harga WEGE sudah naik tinggi dalam beberapa minggu terakhir, hingga bisa memecahkan rekor all time high.

Analisa kami, harga WEGE akan sulit untuk turun lagi mengingat kinerjanya yang sudah sangat baik. Kecuali jika terjadi gonjang ganjing di pasar seperti tahun 2018 lalu, itu pun kami anggap kecil kemungkinan untuk terjadi lagi di tahun ini.

Apalagi setelah nanti pemilu selesai, dan segala ketidakpastian terhadap pemerintahan berakhir, maka dipastikan bursa akan kembali naik. Jadi, jika anda tertarik untuk memiliki WEGE, solusi terbaik adalah dengan cara mencicilnya, sambil berharap adanya koreksi untuk saham ini.

 

PS: Proses PO e-book kuartalan BigAlpha sudah kembali dibuka. E-book ini berisi 15 emiten pilihan yang kami anggap undervalue dibandingkan dengan kinerjanya. Emiten-emiten tersebut akan dianalisa menggunakan prinsip value investing seperti analisa WEGE di atas. Anda bisa mendapatkannya di link ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *