Pentingkah Litbang (Research and Development) terhadap Kinerja Saham?

Terlepas dengan kontroversi cuitan CEO BukaLapak di twitter, benarkah litbang (Research and Development) meningkatkan harga saham?

Kalau pernah belajar manajemen stratejik atau keuangan perusahaan, Yahoo, Nokia, ataupun Blackberry selalu menjadi contoh bagaimana perusahaan yang tidak berinovasi tenggelam di ketatnya pasar. Alur ceritanya selalu sama. Contohnya: Nokia. Perusahaan yang menjadi Raja telepon genggam di tahun 1990an hingga 2000an ini dituduh terlambat beradaptasi dengan sistem operasi telepon pintar (smartphone) yang berdampak terhadap kehilangan pasar. Tapi apakah benar Nokia tidak memiliki anggaran litbang?

Yang selalu dilupakan oleh orang awam adalah Nokia tetap memiliki anggaran besar untuk litbang terutama untuk sistem “Symbian”. Namun, Symbian ini ternyata memiliki kemampuan terbatas dan tidak mampu menandingi Sistem lainnya terutama iOS-nya Apple. Ya, Nokia masih memiliki anggaran litbang tetapi tetap produk hasil litbangnya kalah dengan kompetitornya.

Contoh lainnya adalah Twitter. Ketika Twitter jor-joran di litbang, ternyata hal tersebut tidak memberikan efek terhadap pendapatan. Bahkan harga saham twitter jatuh dalam di tahun yang sama ketika twitter menganggarkan 80% pendapatan untuk litbang. Lalu di tahun 2016, Twitter mulai mengurangkan anggaran litbang, dan kini harga saham twitter mencapai harga tertinggi sejak 2016.

Kalau begitu, bagaimana sebenarnya pengaruh litbang terhadap harga saham?

Begini, secara teori (rational expectation theory), setiap orang memiliki ekspektasi bahwa anggaran litbang akan menghasilkan profit di masa depan. Logikanya adalah litbang akan menghasilkan produk baru. Lalu produk baru tersebut menciptakan pasar baru yang mungkin menggantikan pasar yang sudah jenuh. Outcome-nya adalah peningkatan pendapatan. Tapi, apa benar demikian?

Ada tiga hal yang harus dicermati dengan baik untuk hubungan antara litbang dan harga saham. Pertama, litbang tidak selalu menghasilkan produk baru yang pasti akan diterima oleh pasar. Nokia adalah contoh untuk masalah ini. Bisa jadi litbangnya berhasil seperti kasus Apple. Tapi, bisa juga gagal.

Kedua, keluaran (output) dari litbang baru dapat dilihat setelah bertahun tahun. Artinya, anggaran yang besar untuk litbang akan terus menggerus pendapatan dalam jangka panjang; dan itupun belum tentu akan berhasil (lihat kembali poin pertama).

Ketiga, meskipun memiliki anggaran litbang yang besar, hal tersebut tidak akan mempengaruhi peningkatan harga saham dalam jangka pendek. Artinya, jika emiten mempublikasikan anggaran litbang mereka yang jor-joran, hal tersebut tidak akan berpengaruh terhadap harga saham emiten tersebut dalam jangka pendek. Jikapun ada, hal tersebut lebih kepada faktor sentiment ataupun herding.

Lalu apa solusinya? Sebenarnya efek litbang terhadap harga saham sangat sesuai untuk Value investor. Karena kinerja keuangan perusahaan yang berhasil dalam litbang akan terlihat pada Sales (penjualan). Peningkatan penjualan ini menyebabkan PER yang rendah dibandingkan dengan PER Industri. Kenapa demikian? Litbang yang telah dilakukan bertahun tahun memiliki breakthrough dan disambut baik oleh konsumen. Oleh karena itu, lebih aman untuk berinvestasi dengan strategi Value investing untuk menangkap kinerja litbang terhadap harga saham.

Tambahan:

  1. Buat yang ingin belajar lebih jauh tentang efek inovasi terhadap harga saham, boleh coba belajar dari jurnal ini:
  2. Eberhart, A. C., Maxwell, W. F., & Siddique, A. R. (2004). An examination of long‐term abnormal stock returns and operating performance following R&D increases. The Journal of Finance59(2), 623-650.
  3. Sood, A., & Tellis, G. J. (2009). Do innovations really pay off? Total stock market returns to innovation. Marketing Science28(3), 442-456.
  4. Grieco, D. (2018). Innovation and stock market performance: A model with ambiguity-averse agents. Journal of Evolutionary Economics28(2), 287-303.
  5. Teori mengenai ekspektasi di atas namanya Teori Ekspektasi Rasional atau Rational Expectation Theory (https://www.investopedia.com/terms/r/rationaltheoryofexpectations.asp)
  6. Dalam film “Barbarian at the Gate” juga ada sentilan mengenai litbang dan harga saham ( https://en.wikipedia.org/wiki/Barbarians_at_the_Gate:_The_Fall_of_RJR_Nabisco)
  7. Herding adalah perilaku investor yang mengikuti aksi investor lainnya. Misalnya, Investor A akan membeli Saham ABCD karena pasar sedang sibuk membeli saham ABCD atau karena investor besar sedang membeli saham tersebut

Disclaimer: On

Pemesanan e-book Q4 2018 masih terus dibuka. Info lengkapnya dapat dibaca di sini atau ketik langsung di browser kalian bit.ly/ebookbigalpha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *