Mengenal Saham Multibagger

Dalam banyak grup Telegram atau situs finansial lokal maupun luar negeri, penuh istilah-istilah saham yang terdengar asing di telinga. Salah satunya adalah ‘multibagger stocks’ atau saham multibagger.  Mungkin banyak dari kita di sini yang belum mengerti istilah tersebut.

Karena kami belum menemukan padanan resmi dalam Bahasa Indonesia untuk ‘multibagger stocks’, maka kita sebut saja sebagai saham multibagger.

Secara sederhana, saham multibagger adalah saham yang memberikan return berkali lipat dari harga perolehannya. Pada dasarnya, saham multibagger adalah saham yang undervalue dan memiliki fundamental yang kuat.

Istilah ini dimunculkan oleh Peter Lynch di bukunya yang diterbitkan tahun 1988 yang berjudul ‘One Up on Wall Street’ dari istilah olahraga baseball di mana ‘bags’ atau ‘basis’ adalah poin yang harus dilalui pemain untuk mencapai sukses dalam permainan.

‘Two bagger’ berarti dua kali lipat dari investasi awal, ‘ten bagger’ berarti memberikan sepuluh kali lipat, dan seterusnya. Dan sejak itu pula istilah multibagger muncul dan digunakan oleh praktisi pasar modal dunia.

Ada beberapa investor terkemuka yang sudah berhasil menemukan saham-saham multibagger di portfolionya. Salah satunya, bapak value investing dunia, Warren Buffet.

Saham multibagger yang pernah Warren Buffet miliki adalah saham Wells Fargo, sebuah perusahaan perbankan dan financial service di Amerika Serikat. Warren Buffet membeli saham Wells Fargo seharga $290 juta di tahun 1990, di mana saat itu sektor perbankan Amerika sedang bergejolak. Warren Buffet bisa membeli saham tersebut dalam kondisi diskon dibandingkan harga pasarnya. Ketika sektor tersebut pulih dari krisis, value saham Wells Fargo pun naik dan berlipat ganda yang memberikan Warren Buffet keuntungan sekitar 9.417%! Now that’s what we call a multibagger!

Untuk investor lokal, Lo Kheng Hong adalah investor saham multibagger yang paling diketahui publik. Investor lokal yang meniru gaya investasi Warren Buffet ini pernah beberapa kali memiliki saham multibagger. Yang paling terkenal tentu saja ketika beliau membeli saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI), saham perusahaan ternak yang kini sudah bergabung dengan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).

Lo Kheng Hong diketahui membeli saham MBAI pada tahun 2005 saat harganya masih Rp250 per saham, sebanyak 6,2 juta lembar saham, atau sekitar 8,28% dari total kepemilikan. Berarti, modalnya saat itu sebesar Rp1,55 miliar.

Sekitar tahun 2011, beliau menjualnya pada harga rata-rata sebesar Rp31.500, dan menikmati keuntungan 12.500% atau sebesar Rp195,8 miliar!

Lalu pertanyaannya : Bagaimana kita bisa menemukan saham-saham multibagger?

Berikut beberapa tips yang kami kumpulkan dari beberapa sumber:

  1. Apakah perusahaan masih memiliki potensi untuk berkembang di masa depan? Caranya adalah dengan mencari sektor apa yang masih akan berkembang 5-10 tahun ke depan. Lalu mencari saham apa yang paling undervalue di sektor tersebut.
  2. Level hutang perusahaan harus berada di level yang wajar. Tidak ada standar pasti dalam hal ini karena level hutang perusahaan bisa bervariasi tergantung industrinya.
  3. Periksa kinerja keuangan periode sebelumnya dan bandingkan pertumbuhannya.
  4. Pelajari sumber utama pemasukan perusahaan. Apakah segment operasi utama perusahaan terus bertumbuh? Apakah bisa ditingkatkan lagi?
  5. Dan ini kunci yang paling utama : Long term perspective adalah jalan utama bagi saham multibagger. Sama seperti Warren Buffet yang menahan saham Wells Fargo selama bertahun-tahun, atau seperti Lo Kheng Hong yang cuan besar dari MBAI setelah menahan sahamnya selama enam tahun.

Jadi, apakah sekarang kalian tertarik untuk menemukan dan membeli saham multibagger?

PS : Big Alpha akan merilis e-book kuartalan yang berisi analisa 20 emiten pilihan yang kami anggap undervalue atau berpotensi undervalue. Anda bisa memesannya dengan mengklik tautan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *