Mengenal Saham Defensif

Dalam berinvestasi saham, ada baiknya kita tidak hanya membeli satu jenis saham dengan semua uang yang kita miliki.

Kita hendaknya membeli beberapa jenis saham untuk menyebar risiko investasi yang kita dapat. Logikanya sederhana, tidak semua saham akan naik dalam satu jangka waktu tertentu. Ketika suatu sektor sedang naik, ada sektor lain yang adem ayem saja atau bahkan sedang dalam trend turun.

Oleh karena itu, membeli saham dalam beberapa sektor adalah suatu langkah mitigasi risiko yang bisa seorang investor lakukan.

Strategi ini disebut juga dengan diversifikasi portfolio. Secara umum, diversifikasi portfolio tidak hanya bisa dilakukan untuk saham saja, tetapi bisa diterapkan juga untuk instrumen investasi lain. Contoh: mencampur portfolio investasi kita antara saham dengan emas, saham dengan properti, dll.

Tapi untuk kali ini, mari kita fokus kepada investasi saham.

Salah satu strategi diversifikasi saham yang bisa dilakukan adalah dengan memiliki saham-saham defensif dalam portfolio yang kita miliki. Saham defensif adalah saham suatu perusahaan yang kinerjanya tidak terpengaruh dengan kondisi perekonomian dunia ataupun nasional.

Berbeda dengan saham-saham lain yang bergerak dalam sebuah siklus, saham-saham defensif memiliki karakteristik yang berlawanan. Oleh karena itu, saham defensif juga disebut dengan saham non-siklikal.

Karena saham-saham ini memang seolah kebal terhadap siklus ekonomi.

Bandingkan saja dengan saham-saham sektor batubara.

Saham-saham dari jenis industri ini sangat bergantung kepada harga jual acuan batubara dunia. Ketika permintaan batubara dunia rendah, harga akan turun, penjualan perusahaan akan seret dan berujung kepada menurunnya laba perusahaan.

Dan otomatis, harga saham perusahaan-perusahaan batubara pun tiarap sebagai imbasnya. Hal ini pernah terjadi di tahun 2015 yang lalu. Tapi ketika harga jual batubara dunia membaik, kinerjanya juga terkerek, saham-saham perusahaan batubara juga dengan cepat melesat.

Saham defensif tidak memiliki karakteristik seperti ini.

Kinerjanya cenderung stabil dan tahan banting terhadap gejolak ekonomi. Hal ini disebabkan karena saham-saham perusahaan defensif bergerak di kebutuhan primer dan sekunder, yakni kebutuhan yang akan terus tetap ada apapun situasi ekonomi yang kita hadapi. Contohnya makanan dan consumer goods.

Permintaan untuk kebutuhan primer akan terus ada, apapun situasi ekonomi yang sedang kita hadapi. Contohnya adalah saham Unilever (UNVR) yang memproduksi sabun, shampoo dan kebutuhan dasar lainnya.

Tidak mungkin kan kita akan berhenti mandi dan sikat gigi ketika krisis ekonomi terjadi? Demand untuk barang-barang yang diproduksi UNVR akan tetap ada apapun situasi ekonominya.

Contoh lain saham defensif yang ada di bursa kita adalah Jasa Marga (JSMR). Saham BUMN di bidang konstruksi dan pengelolaan jalan tol ini adalah contoh saham defensif yang kami masukkan dalam e-book kuartalan Big Alpha kuartal satu yang lalu. Ketika itu, harganya masih mondar-mandir di level Rp4100an, bahkan sempat turun ke 3900an.

Menurut kami, saham JSMR ini murni turun karena sentimen jual yang sedang melanda IHSG. Karena jika kita pikirkan dengan matang, kinerja JSMR tidak akan terlalu terpengaruh dengan siklus ekonomi di Indonesia. Orang-orang akan tetap menggunakan jalan tol untuk pemindahan barang dan manusia, yang merupakan sumber pemasukan utama JSMR.

Apalagi dengan maraknya kampanye transaksi non-tunai di hampir semua jalan tol milik Jasa Marga. Langkah ini dipercaya akan secara signifikan mengurangi biaya operasional mereka dan berujung pada meningkatnya laba perusahaan.

Dan benar saja, saham defensif pilihan kami ini sudah hampir menembus Rp5000 hanya dalam beberapa bulan saja, alias sudah naik sekitar 20% dari level harga awal analisa kami.

JSMR dalam 6 bulan terakhir

Dengan karakteristik dan fluktuasinya yang minim seperti ini, saham-saham defensif tidak cocok untuk investasi jangka pendek. Mereka lebih cocok dipegang dalam timespan yang lebih panjang.

Hal ini tentu saja sesuai untuk investor dengan toleransi risiko yang lebih rendah, yakni tipe-tipe investor yang mencari saham dengan risiko minim tetapi tetap menjanjikan cuan yang tinggi dalam jangka panjang.

Saham-saham defensif ini sangat cocok untuk dibeli ketika ada sentimen luar yang mempengaruhi IHSG. Panic selling di bursa yang terjadi bisa jadi momentum untuk membeli saham-saham defensif incaran anda. Contohnya saham JSMR yang pernah kami analisa di atas.

Sebagai kesimpulan, seorang investor harus bisa memilih saham-saham defensif apa yang layak untuk masuk dalam portfolionya.

Cara memilihnya cukup mudah, anda cukup melatih diri untuk lebih jeli dalam melihat kondisi di sekitar kita. Apa produk yang terus kita gunakan setiap hari terlepas dari kondisi ekonomi yang sedang terjadi? Cari tau siapa perusahaan yang menjual produk tersebut kemudian beli sahamnya.

Selain UNVR dan JSMR, ada beberapa saham defensif lain yang ada di bursa kita. Dengan penjelasan kami di atas, apakah Alpha Investors bisa menyebutkan contoh lain dari saham-saham defensif yang kami maksud?

Coba tulis di kolom komentar saham defensif pilihan anda dan kenapa menurut anda saham itu masuk kategori saham defensif.

 

PS : Kami akan segera menerbitkan e-book kuartalan Q2 yang berisi 20 perusahaan di bursa yang kami anggap undervalue. Analisa 20 emiten ini dilakukan menggunakan laporan keuangan terbaru mereka. Proses PO nya sudah dibuka dan anda bisa memperolehnya di tautan ini.

5 Replies to “Mengenal Saham Defensif”
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *